Pantau - Pemerintah Provinsi Bali bersama pemerintah pusat mematangkan percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan sampah di Pulau Dewata.
Pemda Bali Siap Dukung Proyek PSELGubernur Bali Wayan Koster menyatakan pemerintah daerah di Bali telah siap mendukung penuh pembangunan proyek tersebut.
Ia menegaskan seluruh unsur pemerintah daerah sudah berada dalam satu tim mulai dari gubernur, wali kota hingga para bupati.
"Kami di Bali sudah satu tim, gubernur, wali kota, dan para bupati, lahan sudah disiapkan, akses jalan sudah ada, dan sosialisasi kepada masyarakat juga sudah dilakukan," kata Wayan Koster.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan sejumlah kebutuhan dasar untuk proyek tersebut seperti lahan pembangunan, akses jalan menuju lokasi, serta sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
Gubernur Bali bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara bahkan menyatakan Bali siap menjadi daerah prioritas dalam pengembangan teknologi PSEL di Indonesia.
Masyarakat di sekitar lokasi proyek disebut telah menyetujui pembangunan fasilitas tersebut.
Proyek ini juga dinilai sangat dinantikan masyarakat karena volume sampah di Bali terus meningkat seiring tingginya aktivitas pariwisata di daerah tersebut.
"Kami siap mendukung apa pun yang dibutuhkan agar proyek ini berjalan lancar, isu pengolahan sampah ini sangat ditunggu masyarakat Bali, jadi kita dorong percepatannya," ujar Koster.
Pemerintah Targetkan Peluncuran Proyek April 2026Pemerintah pusat yang diwakili Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendiarti menyatakan komitmen untuk mengawal percepatan pembangunan proyek PSEL di Bali.
Pemerintah pusat juga akan berkoordinasi dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara terkait pengembangan proyek tersebut.
Setelah proses pematangan proyek selesai, pemerintah akan menggelar rapat terbatas untuk membahas proyek PSEL yang masuk dalam gelombang pertama pembangunan.
Bali termasuk salah satu daerah yang masuk dalam gelombang pertama tersebut.
Pemerintah menargetkan peluncuran proyek PSEL di empat lokasi pada 6 April 2026 yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara pihak terkait termasuk proyek yang berada di Denpasar.
"Kami mohon dukungan dari pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan PKS antara pemda dan BUPP Danantara, termasuk komitmen jumlah volume sampah yang akan diolah setiap harinya," kata Nani Hendiarti.
Pemerintah juga merencanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek PSEL di Bali pada akhir Juni 2026.
Selama masa transisi menuju operasional fasilitas tersebut, pemerintah akan mengawal kebijakan penutupan Tempat Pembuangan Akhir Suwung sekaligus memastikan sistem pengelolaan sampah tetap berjalan.
Investor Tiongkok Siapkan Teknologi Standar EropaProyek ini melibatkan investor asal Tiongkok yaitu Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd yang ditunjuk pemerintah pusat untuk menggarap proyek Waste-to-Energy di Denpasar dan Bekasi.
Pihak investor memastikan teknologi yang akan digunakan memenuhi standar emisi Eropa sehingga tidak mencemari udara.
Fasilitas ini juga dirancang menggunakan sistem zero limbah air atau lindi.
Dengan sistem tersebut, residu hasil pengolahan sampah akan diproses secara maksimal sehingga tidak meninggalkan limbah yang mencemari lingkungan.
Sebagian residu bahkan dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk lain seperti conblock, paving block, serta material konstruksi.
Selain itu, pemerintah pusat bersama investor juga menyiapkan bantuan tambahan berupa truk listrik untuk mengangkut sampah guna mendukung sistem pengelolaan sampah modern di Bali.
Pemerintah berharap percepatan pembangunan ini dapat menjadikan Bali sebagai daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas PSEL berskala besar sekaligus menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi daerah lain.




