PENGAKUAN Rismon Hasiholan Sianipar, tersangka kasus tudungan ijazah palsu, bahwa penelitiannya keliru setelah diteliti ulang, sebenarnya bukan peristiwa yang aneh dalam dunia akademik.
Itu bagian dari mekanisme sehat dunia riset. Data bisa dibaca ulang, metode bisa diperbaiki, dan kesimpulan bisa direvisi.
Yang membuatnya terasa ganjil adalah ketika pengakuan itu datang setelah berbulan-bulan sebelumnya klaim kebenaran riset tersebut dipertontonkan secara heroik di ruang publik.
Narasinya dibangun seperti seorang pejuang yang sedang mempertahankan kehormatan.
Setiap kritik dijawab dengan retorika. Setiap keraguan diposisikan seolah-olah sebagai serangan terhadap kebenaran. Padahal, dalam tradisi ilmiah, kebenaran tidak pernah membutuhkan dramatisasi semacam itu.
Dunia riset tidak bekerja dengan gaya panggung. Ia bekerja dengan data, metode, dan pengujian ulang.
Baca juga: Rismon Sianipar Minta Maaf ke Jokowi, Akui Penelitiannya soal Ijazah Keliru
Dan, dalam dunia riset, ada satu aturan sederhana yang seharusnya dipahami siapa pun, yaitu hasil riset diuji di ruang ilmiah, bukan dipertontonkan sebagai bahan retorika di ruang publik.
Ini bukan soal eksklusivitas para akademisi yang ingin terlihat elite. Ini soal tata cara berpikir yang benar. Dunia riset memiliki jalurnya sendiri, sebagaimana setiap profesi memiliki prosedur kerjanya sendiri.
Saya jadi membayangkan seorang tukang gali sumur. Ia bekerja berhari-hari menembus tanah, mengukur kedalaman, memperhitungkan lapisan tanah, dan memastikan air yang keluar benar-benar bersih.
Setelah selesai menggali, kepada siapa ia melaporkan pekerjaannya? Tentu kepada pemilik rumah atau kepada orang yang memesan pekerjaannya.
Ia tidak berdiri di terminal lalu menjelaskan struktur tanah dan kedalaman sumur kepada para pengemudi bemo. Bukan karena pengemudi bemo itu tidak terhormat, tetapi karena mereka bukan forum yang tepat untuk menilai pekerjaan menggali sumur.
Begitulah kira-kira cara kerja dunia riset. Riset bukan opini yang bisa diumbar begitu saja. Di dalamnya ada metodologi, ada teknik pengumpulan data, ada cara membaca fakta, ada logika analisis yang panjang dan sering kali rumit.
Semua itu disusun dengan standar tertentu yang hanya bisa diperiksa secara tepat oleh orang-orang yang memahami standar tersebut.
Karena itu, hasil riset dilaporkan melalui kanal ilmiah, terutama jurnal akademik. Di sanalah para peneliti lain memeriksa apakah metode yang dipakai tepat, apakah datanya sahih, apakah kesimpulannya masuk akal.
Proses ini disebut peer review. Artinya, karya ilmiah diuji oleh sesama peneliti yang memiliki kompetensi di bidang yang sama.





