JAKARTA, KOMPAS.com — Ketupat menjadi salah satu hidangan yang hampir tidak pernah absen dalam perayaan Lebaran di Indonesia.
Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur ini tidak hanya menjadi pelengkap sajian khas Idul Fitri, tetapi juga telah menjelma menjadi simbol budaya yang melekat dalam tradisi masyarakat.
Ketupat biasanya disajikan bersama berbagai menu khas Lebaran seperti opor ayam, rendang, hingga sambal goreng ati. Kehadirannya bukan sekadar makanan pendamping, melainkan bagian dari ritual kebersamaan keluarga saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Baca juga: Cerita Driver Ojol di Bandung Sambut THR Lebaran: “Yang Penting Bisa Masak Ketupat”
Menjelang Lebaran, tradisi tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas masyarakat yang mencari janur atau kulit ketupat di pasar maupun dari pedagang di pinggir jalan.
Banyak keluarga yang masih mempertahankan kebiasaan memasak ketupat untuk disantap bersama keluarga maupun tamu yang datang bersilaturahmi.
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis, menilai tradisi ketupat Lebaran tetap bertahan hingga kini karena berkaitan erat dengan pengalaman dan memori keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi yang bertahan karena memori keluargaRissalwan menilai salah satu faktor utama yang membuat tradisi ketupat bertahan adalah ingatan kolektif dalam keluarga yang terus dipelihara.
“Keluarga-keluarga ini memelihara ingatan kolektif, tapi juga ada memori yang bersifat biologis. Lidah, baunya, harumnya, itu yang membuat ini menjadi tradisi yang dipelihara," kata Rissalwan saat dihubungi, Rabu (11/3/2026).
Menurut dia, ketupat tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman masa kecil yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena tidak dikonsumsi setiap hari, ketupat justru menjadi makanan yang selalu dirindukan ketika Lebaran tiba.
“Jadi sesuatu yang dirindukan, karena dia bukan makanan yang dimakan setiap hari. Itu yang membuat dia bertahan," kata dia.
Baca juga: Tradisi Belanja Baju Lebaran yang Kembali Ramaikan Pasar Tanah Abang
Ketupat menjadi simbol LebaranSelain sebagai makanan khas, ketupat juga telah menjadi simbol yang identik dengan perayaan Lebaran di masyarakat.
Rissalwan menjelaskan, simbol tersebut bahkan hadir dalam berbagai representasi budaya populer, seperti dekorasi maupun kartu ucapan Lebaran.
“Identik dengan Lebaran, dan kemudian juga dalam budaya kontemporernya juga simbol-simbol lebaran, selain bintang, bulan, pasti ketupat," ujar dia.
Ia menambahkan, simbol ketupat kerap muncul secara tidak sadar dalam berbagai visualisasi yang berkaitan dengan Lebaran.
“Kalau kebanyakan kartu Lebaran pasti ketupat. Jadi ada hal atau memori yang secara tidak sadar ditanamkan di benak kita, memang identik dengan ketupat," ungkap dia.
Baca juga: Alasan Warga Beli Air Zamzam di Tanah Abang: Dari Oleh-oleh hingga Konsumsi Pribadi
Munculnya pedagang janur menjelang LebaranMeningkatnya tradisi membuat ketupat menjelang Lebaran juga berkaitan dengan munculnya pedagang janur di berbagai sudut kota. Janur digunakan sebagai bahan utama untuk menganyam kulit ketupat.
Menurut Rissalwan, meningkatnya jumlah pedagang janur merupakan konsekuensi dari naiknya permintaan masyarakat.
“Supply-nya jadi meningkat juga karena demandnya meningkat. Pasti ada kaitannya peningkatan itu, karena permintaannya naik hampir setiap rumah," kata dia.





