Fakta-fakta Unik Catatan Penduduk Indonesia: Nama Satu Huruf, WNI Paling Tua

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Nama bukan sekadar identitas, tetapi juga cermin era waktu. Data terbaru Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) menunjukkan bagaimana tren penamaan di Indonesia terus berubah, dari nama-nama sederhana yang dulu populer seperti Junaidi dan Nurhayati hingga nama-nama modern yang kini banyak dipakai oleh anak-anak Generasi Alpha, seperti Inara hingga Muhammad Al Fatih.

Pergeseran ini menggambarkan perubahan selera, pengaruh budaya, hingga harapan orang tua terhadap masa depan anak mereka.

Penamaan itu adalah salah satu hal unik yang dipaparkan oleh Dukcapil mengenai profil masyarakat Indonesia. Sejumlah hal unik lainnya turut disampaikan. Apa saja?

Tren Nama Anak Gen Alpha

Pada Generasi Alpha, nama seperti Inara hingga Al Fatih mulai banyak digunakan. Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi mengatakan nama-nama yang dulu populer kini mulai jarang dipakai oleh generasi yang lebih muda.

“Mulai generasi Milenial, Gen Z, Gen Alpha, sudah hampir tidak ada nama-nama seperti Nurhayati, Slamet, Joko,” kata Teguh dalam acara Rilis Data Kependudukan Bersih Semester 2 Tahun 2025 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).

Ia menjelaskan, pada generasi yang lebih tua masih banyak ditemukan nama-nama yang kini dianggap klasik.

“Kalau kita lihat di generasi Baby Boomer, ini masih nama-nama orang tua kita zaman jadul: Aminah, Nurhayati, Sumiati. Terus Generasi X masih Sutrisno, Mulyati,” ujarnya.

Sementara pada generasi yang lebih muda mulai muncul variasi nama yang berbeda.

“Di Generasi Z, Sri Wahyuni masih ada, tapi mulai muncul nama Siti Aisyah, Fitriani,” kata Teguh.

Adapun pada Generasi Alpha, tren nama semakin beragam dan cenderung modern.

“Untuk Generasi Alpha, mulai tren nama seperti Al Fatih, Rafasya, Yusuf, Siti Aisyah, Aisyah Ayudia Inara, Alika Naila Putri,” ujarnya.

Junaidi dan Nurhayati Nama Mainstream

Junaidi dan Nurhayati menjadi nama yang paling banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Teguh Setyabudi mengatakan temuan itu berdasarkan data kependudukan nasional lintas wilayah dan generasi.

“Nama-nama paling banyak untuk semua gender dan semua umur, ternyata Junaidi dan Nurhayati itu adalah nama yang paling banyak digunakan di Indonesia,” kata Teguh.

Ia menjelaskan, nama tersebut paling banyak ditemukan di sejumlah wilayah. Di Sumatera, misalnya, nama Junaidi dan Nurhayati mendominasi. Sementara di Sulawesi, nama Sudirman cukup banyak digunakan untuk laki-laki.

“Di Sulawesi, Sudirman ternyata luar biasa. Sudirman lahir di Pulau Jawa tapi Sudirman paling banyak juga di Sulawesi, perempuannya Nurhayati,” ujarnya.

Nama Satu Huruf

Dalam kesempatan itu, Teguh juga menyinggung adanya nama yang sangat panjang dalam data kependudukan, bahkan mencapai puluhan karakter.

“Ada nama yang terpanjang, sampai 79 karakter,” kata dia.

Selain itu, ada pula nama yang sangat pendek, bahkan hanya satu huruf. “Nama terpendek itu ada yang cuma satu huruf: M, D, C, N, J, Q,” tutur Teguh.

Ia menambahkan, nama-nama yang sangat panjang atau terlalu pendek tersebut umumnya tercatat sebelum adanya aturan baru terkait pencatatan nama dalam dokumen kependudukan.

“Mulai tahun 2022, ada pengaturan terkait pencatatan nama dalam dokumen kependudukan untuk melindungi si anak,” jelasnya.

Penduduk Bogor Paling Dinamis

Teguh menyebut Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan dinamika perpindahan penduduk paling tinggi di Indonesia.

“Kabupaten/kota dengan perpindahan penduduk paling dinamis, tidak heran Bogor adalah penduduk yang terbesar dan mobilitas penduduk pindah-datang sangat tinggi,” kata Teguh.

Teguh menjelaskan, tingginya mobilitas penduduk di Kabupaten Bogor berkaitan juga dengan jumlah penduduknya yang besar.

Ia menyebut wilayah tersebut masih menjadi kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia.

“Sedang kabupaten yang berpenduduk paling banyak, masih juara bertahan, adalah Kabupaten Bogor. Berapa jumlahnya? Luar biasa, 5.948.925 jiwa,” kata Teguh.

Menurutnya, jumlah tersebut bahkan melampaui populasi sejumlah provinsi di Indonesia.

Selain Kabupaten Bogor, Teguh mengatakan sejumlah daerah lain juga memiliki dinamika perpindahan penduduk yang cukup tinggi, di antaranya Bekasi, Bandung, Tangerang, dan Batam.

“Disusul kemudian Bekasi, Bandung, Tangerang, dan Batam. Ini dinamika mobilitas penduduk. Ini juga bisa bercerita banyak terkait masalah infrastruktur, transportasi, dan sebagainya,” kata dia.

Sementara itu, untuk wilayah dengan jumlah penduduk paling sedikit di tingkat kabupaten/kota, Teguh menyebut Kabupaten Supiori berada di posisi terendah, diikuti Kepulauan Seribu dan Tana Tidung.

“Adapun jumlah penduduk yang terkecil di tingkat kabupaten/kota adalah di Kabupaten Supiori, kemudian Kepulauan Seribu, tapi kita juga sadar Kepulauan Seribu itu bukan kabupaten otonom, melainkan kabupaten administratif, lalu Tana Tidung,” jelas Teguh.

WNI Paling Tua

Data penduduk tertua yang ada di Indonesia berusia 118 tahun. Ia adalah seorang nenek bernama Maryam yang berada di Bangkalan, Madura.

"Berdasarkan catatan kependudukan dan catatan sipil, penduduk kita ada yang sangat tua. Ibu Maryam, usianya 118 tahun ada di Bangkalan," ungkap Teguh.

Selain Maryam, Teguh juga menyebutkan tiga warga lain yang usianya tak terpaut jauh dengan Maryam.

"Ada Ibu Sahami usia 117 tahun di Pamekasan. Ini Madura ternyata. Ada juga Nenek Aniah di Cianjur usianya 116 tahun, dan Parini (116 tahun di Batanghari)," tutur Teguh.

Saat memaparkan hal ini, Teguh turut melampirkan foto dari keempat warga tersebut sebagai wujud keakuratan data. Dokumentasi itu ia peroleh dari stakeholder Dukcapil yang berada di wilayah-wilayah terkait.

"Nyata, itu fotonya ada. Masih hidup, karena kemarin saya bilang tidak mau tampilkan kalau nggak dicek secara langsung. Terima kasih kepada Kadis Dukcapil Bangkalan, Pamekasan, Cianjur, Batanghari. Ini ada, nanti dikira kita omdo (omong doang)," ujar Teguh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satgas PRR Rampungkan 15.346 Unit Huntara, Progres Capai 81 Persen
• 14 jam lalukompas.com
thumb
KPK Ungkap Fee Atur Kuota Haji: Rp 84 Juta per Jemaah 2023, Rp 33 Juta di 2024
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Pemkot Jakbar Sebut PBG Krematorium Kalideres Sah Meski Belum Ada Izin Lingkungan
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Kapolri Pastikan Masyarakat Dapat Update Penerapan Rekayasa Lalin Operasi Ketupat 2026
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Trump Anggap Operasi Militer di Iran Lebih Mudah dari Perkiraan Awal
• 21 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.