Sebagian wilayah Indonesia berada di kawasan cincin api yang rawan gempa. Dalam banyak kejadian, korban gempa mengalami cedera atau luka akibat tertimpa material bangunan yang berat, termasuk genting atap.
Berangkat dari persoalan itu, para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan genting komposit berbasis limbah biomassa seperti serat kelapa dan sampah kelapa sawit. Material ini dirancang lebih ringan dibandingkan genting konvensional, namun tetap kuat sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk hunian di wilayah rawan gempa.
“Banyak kejadian saat gempa bumi, penghuni rumah mengalami cedera karena tertimpa genting yang berat," kata Peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Sukma Surya Kusumah dikutip dari siaran pers BRIN, Senin (12/3). Inisiatif pengembangan genting komposit ini juga dilatarbelakangi potensi biomassa Indonesia yang sangat besar.
Selain meningkatkan keamanan bangunan, genting komposit biomassa bisa menjadi alternatif material yang lebih ramah lingkungan dan aman dari segi kesehatan. Material atap konvensional, seperti asbes, diketahui memiliki risiko kesehatan karena dapat mengganggu sistem pernapasan hingga berpotensi memicu kanker.
Lebih Ringan dari Genting KonvensionalSalah satu keunggulan utama genting komposit ini terletak pada bobotnya. Genting tanah liat konvensional umumnya memiliki berat sekitar 32 kilogram per meter persegi, sedangkan genting komposit biomassa yang dikembangkan BRIN hanya sekitar 4 kilogram per meter persegi.
Meski jauh lebih ringan, genting tersebut diklaim mampu menahan beban hingga sekitar 50 kilogram, sehingga masih aman ketika diinjak saat perawatan atap rumah. Genting ini juga diklaim tahan air, memiliki ketahanan api dengan laju pembakaran lebih lambat, serta harga yang relatif kompetitif.
Material utama genting komposit ini berasal dari limbah biomassa, seperti serat kelapa dan sampah kelapa sawit. Sedangkan bahan perekatnya menggunakan material alami, antara lain tanin, asam sitrat, sukrosa, dan molase yang berasal dari limbah pengolahan tebu.
Untuk memastikan kualitas produk, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, mulai dari uji sifat fisis dan mekanis, uji ketahanan cuaca, hingga uji ketahanan terhadap api.
Sejak riset dimulai pada 2021, genting komposit biomassa juga telah melalui uji lapangan selama satu tahun. “Hasil uji lapangan menunjukkan produk ini mampu bertahan dengan baik,” ujar Sukma.
Saat ini tim peneliti masih melanjutkan pengujian untuk mengetahui daya tahan produk secara lebih panjang, yang diperkirakan dapat mencapai 10 hingga 20 tahun.
Dalam proses pengembangan genting ini, BRIN menggandeng beberapa mitra di antaranya PT Coir Indonesia Global sebagai pemasok serat kelapa, perusahaan sawit sebagai penyedia tandan kosong kelapa sawit, serta PT Baja Tangguh Lestari sebagai mitra produksi genting komposit.




