Pretoria: Pemerintah Afrika Selatan resmi memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS), Leo Brent Bozell III, menyusul serangkaian pernyataan Bozell yang dinilai tidak diplomatis.
Ucapannya itu juga memicu ketegangan antara Pretoria dan Washington.
Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, menyatakan bahwa Bozell harus menjelaskan komentarnya yang mengkritik putusan pengadilan serta kebijakan pasca-apartheid di negara tersebut.
"Kami telah memanggil Duta Besar Bozell untuk menjelaskan pernyataan-pernyataannya yang tidak diplomatis," tegas Lamola, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis, 12 Maret 2026.
Ketegangan bermula saat Bozell, dalam penampilan publik pertamanya, mengkritik putusan pengadilan Afrika Selatan terkait slogan era apartheid Kill the Boer. Meskipun pengadilan setempat telah memutuskan bahwa slogan tersebut bukan kategori ujaran kebencian dalam konteks sejarah perjuangan, Bozell secara terbuka menentangnya.
"Saya tidak peduli apa yang dikatakan pengadilan Anda. Itu adalah ujaran kebencian," ujar Bozell pada hari Selasa. Selain itu, Bozell membandingkan kebijakan pemberdayaan ekonomi warga kulit hitam di Afrika Selatan dengan diskriminasi era apartheid, yang kemudian dibantah keras oleh Menlu Lamola sebagai instrumen konstitusional untuk mengatasi ketimpangan historis.
Pemanggilan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan pemerintahan Donald Trump terhadap Presiden Cyril Ramaphosa. Washington mengklaim adanya persekusi terhadap warga kulit putih (Afrikaner) di Afrika Selatan, sebuah klaim yang ditolak oleh Pretoria dengan data bahwa tingkat kriminalitas justru lebih tinggi menimpa warga kulit hitam.
Sejumlah kebijakan AS yang memperkeruh hubungan kedua negara meliputi penerapan tarif sebesar 30% terhadap produk Afrika Selatan tahun lalu. Selain itu, terdapat pemberian status pengungsi khusus bagi warga Afrikaner atas dasar klaim diskriminasi yang tidak adil serta penggunaan foto dan video oleh Trump yang diklaim sebagai bukti kekerasan, namun kemudian terbukti salah sasaran oleh berbagai analisis.
Penunjukan Bozell sendiri telah dipandang sebagai upaya peningkatan tensi. Sebagai pendiri organisasi pengawas media konservatif, Bozell memiliki rekam jejak kritik terhadap tokoh anti-apartheid seperti Nelson Mandela.
Pada tahun 1990, organisasinya pernah mengkritik media karena tidak melabeli Mandela sebagai teroris. Bozell merupakan sekutu lama Trump, dan putranya, Leo Brent Bozell IV, termasuk salah satu orang yang mendapatkan pengampunan dari Trump setelah terlibat dalam kerusuhan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021.
Insiden di Afrika Selatan ini menambah daftar panjang pemanggilan duta besar AS oleh negara-negara lain selama pemerintahan Trump. Prancis memanggil Dubes Charles Kushner pada Februari lalu terkait pernyataan radikalisme, sementara Belgia memanggil Dubes Bill White setelah ia menuduh otoritas setempat melakukan antisemitisme saat menyelidiki praktik sunat ritual tanpa pelatihan medis.
Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan tersebut telah melanggar norma dasar diplomatik.
(Kelvin Yurcel)




