Pentagon mengatakan kepada para anggota parlemen Amerika Serikat (AS) bahwa enam hari pertama operasi militer AS terhadap Iran telah menelan biaya lebih dari 11,3 miliar dolar AS (Rp190,756 triliun).
Melansir Antara, berdasarkan laporan The New York Times, Rabu (11/3/2026), dalam rapat tertutup antara Pentagon dan Kongres AS di Capitol Hill, Amerika Serikat, tiga pejabat Pentagon menyebut data tersebut merupakan perkiraan awal paling lengkap yang diterima Kongres sejauh ini.
Namun, angka itu belum mencakup berbagai biaya lain, seperti penguatan peralatan dan personel militer sebelum serangan pertama.
Imbasnya, para anggota parlemen bipartisan memperkirakan jumlah itu akan meningkat secara signifikan seiring Pentagon terus menghitung biaya yang terakumulasi selama pekan pertama menurut laporan tersebut.
Adapun serangan awal itu menggunakan berbagai senjata, termasuk bom luncur berpemandu dengan kemampuan presisi tinggi AGM-154, yang harganya berkisar dari 578.000 – 836.000 dolar AS (Rp9.766-14.121 miliar) per unit.
Laporan itu juga menyebut bahwa Angkatan Laut AS membeli kurang lebih 3.000 unit bom tersebut sekitar dua dekade yang lalu.
Lebih lanjut, The New York Times dan The Washington Post sebelumnya melaporkan, sejumlah pejabat Pentagon menyampaikan kepada Kongres AS bahwa militer negara itu menggunakan berbagai amunisi senilai sekitar 5,6 miliar dolar AS hanya dalam dua hari pertama serangan, yang dilancarkan bersama oleh AS dan Israel pada 28 Februari.(ant/ily/bil/ham)




