Setelah pecahnya perang di Timur Tengah, Iran meningkatkan serangan terhadap kawasan Teluk Persia yang kaya sumber minyak. Untuk menekan lonjakan harga minyak mentah, International Energy Agency (IEA) pada Rabu (11/3/2026) mengusulkan pelepasan 400 juta barel minyak, yang mana akan menjadi pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah.
EtIndonesia. Pekan ini harga minyak dunia berfluktuasi tajam. Pada Senin (9/3/2026), harga sempat melonjak hingga hampir 120 dolar AS per barel. Setelah turun pada Selasa, pada Rabu pagi waktu Amerika Timur, harga minyak Brent naik 3,4% menjadi 90,77 dolar per barel, sementara harga minyak mentah AS naik 2,8% menjadi 86,01 dolar per barel.
Akibat serangan dan blokade Iran, pengiriman tanker minyak dan transportasi barang yang melewati Strait of Hormuz mengalami gangguan serius.
Untuk menekan lonjakan harga minyak selama perang, negara-negara anggota International Energy Agency sepakat melepaskan setidaknya 400 juta barel minyak dari cadangan darurat selama dua bulan ke depan. Ini akan menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah.
“Negara-negara anggota IEA akan memasok 400 juta barel minyak ke pasar. Ini merupakan langkah besar untuk meredakan dampak langsung dari gejolak pasar. Namun yang paling penting untuk memulihkan stabilitas pasokan minyak dan gas adalah memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz,” kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyatakan bahwa negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1 miliar barel cadangan minyak, sehingga pelepasan sebagian cadangan dapat membantu menstabilkan harga.
European Commission, serta pemerintah Spanyol, Jerman dan Austria juga menyatakan dukungannya. Sementara itu, Japang akan mulai menggunakan sebagian cadangan minyaknya mulai minggu depan.
“Pertama, kami akan melepaskan cadangan swasta yang setara dengan 15 hari konsumsi, serta cadangan nasional yang setara dengan satu bulan konsumsi, untuk segera memasok minyak ke kilang-kilang Jepang,” ujar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Sejak perang pecah, harga rata-rata bensin di seluruh Amerika Serikat telah naik hampir 50 sen per galon. Menurut American Automobile Association (AAA), pada Rabu harga rata-rata bensin nasional mencapai 3,578 dolar AS per galon, tertinggi sejak 2024.
“Secara historis, harga minyak mentah internasional dan harga minyak di Amerika Serikat pada dasarnya mengikuti tren yang sama. Kadang ada sedikit keterlambatan atau selisih. Harga 120 dolar itu lebih merupakan lonjakan panik jangka pendek, jadi saya rasa belum perlu terlalu khawatir,” kata Ekonom dari UCLA Anderson School of Management, Yu Weixiong.
Para ahli menilai bahwa solusi mendasar tetaplah menstabilkan situasi geopolitik secepat mungkin.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada 10 Maret mengatakan:
“Begitu tujuan keamanan nasional dari ‘Operasi Epic Fury’ sepenuhnya tercapai, rakyat Amerika akan melihat harga minyak dan gas turun dengan cepat, bahkan mungkin lebih rendah dari sebelum operasi dimulai. Kita akan hidup di dunia di mana Iran tidak lagi dapat mengancam Amerika Serikat dan sekutunya dengan senjata nuklir.”
Laporan oleh NTD Television, dari Amerika Serikat.





