Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengancam akan tetap menutup Selat Hormuz dan membuka medan pertempuran baru jika Amerika Serikat (AS) dan Israel terus melancarkan serangan.
Melansir Bloomberg, Jumat (13/3/2026), dalam pernyataan publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya akhir pekan lalu, Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa Iran akan berupaya memastikan jalur laut strategis bagi minyak dan gas itu tetap efektif tertutup. Langkah ini mempertahankan tekanan terhadap pasokan energi yang telah memicu lonjakan harga energi global.
Pernyataan yang dipublikasikan oleh media pemerintah Iran pada Kamis itu muncul usai Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan menjadi ancaman bagi Timur Tengah jauh lebih penting baginya dibandingkan harga minyak.
“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, sejauh ini. Jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump dalam sebuah unggahan media sosial.
"Tapi yang jauh lebih penting bagi saya sebagai presiden adalah menghentikan sebuah kekaisaran jahat, Iran, dari memiliki senjata nuklir dan menghancurkan Timur Tengah bahkan dunia.”
Sikap keras dari kedua pemimpin tersebut mengindikasikan bahwa perang di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah berlangsung hampir 2 pekan.
Baca Juga
- Bahlil Lapor Prabowo soal Selat Hormuz, Cari Alternatif Minyak dari Nigeria-Australia
- 2 Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Tunggu Selat Hormuz Aman
- Harga Minyak Turun, Usai Trump Wanti-wanti Iran Soal Selat Hormuz
Pada Kamis, Israel meluncurkan gelombang baru serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Iran, sementara Iran meningkatkan serangan terhadap Dubai serta aset-aset pelayaran di kawasan Teluk.
“Studi telah dilakukan untuk membuka front lain di mana musuh memiliki sedikit pengalaman dan sangat rentan, dan front tersebut akan diaktifkan jika keadaan perang terus berlanjut,” kata Khamenei.
Otoritas Dubai melaporkan sedikitnya dua serangan pada Kamis pagi setelah warga menerima peringatan rudal sepanjang malam. Kuwait juga melaporkan beberapa drone ditembakkan ke bandara internasionalnya yang menyebabkan kerusakan material.
Sementara itu, harga minyak Brent melonjak melampaui US$100 per barel karena kedua pihak yang berperang semakin memperkeras posisi mereka. Sepanjang tahun ini, harga minyak telah naik sekitar 65%.
AS dan Israel telah menyerang Iran melalui serangan udara sejak 28 Februari, yang memicu Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone di seluruh kawasan Teluk. Selain mengguncang pasar energi dan keuangan global, konflik ini juga menyebabkan ribuan pembatalan penerbangan serta mengganggu arus perdagangan pupuk dan berbagai komoditas lainnya.
Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, praktis tidak dapat dilalui sejak awal pecahnya perang. Negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab terpaksa mengurangi produksi minyak mereka.
Pelabuhan di Oman dan di pantai timur Uni Emirat Arab, yang berada di luar Selat Hormuz, kini digunakan sebagai jalur darurat untuk pengiriman barang ke kawasan tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, Angkatan Laut AS kemungkinan akan mulai mengawal kapal tanker melalui selat itu pada akhir bulan ini.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak saat ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar minyak, menyoroti gejolak harga yang ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Konflik ini telah memengaruhi sekitar 7,5% produksi minyak global dan bagian ekspor yang bahkan lebih besar.
Pada Rabu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan syarat yang dibutuhkan agar negaranya menerima gencatan senjata. Teheran membutuhkan jaminan kuat dari komunitas internasional agar tidak terjadi agresi lagi di masa depan serta menuntut kompensasi, tulisnya di platform X setelah berbicara dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan.
Bloomberg melaporkan bahwa Iran sangat khawatir Israel akan kembali menyerang setelah perang saat ini berakhir. Belum jelas apakah AS bersedia memberikan jaminan semacam itu kepada Iran atau apakah Washington mampu menekan Israel untuk melakukan hal yang sama.
Pembicaraan tidak resmi melalui jalur belakang antara Teheran dan sekutu AS masih jauh dari menemukan jalan untuk membuka kembali Selat Hormuz, menurut sejumlah sumber yang mengetahui perundingan tersebut.
“Tidak ada rencana, tidak ada tujuan akhir yang jelas” dalam kampanye AS–Israel, kata mantan duta besar Inggris untuk Iran, Richard Dalton, kepada Bloomberg Radio. “Tampaknya ketika dampaknya semakin meluas, Amerika Serikat justru kehilangan kendali.”





