Mengenal Mazhab 12 Imam, Agama Resmi Iran dan Cabang Syiah Terbesar

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Perang Iran yang dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026 kini telah memasuki hari ke-13. Operasi tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi sekaligus tokoh sentral umat Muslim Syiah dunia, Ayatullah Ali Khamenei.

Iran telah lama dikenal sebagai bangsa dengan populasi Muslim Syiah terbesar di dunia.

Masyarakatnya mayoritas mengikuti cabang Syiah Mazhab Ja’fari atau yang lebih dikenal sebagai Mazhab 12 Imam. Signifikansi mazhab ini bahkan dipatrikan secara permanen dalam konstitusi negara mereka, yang menegaskan statusnya sebagai agama resmi Teheran.

“Agama resmi Iran adalah Islam dan sekolah [mazhab] Ja'fari Dua Belas Imam [dalam usul al-Din dan fiqh], dan prinsip ini akan tetap tidak berubah untuk selama-lamanya,” demikian bunyi Pasal 12 Konstitusi Republik Islam Iran.

Berdasarkan estimasi data dari Kementerian Luar Negeri AS, sekitar 90% hingga 95% penduduk Iran adalah Muslim Syiah, dengan mayoritas mutlak merupakan pengikut Mazhab Ja’fari. 

Lantas, apa sebenarnya karakteristik dari mazhab yang menjadi identitas utama rakyat Iran ini? Berikut adalah ulasan lengkapnya.
  Mengenal Mazhab Syiah Dua Belas Imam
Lukisan yang menggambarkan imam ke-12 umat imamiyah oleh Utsmaniyah tahun 1585-1590. (Wikimedia Commons)

Mazhab Syiah Dua Belas Imam—yang juga kerap disebut sebagai Itsna Asyariyah, Imamiyah, atau Ja’fari—merupakan cabang terbesar dalam tradisi Syiah secara global. 

Sebagaimana aliran Syiah pada umumnya, penganut mazhab ini meyakini bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, kepemimpinan spiritual dan politik umat Islam seharusnya diteruskan oleh Ali bin Abi Thalib.

Sebagai sepupu sekaligus menantu Nabi, Ali dianggap sebagai pewaris sah yang kemudian mewariskan otoritas tersebut secara turun-temurun kepada para imam dari garis keturunannya.

Berbeda dengan Sunni, peran "imam" bagi umat syiah jauh lebih sentral.

Bagi umat Muslim Sunni, istilah imam paling umum digunakan sebagai gelar bagi pemimpin salat di masjid yang juga berperan sebagai pemimpin komunitas dan pemberi bimbingan agama, di mana siapa pun yang mendalami ajaran Islam dasar dapat menjadi imam.

Sebaliknya, bagi mayoritas Muslim Syiah, para imam adalah pemimpin mutlak yang bersifat infallible (ma’sum atau terbebas dari dosa dan kesalahan) bagi komunitas Islam setelah Nabi. 

Kaum Syiah menganggap gelar ini hanya layak disematkan kepada anggota dan keturunan Ahl al-Bayt, yakni keluarga inti dari Nabi Muhammad SAW.

Dalam teologi Itsna Asyariyah, terdapat dua belas imam yang diyakini sebagai pemimpin sah umat Islam dengan otoritas religius yang istimewa. Melansir catatan Britannica, garis suci ini dimulai dari Imam Ali, dilanjutkan oleh kedua putranya, Hasan dan Husain, hingga mencapai imam ke-12, yakni Muhammad al-Mahdi.

Imam terakhir ini diyakini lahir pada abad ke-9, namun kemudian memasuki fase ghaib (Ghaybah al-Kubra ) atau tersembunyi dari pandangan manusia atas kehendak Tuhan sejak sekitar tahun 874 M.

Umat Syiah Imamiyah meyakini bahwa imam ke-12 yang sering dijuluki Imam Mahdi atau “Imam yang Tersembunyi” tersebut masih hidup dan akan kembali hadir di akhir zaman. 

Kedatangannya dipercaya akan menegakkan keadilan di muka bumi dan menjadi salah satu tanda besar menjelang hari kiamat. Keyakinan teologis inilah yang menjadi fondasi identitas mazhab Syiah Dua Belas Imam sebagai komunitas Syiah terbesar di dunia saat ini.
  Bagaimana Iran Menjadi Negara Syiah?
Lukisan Ismail I of iran tahun 1487-1524 oleh Cristofano dell'Altissimo. (Wikimedia Commons)

Perlu dipahami bahwa Iran tidak serta-merta menjadi negeri yang didominasi oleh Syiah sejak awal. Sebelum abad ke-16, wilayah Persia justru menjadi basis kuat bagi penduduk mayoritas Sunni, dengan kota-kota besar seperti Isfahan dan Tabriz sebagai pusatnya.

Meskipun unsur-unsur Syiah sudah eksis melalui gerakan lokal, mazhab tersebut belum menjadi identitas resmi negara.

I.P. Petrushevskii dalam bukunya Islam in Iran menjelaskan bahwa selama abad kesepuluh hingga kelima belas di Iran, baik Sunnisme maupun Syiah sama-sama mengalami pertumbuhan.

Paham Sunni berkembang terutama di kalangan tuan tanah feodal dan penduduk kota menengah ke atas, sementara Syiah lebih banyak dianut oleh masyarakat pedesaan serta kelas bawah perkotaan.

Karena latar belakang sosial tersebut, Petrushevskii berpendapat bahwa kepercayaan Syiah sering kali dijadikan sebagai ideologi perlawanan dalam perjalanan sejarah Iran.

Titik balik besar terjadi saat Dinasti Safawi bangkit pada awal abad ke-16. Berawal dari sebuah tarekat sufi di Ardabil, Safawi bertransformasi menjadi kekuatan politik-militer yang disegani.
  Baca Juga:
Mengenal Struktur Lengkap Sistem Pemerintahan Republik Islam Iran
Pada tahun 1501, Shah Ismail I berhasil merebut Tabriz dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Iran. Langkah pertamanya yang paling krusial adalah menetapkan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara.

Shah Ismail I memperkuat legitimasinya dengan mengklaim diri sebagai wakil dari Imam ke-12 yang ghaib, sehingga menciptakan sebuah struktur negara teokrasi di mana kepatuhan kepada penguasa dipandang sebagai kewajiban religius.

Proses "pensyiahan" Iran ini tidak berlangsung secara instan atau alami, melainkan melalui intervensi negara yang masif dari atas ke bawah. Kekuasaan Safawi mendorong penyebaran ajaran Syiah di ruang publik secara sistematis.

Namun, sebagaimana dicatat dalam buku Petrushevskii, transformasi ini juga diiringi dengan unsur pemaksaan serta tekanan terhadap komunitas Sunni.

Proses ini berlanjut selama beberapa generasi di bawah penerus Ismail I, hingga akhirnya mazhab Syiah mengakar kuat dalam lembaga pendidikan, ritual, dan struktur pemerintahan, mengubah Iran menjadi pusat utama Syiah Imamiyah hingga saat ini.
  Siapa yang Memimpin Umat Syiah Sekarang?
Ali Khamenei dan para faqih Iran. (via vocaleurope.eu)

Dalam doktrin Syiah Dua Belas Imam, kepemimpinan tertinggi yang sah tetap berada di tangan Imam ke-12, Muhammad al-Mahdi, yang diyakini masih berada dalam masa kegaiban. Oleh karena itu, umat tidak mengakui adanya imam baru sebagai pengganti kedudukannya. 

Sebagai gantinya, bimbingan agama dan urusan praktis kemasyarakatan dijalankan oleh para ulama yang dianggap memiliki integritas, keadilan, dan kedalaman ilmu dalam memahami hukum Islam.

Selama masa kegaiban imam ini, umat Syiah berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an, hadis Nabi, serta tradisi para imam. Peran otoritas (velayat) dijalankan oleh seorang faqih (ahli fikih). Mereka dipandang sebagai wakil atau deputi dari Imam yang ghaib untuk mengurusi persoalan sosial dan keagamaan tertentu.

Meskipun memegang otoritas tinggi, kedudukan ulama ini secara prinsipil berbeda dari para imam. Dalam teologi Syiah, para imam memperoleh otoritas karena penunjukan suci (nash) dalam garis kepemimpinan yang ma'sum.

Sementara itu, para fuqaha atau ulama diakui kepemimpinannya karena kapasitas keilmuan dan ketakwaan mereka, bukan sebagai penerus status imamah itu sendiri, melainkan sebagai penerus fungsi bimbingan (guidance).

Dari konsep inilah lahir sistem di mana umat Syiah dipandu oleh para mujtahid—ulama besar yang memiliki otoritas untuk menafsirkan hukum Islam dan mengeluarkan fatwa. Tokoh yang paling berpengaruh di antaranya dapat mencapai kedudukan sebagai marja’ al-taqlid, yakni rujukan tertinggi bagi penganutnya dalam menjalankan syariat, Ali Khamenei merupakan salah satu Marja sebelum dibunuh.

Dalam konteks politik Iran modern, gagasan ini kemudian dikristalisasi oleh Ayatullah Khomeini menjadi doktrin velayat al-faqih, yang memberikan mandat kepemimpinan negara kepada seorang faqih demi membimbing masyarakat dan negara selama Imam Mahdi belum kembali dari kegaibannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perang Iran Masih Berkecamuk, Harga Minyak Kembali Tembus US$100 Per Barel
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
BRIN–Agrinas Palma Nusantara Perkuat Riset dan Inovasi Industri Sawit Berkelanjutan
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Panggil Yaqut Hari Ini, KPK: Sekalian Dicek Syarat Penahanan
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Puan Minta Mudik Nyaman dan Harga Bahan Pokok Tak Naik Jelang Lebaran
• 15 jam laludetik.com
thumb
Pemprov Jateng bersama Bulog siap intervensi harga kebutuhan pokok
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.