El Nino Mengintai, Balai Dalkarhut Giatkan Pencegahan Karhutla

republika.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Jabalnusra Kementerian Kehutanan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Barat seiring prediksi fenomena El Nino yang berpotensi terjadi pada pertengahan 2026. Langkah pencegahan dilakukan melalui peningkatan patroli, pembinaan masyarakat peduli api (MPA), serta pemantauan titik panas berbasis satelit.

Kepala Seksi Wilayah I Balai Dalkarhut Jabalnusra, Kurniawati Negara mengatakan, pencegahan menjadi strategi utama karena sebagian besar kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dipicu aktivitas manusia.

Baca Juga
  • Mencekam! Manggala Agni Berhadapan dengan Harimau saat Padamkan Karhutla Riau
  • Lima Daerah di Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla
  • Manggala Agni Padamkan 50 Hektare Karhutla di Riau

“Kalau kawasan hutan yang tidak ada manusianya jarang terjadi kebakaran. Di Indonesia hampir 99 persen kebakaran hutan dan lahan dipicu aktivitas manusia,” kata Kurniawati saat berbincang dengan Republika di Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/3/2026).

Wilayah kerja Seksi Wilayah I Balai Dalkarhut mencakup Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari ketiga wilayah tersebut, Jawa Barat menjadi daerah dengan tingkat kejadian karhutla tertinggi sehingga menjadi fokus kegiatan pencegahan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Data Balai Dalkarhut menunjukkan total luas kebakaran hutan dan lahan di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada periode 2018–2025 mencapai sekitar 35.770 hektare. Di Jawa Barat, wilayah dengan indikasi luas kebakaran terbesar, antara lain, Kabupaten Majalengka sekitar 9.028 hektare, Indramayu sekitar 8.159 hektare, dan Subang sekitar 3.970 hektare.

Tren luas kebakaran di Jawa Barat juga menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi kondisi iklim. Pada 2019 luas kebakaran tercatat sekitar 9.554 hektare yang bertepatan dengan fenomena El Nino. Setelah sempat menurun pada periode 2020–2022, luas kebakaran kembali meningkat pada 2023 hingga sekitar 11.524 hektare sebelum turun menjadi sekitar 4.548 hektare pada 2024 dan sekitar 1.610 hektare pada 2025.

Kurniawati mengatakan, pola tersebut menunjukkan bahwa kondisi iklim kering dapat meningkatkan risiko kebakaran sehingga langkah pencegahan harus diperkuat sejak dini.

“Karena mencegah itu lebih baik daripada memadamkan. Oleh karena itu kegiatan kami banyak difokuskan pada desa-desa yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi,” ujar Kurniawati.

Salah satu strategi utama adalah memperkuat sinergi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang menjadi ujung tombak pengendalian karhutla di tingkat tapak. Hingga kini terdapat sekitar 30 kelompok MPA yang telah dibentuk di wilayah kerja Balai Dalkarhut Wilayah I.

Selain pembentukan kelompok, Balai Dalkarhut juga melakukan pembinaan MPA melalui pelatihan pencegahan kebakaran, penggunaan peralatan pemadaman, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya desa agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Kurniawati menjelaskan,  Manggala Agni memiliki peran penting tidak hanya dalam pemadaman tetapi juga dalam edukasi masyarakat. “Tugas Manggala Agni bukan hanya memadamkan kebakaran, tetapi juga menyampaikan kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan penyebabnya,” kata Kurniawati.

Balai Dalkarhut juga menggelar simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan bersama Manggala Agni, masyarakat, serta instansi terkait. Simulasi ini dilakukan antara lain di Kabupaten Kuningan pada Februari 2026 guna melatih kesiapsiagaan personel dan penggunaan peralatan pemadaman.

Selain itu, petugas melakukan patroli rutin sekaligus sosialisasi kepada masyarakat mengenai larangan pembakaran lahan. Kampanye pencegahan juga dilakukan melalui pemasangan papan peringatan, penyebaran materi edukasi, serta kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah yang berada di sekitar kawasan hutan.

Upaya pencegahan turut diperkuat melalui pemantauan titik panas menggunakan sistem Sipongi+ yang memanfaatkan data satelit. Melalui sistem ini, petugas memantau hotspot setiap hari dan segera menyampaikan informasi kepada pemerintah daerah serta pengelola kawasan jika terdeteksi indikasi kebakaran.

“Kami melakukan pemantauan hotspot setiap hari. Jika ada indikasi titik panas yang mengarah pada kebakaran, informasi segera kami sampaikan kepada pemangku kawasan agar dapat ditindaklanjuti di lapangan,” ujar Kurniawati.

Balai Dalkarhut turut memanfaatkan data meteorologi dari BMKG untuk memetakan potensi kebakaran berdasarkan tingkat kekeringan bahan bakar alami seperti semak kering dan alang-alang. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang yang dipicu El Nino.

Dengan kombinasi pemantauan teknologi, patroli lapangan, serta penguatan peran masyarakat, pemerintah berharap risiko karhutla di Jawa Barat dapat ditekan menjelang puncak musim kemarau 2026.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Appi Sidak Pasar Pabaeng-baeng, Pastikan Stok Aman Jelang Idulftiri
• 14 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Reaksi Mahalini, Namanya Dicatut Buat Promosi Nyeleneh Aldi Taher
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
RI Siapkan Alternatif Sumber Impor Minyak di Tengah Konflik Timur Tengah
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
IDAI: Rumor Negatif Vaksin di Media Sosial Picu Penurunan Imunisasi Anak
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pansus DPR Sebut RUU Hukum Perdata Internasional Jadi Pintu Atur Kepentingan Hukum Antarnegara
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.