Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia pada 2026 diperkirakan melanjutkan tren penguatan hingga menembus US$6.000 per troy ounces setelah mencetak kinerja gemilang sepanjang 2025.
Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan memasuki 2026, sejumlah lembaga keuangan global bahkan mulai menaikkan proyeksi harga emas mereka.
Tiffani menjelaskan bahwa peningkatan proyeksi tersebut dipicu oleh risiko geopolitik yang masih tinggi serta permintaan struktural dari bank sentral di berbagai negara.
Alhasil dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global.
"Secara keseluruhan, harga emas diperkirakan berada di kisaran US$5.500 hingga US$6.000 per troy ounces pada akhir 2026 dengan volatilitas diperkirakan tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global," ujarnya dikutip, Kamis(12/3/2026).
Pada tingkat institusi, sejumlah bank investasi global juga menunjukkan pandangan optimistis. Goldman Sachs merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400 per troy ounces, dari sebelumnya US$4.900.
Revisi tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari investor swasta maupun bank sentral.
J.P. Morgan bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$6.300 per troy ounces pada kuartal IV/2026. Sementara Morgan Stanley memperkirakan rata-rata harga emas berada di sekitar US$4.600, dengan skenario bullish mencapai US$5.700 pada paruh kedua 2026.
Tiffani menyebut sepanjang 2025 menjadi salah satu periode terbaik bagi emas dalam beberapa dekade terakhir. Kinerja tersebut sekaligus mempertegas peran emas sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sepanjang 2025, harga emas tercatat melonjak sekitar 64% dan mencetak 53 kali rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Rekor harga tertinggi tercatat pada 26 Desember 2025 di level US$4.550 per troy ounces, dengan rata-rata harga tahunan sekitar US$3.431 per troy ounces.
Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global juga tetap besar, yakni mencapai sekitar 863 ton sepanjang tahun tersebut.
Menurut Tiffani, lonjakan harga emas pada 2025 didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik. Salah satu pemicu utama adalah kebijakan moneter yang lebih longgar, termasuk tiga kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dengan total 75 basis poin melalui keputusan Federal Open Market Committee (FOMC).
Selain itu, berbagai ketegangan geopolitik juga turut mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Beberapa di antaranya adalah konflik Timur Tengah antara Israel dan Iran, perang Rusia–Ukraina, serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China.
Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga juga turut meningkatkan minat investor untuk mengalihkan sebagian portofolio ke emas.





