Investor Misterius Haiyanto Genggam 12 Saham, ELSA hingga TELE

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Nama Haiyanto mungkin tidak sering muncul di ruang publik. Namun, di kalangan komunitas pasar modal, sosok ini kerap disebut sebagai investor kawakan.

Investor Misterius Haiyanto Genggam 12 Saham, ELSA hingga TELE. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Nama Haiyanto mungkin tidak sering muncul di ruang publik. Namun, di kalangan komunitas pasar modal, sosok ini kerap disebut sebagai investor kawakan yang memiliki portofolio saham cukup besar, dengan gaya yang relatif low profile.

Berbeda dengan sejumlah investor yang aktif tampil di media atau forum publik, Haiyanto dikenal sebagai figur yang jarang berbicara.

Baca Juga:
Harga Minyak Dunia Melonjak 9 Persen, Sentuh Level Tertinggi 4 Tahun

Namanya sesekali muncul dalam pembicaraan “underground” di forum diskusi saham atau dalam tulisan blog yang membahas strategi investasi jangka panjang.

Data kepemilikan saham di atas 1 persen milik Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dapat dilacak publik menunjukkan Haiyanto memegang sejumlah saham di berbagai sektor, mulai dari energi, properti, hingga jasa keuangan.

Baca Juga:
Harga Bensin di 95 Negara Naik Imbas Perang Iran-AS

Jika dihitung secara kasar berdasarkan harga pasar terbaru per 12 Maret 2026, nilai portofolio dari saham-saham tersebut mencapai sekitar Rp729 miliar.

Di sektor energi jasa penunjang migas, Haiyanto tercatat menggenggam sekitar 23,97 persen saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) atau sekitar Rp46,88 miliar.

Baca Juga:
Gandeng ZTE, Mitratel (MTEL) Kembangkan Solusi Efisiensi Jaringan di Indonesia

Pada sektor properti, ia memiliki sekitar 9,71 persen saham PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dengan nilai sekitar Rp65,71 miliar, serta sekitar 1,22 persen saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) senilai kurang lebih Rp22,31 miliar.

Portofolionya juga mencakup saham industri manufaktur seperti Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) dengan kepemilikan sekitar 8,96 persen atau setara Rp12,48 miliar, serta Kabelindo Murni Tbk (KBLM) sekitar 1,19 persen senilai kurang lebih Rp4,32 miliar.

Pada sektor energi, kepemilikan terbesar Haiyanto terlihat di Elnusa Tbk (ELSA) dengan porsi sekitar 6,23 persen yang jika dihitung dengan harga saham terkini bernilai sekitar Rp347,72 miliar.

Ia juga memegang saham perusahaan investasi Paninvest Tbk (PNIN) sekitar 4,49 persen senilai sekitar Rp141,64 miliar serta saham perusahaan pembiayaan Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) sekitar 3,99 persen dengan nilai sekitar Rp52,20 miliar.

Selain itu, Haiyanto juga memiliki saham Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) sekitar 4,88 persen atau sekitar Rp11,01 miliar, Lavender Bina Cendikia Tbk (BMBL) sekitar 4,22 persen senilai sekitar Rp1,34 miliar, serta Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) sekitar 1,52 persen dengan nilai sekitar Rp17,64 miliar.

Perlu dicatat, angka tersebut hanya perhitungan kasar dari saham yang kepemilikannya melampaui ambang pelaporan publik sebesar 1 persen.

Artinya, portofolio sebenarnya kemungkinan lebih besar karena belum mencakup saham lain yang mungkin dimiliki melalui struktur kepemilikan berbeda atau dalam porsi di bawah ambang pelaporan tersebut.

Terseret Kasus Pailit TELE

Salah satu saham yang juga dimiliki Haiyanto adalah Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE). Dia menggenggam 8,31 persen saham TELE atau senilai Rp5,47 miliar.

Emiten ini sebelumnya bergerak di bidang distribusi telekomunikasi, namun kemudian menghadapi masalah keuangan serius.

TELE resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, sebuah putusan yang membuat saham perseroan berada dalam kondisi suspensi berkepanjangan di bursa.

Akibat situasi tersebut, sekitar 10.733 investor tercatat masih menggenggam saham TELE, termasuk Haiyanto sebagai salah satu pemegang saham signifikan.

Menindaklanjuti putusan pengadilan tersebut, pada November 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan melanjutkan penghentian sementara perdagangan saham TELE di seluruh pasar setelah menerima salinan putusan pengadilan dari Bank Mega Tbk selaku wali amanat obligasi perseroan.

Selain TELE, salah satu emiten lain yang juga dimiliki Haiyanto, yakni DUCK, turut menghadapi masalah di bursa. Saham DUCK telah disuspensi oleh BEI sejak 2021.

Penghentian perdagangan tersebut dilakukan karena perseroan belum menyampaikan laporan keuangan dan belum menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hingga melewati enam bulan setelah tahun buku terakhir. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Jakarta Utara Jumat 13 Maret
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Kelaikan Jip Wisata Merapi Mulai Dicek Jelang Lebaran
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Mobil Sigra Parkir Sembarangan di Tikungan Jalan Tangerang, Warga Tak Tahu Pemiliknya
• 10 jam lalukompas.com
thumb
[FULL] Kisah Evakuasi Zulfan Lindan dari Iran di Tengah Ancaman Rudal AS-Israel | ROSI
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Sah, Friderica Widyasari Dewi Ketua Dewan Komisioner OJK
• 17 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.