Grid.ID - Dedi Mulyadi dicegat puluhan mahasiswa yang demo banjir di Bekasi. Respon Gubernur Jabar jadi sorotan gegara ini.
Ada momen tak terduga saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Kota Bekasi. Dedi Mulyadi dicegat puluhan mahasiswa yang berdemo soal banjir di Kota Bekasi.
Terbaru, Dedi Mulyadi dicegat puluhan mahasiswa yang demo banjir di Bekasi. Respon Gubernur Jabar jadi sorotan gegara ini.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi hadir sebagai tamu istimewa dalam rapat paripurna DPRD Kota Bekasi yang digelar untuk memperingati hari jadi ke-29 Kota Bekasi. Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan pidato yang membahas berbagai perkembangan pembangunan infrastruktur serta langkah-langkah pengendalian banjir yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi.
Gubernur Jawa Barat yang akrab dipanggil KDM itu juga menyinggung sekaligus memberikan apresiasi terhadap sejumlah kemajuan yang terjadi di Kota Bekasi. Beberapa hal yang disorot di antaranya visi pengelolaan kota, sejarah kawasan perairan, konsep penataan sungai, hingga pembangunan polder air yang tengah dikerjakan oleh Pemkot Bekasi sebagai bagian dari upaya mengatasi banjir.
Ironisnya, setelah menghadiri acara tersebut, perjalanan pulang Dedi Mulyadi justru dihadang oleh puluhan mahasiswa yang tengah melakukan aksi demonstrasi. Kelompok mahasiswa tersebut menggelar aksi untuk menyampaikan aspirasi mereka terkait efektivitas pembangunan polder serta persoalan lingkungan di Kota Bekasi.
Saat menerima kritik dari para mahasiswa, Dedi Mulyadi justru memilih mendekati mereka. Gubernur Jawa Barat itu bahkan turun langsung dan meminta perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan pendapatnya secara langsung kepadanya.
Dedi Mulyadi kemudian melakukan dialog bersama sejumlah perwakilan mahasiswa di tengah kerumunan massa demonstran yang dijaga ketat oleh aparat keamanan.
Kritik dan Aspirasi Demonstran
Para peserta aksi yang terdiri dari mahasiswa tersebut menyoroti bahwa banjir masih kerap terjadi di sejumlah wilayah Kota Bekasi. Mereka menilai, meskipun pemerintah telah menjalankan program strategis berupa pembangunan polder air, langkah tersebut dianggap belum memberikan dampak yang signifikan.
Sebagai informasi, polder air atau sistem polder merupakan metode pengendalian banjir yang terintegrasi dengan memanfaatkan tanggul di sekeliling kawasan, kolam retensi, serta pompa air untuk mengatur ketinggian permukaan air di wilayah dataran rendah.
Sistem ini bekerja dengan memisahkan pengelolaan air di suatu kawasan dari lingkungan sekitarnya, sehingga air hujan atau air pasang dapat ditampung terlebih dahulu di kolam, kemudian dipompa keluar agar tidak menimbulkan banjir meski wilayah tersebut berada di bawah permukaan laut.
Terkait hal itu, para mahasiswa menilai pembangunan polder yang ada belum mampu menjadi solusi terhadap persoalan banjir dan dinilai belum berjalan secara optimal. Mereka juga menyoroti bahwa debit air banjir di beberapa lokasi justru semakin besar dan ketinggiannya lebih parah dibandingkan banjir yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kemarin banjir masih terus terjadi Pak Gubernur di Kota Bekasi, padahal Pak Wali Kota ini punya program strategis yang diberi nama polder air, akan tetapi polder air ini tidak menjawab Pak Gubernur,” ujar mahasiswa tersebut, dikutip dari tayang Youtube Dedi Mulyadi.
Mahasiswa tersebut kemudian menjelaskan bahwa aksi demonstrasi yang mereka lakukan bertujuan untuk meminta penjelasan langsung dari Wali Kota Bekasi. Namun, menurut mereka, upaya tersebut justru dihindari oleh pihak yang bersangkutan sehingga terkesan tidak ingin menemui atau berdialog dengan para peserta aksi.
Respons Dedi Mulyadi
Menanggapi keluhan yang disampaikan para mahasiswa itu, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan tanggapan yang mampu meredakan kekecewaan para demonstran. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan peninjauan serta evaluasi secara teknis bersama para ahli guna mencari solusi terbaik demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.
“Nanti kita akan evaluasi problem-nya di mana saja secara teknis, karena evaluasi ini kan harus teknis, harus sama ahli pengairan ya,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi juga menyampaikan bahwa proses evaluasi tersebut dilakukan sekaligus untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang ada. Selanjutnya, salah satu mahasiswi yang menjadi perwakilan sempat melontarkan pertanyaan bernada candaan mengenai kepastian waktu yang dapat dijanjikan oleh Dedi Mulyadi ataupun pemerintah daerah.
Mahasiswi tersebut menilai bahwa hingga kini persoalan banjir belum menunjukkan solusi yang benar-benar nyata. Ia bahkan menambahkan bahwa volume dan ketinggian air banjir pada tahun ini dinilai lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun ini lebih banyak pak, sama aja ada gak evaluasinya,” ujar mahasiswi tersebut.
Lantas, Dedi Mulyadi kembali meredam bahwa evaluasi tersebut dilakukan bertahap.
“Kita kan evaluasi gak bisa sekaligus, kita lakukan secara bertahap ya,” tanggap Dedi Mulyadi.
Percakapan antara Dedi Mulyadi dan para mahasiswa yang menggelar aksi tersebut ditutup dengan imbauan agar para peserta demonstrasi tetap menjaga ketertiban sehingga tidak menghambat arus lalu lintas di Kota Bekasi. Pada akhirnya, para mahasiswa tampak melunak setelah Dedi Mulyadi menyampaikan komitmennya untuk melakukan evaluasi terhadap persoalan yang mereka sampaikan.
Peristiwa kehadiran Dedi Mulyadi dalam sidang pemerintah daerah yang kemudian diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa itu menggambarkan adanya dinamika antara jalannya birokrasi pemerintahan dengan kritik sosial dari masyarakat. (*)
Artikel Asli



