Menapak Basah di Ujung Peradaban Sumba Barat

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Di tengah minggu yang selalu dibanjiri hujan, aku tengah menunggu jemputanku tiba. Bersama dengan teman-temanku, aku dijadwalkan untuk pergi ke Kampung Sodana. Sebuah kampung yang menjadi awal peradaban manusia di Sumba Barat. Pada pukul sebelas siang jemputanku tiba. Sebuah panter (mobil pick up) siap menampung kami dalam perjalanan dua jam kedepan. Di tengah perjalanan kami mencari warung untuk memberi kopi, gula dan rokok sebagai persembahan kepada ketua adat di sana. Namun, mobil pick up kami diterpa hujan hingga pakaian dan perlengkapannya basah kuyup. Di tengah perjalanan, mobil tidak mampu melalui jalan menuju Kampung Sodana. Dalam keadaan hujan deras, aku terpaksa keluar dari mobil dan berjalan di medan yang berkelok, licin dan terjal. Tas yang berisi selimut, air 1.5 liter dan pakaian ini aku bawa sambil terengah-engah. Teringat bahwa aku bukan orang yang senang olahraga berat.

Perjalanan aku ditemani oleh teman kami, yakni kakak dari tempat tinggal kami selama di Desa Wetana, berlagak menjadi tour guide lokal dengan pengalaman segudang. Kak Morgen sudah lebih dari 10 kali datang ke Kampung Sodana. Ia bercerita bahwa ia pergi ke Kampung Sodana untuk mengikuti acara adat. Terpana adalah satu kata yang aku bisa gambarkan dari pemandangan yang aku lewati. Gerombolan kerbau dilepas begitu saja di tepi jurang penuh rumput, seperti antara hidup dan mati di mana secara sengaja ditempatkan di tepi jurang namun untuk makan siang. Melihat sekeliling dari atas tepi jurang seperti berada di dalam pesawat menunduk dari kaca pesawat dan terpampang pesona alam perpaduan pantai, pepohonan dan rumah ada. Rumah alang khas Pulau Sumba bersebelahan dengan pantai, seakan jaraknya hanya sejengkal saja.

Keringat membanjiri badanku. Bertempur dengan air hujan yang turun tanpa izin menerpaku. Ketika akhirnya aku sampai di kampung Sodana, aku tidur di salah satu rumah warga. Aku tidur beralaskan bambu dengan kandang domba di bawah rumah. Air hujan menjadi pasokan air utama di kala itu. Sungguh merasa beruntung hujan turun karena mampu menjadi cadangan untuk membersihkan diri.

Pada malam hari, aku bersama teman-teman dijamu dengan makanan khas Sumba oleh komunitas Hakola Sumba. Komunitas tersebut berfokus pada program pendidikan kontekstual yang telah menerbitkan buku kamus budaya Sodana. Buku ini diterbitkan dengan tujuan agar dunia luar memahami budaya Sodana yang berbeda dari budaya Sumba lainnya. Setelah perkenalan hangat bersama komunitas Hakola Sumba malam itu, obrolan kami berlanjut hingga larut. Suara hujan yang masih setia turun menjadi latar yang menenangkan, seolah menyelimuti kampung dengan rasa damai

Keesokan paginya, udara terasa begitu segar. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah alang, dan suara ayam berkokok menjadi alarm alami yang membangunkanku. Aku bersiap untuk mengunjungi kepala suku. Aku berjalan menyusuri jalan tanah yang masih basah, melewati halaman rumah yang dihiasi batu kubur leluhur. Setibanya di rumah kepala suku, kami disambut dengan senyum ramah dan dipersilakan duduk melingkar.

Kepala suku mulai bercerita tentang tugasnya sebagai penjaga adat dan penengah konflik. Ia menjelaskan bagaimana setiap keputusan penting di kampung selalu melibatkan musyawarah dan ritual tertentu. Budaya saling menghormati dan bergotonggotong royong menjadi fondasi kehidupan sehari-hari. Mendengarkan penjelasannya membuatku menyadari betapa eratnya hubungan masyarakat dengan tradisi yang mereka pegang.

Setelah itu, kami diajak berkeliling kampung. Dalam kampung tour tersebut, kami diperkenalkan dengan berbagai pamali yang harus dihormati. Kami diingatkan untuk tidak sembarangan menunjuk makam leluhur, menginjak suatu area tertentu, tidak berbicara keras di area tertentu, dan selalu meminta izin sebelum memasuki rumah. Setiap aturan bukan sekadar larangan, melainkan bentuk penghormatan terhadap keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur.

Ternyata, hari itu bertepatan dengan proses pemasangan alang untuk atap salah satu rumah. Beberapa warga bekerja bersama, memanjat rangka rumah sambil menyusun alang dengan hati-hati. Kami dijelaskan bahwa rumah-rumah di kampung ini sepenuhnya berasal dari alam. Atap terbuat dari alang-alang yang dikeringkan, lantai dari bambu atau kayu, dan tali-tali pengikat dibuat dari serat tumbuhan hutan. Setiap bagian dirakit dengan pengetahuan turun-temurun, tanpa paku modern, tetapi mampu bertahan hingga puluhan tahun. Melihat proses itu membuatku kagum akan kearifan lokal yang selaras dengan lingkungan.

Siang harinya, kami bertemu dengan Mama Ani yang sedang duduk di beranda rumah sambil menenun. Benang-benang berwarna tersusun rapi di alat tenun tradisional, membentuk pola yang rumit namun indah. Mama Ani tersenyum dan mempersilakan kami duduk di sampingnya. Ia dengan sabar menjelaskan makna motif yang ditenun; setiap garis dan warna merepresentasikan cerita, doa, dan identitas keluarga.

Sore mulai turun ketika kami mengakhiri kegiatan hari itu. Duduk di depan rumah sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna, aku merasakan rasa syukur yang mendalam. Perjalanan ke Kampung Sodana bukan sekadar perjalanan fisik melewati jalan licin dan hujan deras, melainkan perjalanan batin untuk memahami arti kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan kekayaan tradisi yang hidup dalam masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perbaikan Jalur Alternatif Mudik di Cianjur Ditarget Selesai H-7 Lebaran
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Setelah Praperadilan Ditolak, Eks Menag Gus Yaqut Diperiksa di KPK Kamis Ini
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Konstruksi Perkara Gus Yaqut Terbuka, Menyesakkan Dada
• 39 menit lalujpnn.com
thumb
Intip Cara Kerja GoPay Pinjam, Solusi Mudah di Tanggal Tua
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gay Bunuh Gay di Batam: Motif Cemburu karena Ada Pria Ketiga
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.