BrahMos, Rudal Supersonik India-Rusia yang Dilirik Indonesia

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah meningkatnya dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah, Indonesia mulai melirik rudal jelajah supersonik BrahMos buatan India untuk memperkuat pertahanan maritim. Senjata ini dikenal sebagai salah satu rudal operasional tercepat di dunia, mampu melesat hampir tiga kali kecepatan suara, dan dirancang untuk menghancurkan kapal perang maupun target darat.

Kabar mengenai rencana pengadaan sistem rudal tersebut mencuat setelah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Romeo S Brawner Jr menyebut bahwa Indonesia mengikuti langkah Manila dalam mengamankan BrahMos. Filipina sebelumnya menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membeli sistem rudal tersebut dari India.

”Kami adalah yang pertama. Filipina adalah negara pertama yang membeli sistem rudal BrahMos. Sekarang Indonesia telah membeli sistem yang sama,” ujar Brawner dalam pernyataannya yang diunggah akun X, @ANI, Sabtu (7/3/2026).

Indonesia menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan, termasuk terkait sistem rudal BrahMos untuk mendukung kemampuan ’coastal defense’.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait membenarkan bahwa Indonesia menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan, termasuk terkait sistem rudal BrahMos. Kerja sama itu dilakukan untuk mendukung kemampuan coastal defense sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan, khususnya dalam memperkuat pertahanan maritim.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa rincian mengenai jumlah unit, nilai kontrak, maupun spesifikasi teknis pengadaan tidak dapat diungkapkan kepada publik karena termasuk dalam klausul informasi kontraktual yang bersifat rahasia.

”Indonesia menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan, termasuk terkait sistem rudal BrahMos untuk mendukung kemampuan coastal defense,” ujar Rico saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca JugaPerang Modern Membuat Ancaman di Maritim Bisa Terjadi Hitungan Detik

Menurut laporan Times of India, BrahMos dikembangkan oleh perusahaan patungan antara Pemerintah India dan Rusia. Karena merupakan proyek bersama, setiap kesepakatan ekspor sistem rudal ini harus memperoleh persetujuan dari kedua negara.

”BrahMos, sebuah perusahaan yang dimiliki bersama oleh Pemerintah India dan Rusia, telah berdiskusi dengan Indonesia untuk penjualan rudal jelajah. Jadi, setiap kesepakatan pertahanan pada rudal BrahMos harus disetujui oleh India dan Rusia,” tulis Times of India.

Kesepakatan pembelian BrahMos disebut merupakan hasil dari proses negosiasi yang berlangsung cukup panjang. Pembahasan kerja sama pertahanan ini semakin intensif setelah sejumlah kunjungan tingkat tinggi kedua negara, termasuk dalam dialog Menteri Pertahanan India-Indonesia pada 2025.

Kecepatan supersonik

Berdasarkan keterangan di situs resmi BrahMos Aerospace, BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik dua tahap yang dikembangkan bersama oleh India dan Rusia. Tahap pertama menggunakan roket berbahan bakar padat untuk membawa rudal mencapai kecepatan supersonik sebelum mesin ramjet pada tahap kedua mempertahankan kecepatan tinggi selama fase jelajah menuju sasaran.

Rudal BrahMos mampu melaju dengan kecepatan Mach 2,8 hingga Mach 3 atau 3.400–3.700 kilometer per jam, hampir tiga kali kecepatan suara. Kecepatan tersebut dipertahankan sepanjang lintasan penerbangan sehingga waktu tempuh menuju target menjadi jauh lebih singkat.

Baca JugaModernisasi Alutsista dan Masa Depan Postur Pertahanan Indonesia

Untuk varian ekspor, BrahMos memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan membawa hulu ledak konvensional seberat 200-300 kilogram. Secara fisik, rudal ini memiliki panjang sekitar 8 meter dengan diameter sekitar 70 sentimeter.

Dengan jangkauan hampir 300 kilometer, satu baterai BrahMos dapat mencakup area laut yang sangat luas. Sistem ini dapat digunakan untuk melindungi wilayah strategis seperti jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Selat Malaka, Selat Sunda, hingga Laut Natuna Utara.

Rudal ini juga mampu terbang rendah di atas permukaan laut dengan teknik sea-skimming untuk menghindari deteksi radar musuh. Selain itu, BrahMos dirancang sebagai sistem multiplatform yang dapat diluncurkan dari peluncur darat, kapal perang, kapal selam, maupun pesawat tempur.

Menurut laporan Times of India, rudal ini juga digunakan India dalam konflik singkat dengan Pakistan tahun lalu selama Operasi Sindoor untuk menyerang pangkalan udara serta infrastruktur militer. Setelah kinerja BrahMos dinilai efektif dalam operasi tersebut, Kementerian Pertahanan India kemudian menyetujui pengadaan tambahan dalam jumlah besar.

Baca JugaModernisasi Alutsista, Indonesia Negara Pertama yang Operasikan Rudal Balistik KHAN di ASEAN

Di Asia Tenggara, Filipina menjadi negara pertama yang membeli rudal BrahMos. Pada 2022, Filipina menandatangani kontrak senilai sekitar 375 juta dolar AS atau setara Rp 6,3 triliun untuk tiga baterai sistem rudal antikapal berbasis pantai. Pengiriman batch pertama dilakukan pada tahun 2024.

Selain Filipina dan Indonesia, sejumlah negara lain juga dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan pengadaan BrahMos. Menurut laporan media India, seperti The Economic Times, Vietnam hampir menyelesaikan kesepakatan besar untuk memperkuat pertahanan maritimnya. Malaysia juga disebut tertarik pada varian BrahMos yang diluncurkan dari udara untuk melengkapi jet tempur Su-30MKM.

Jika dibandingkan dengan rudal antikapal yang saat ini dimiliki TNI, BrahMos menawarkan kombinasi kecepatan dan jangkauan yang lebih tinggi. Salah satu rudal yang digunakan Indonesia adalah Exocet MM40 Block 3 buatan Perancis yang dipasang pada sejumlah kapal perang TNI AL.

Indonesia telah menggunakan keluarga rudal Exocet sejak awal 1980-an, sementara varian terbaru MM40 Block 3 mulai dioperasikan pada kapal perang modern TNI AL sekitar pertengahan 2010-an. Menurut produsen MBDA, rudal ini memiliki kecepatan subsonik sekitar Mach 0,9 dengan jangkauan lebih dari 180 kilometer.

Baca JugaSeberapa Penting Perisai Pertahanan Udara bagi Indonesia?

Indonesia juga menggunakan rudal C-802 dan C-705 buatan China pada beberapa kapal perang dan sistem pertahanan pesisir. Rudal C-802 mulai masuk dalam arsenal TNI AL pada pertengahan 2000-an seiring kerja sama pengadaan alutsista dengan China.

Adapun C-705 kemudian digunakan pada sejumlah kapal cepat rudal (KCR) yang dikembangkan Indonesia pada dekade 2010-an. Data Missile Defense Project dari CSIS menyebut rudal C-802 memiliki kecepatan Mach 0,8 hingga Mach 0,9 dengan jangkauan hingga sekitar 180 kilometer.

Selain itu, TNI AL juga memiliki sistem pertahanan pantai Bastion yang menggunakan rudal P-800 Yakhont buatan Rusia. Sistem ini mulai dimiliki Indonesia pada 2011 untuk memperkuat pertahanan pesisir terhadap ancaman kapal perang lawan. Rudal P-800 Yakhont memiliki kecepatan Mach 2 hingga Mach 2,5 atau 2.400–3.000 kilometer per jam.

Lompatan besar

Dibandingkan sistem rudal yang saat ini dimiliki Indonesia, kehadiran BrahMos dinilai dapat membawa perubahan signifikan dalam kemampuan pertahanan maritim. Sebab, BrahMos memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki sebagian besar rudal yang saat ini dioperasikan Indonesia.

”Jika melihat struktur pertahanan Indonesia saat ini, rudal BrahMos bisa dibilang sebagai game changer atau lompatan besar,” ujar Co-founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi.

Fahmi menilai, ada perbedaan signifikan jika dibandingkan rudal yang sudah digunakan Indonesia. Sebagian besar rudal yang dimiliki Indonesia masih berada pada kategori subsonik atau bergerak di bawah kecepatan suara. Adapun BrahMos mampu melaju pada kecepatan supersonik ekstrem berkisar Mach 2,8 hingga Mach 3. Perbedaan ini membuat kemampuan penetrasi dan waktu tempuhnya jauh lebih cepat.

Kecepatan tinggi tersebut membuat waktu reaksi sistem pertahanan udara lawan menjadi sangat singkat. Sistem pertahanan lawan akan memiliki waktu yang jauh lebih terbatas untuk mendeteksi, melacak, dan mencegat rudal sebelum mencapai target.

Baca JugaJalan Terjal Indonesia Merangkak dari Roket Menuju Rudal

Selain itu, Fahmi menilai kecepatan BrahMos juga menghasilkan daya hancur kinetik yang besar saat menghantam sasaran. Energi yang dihasilkan dari kecepatan tinggi tersebut dapat menimbulkan kerusakan serius pada kapal perang. Bahkan, dalam beberapa kondisi, kerusakan bisa terjadi meski hulu ledak tidak meledak.

”Dengan kecepatan Mach 3, energi kinetik yang dihasilkan sangat besar. Bahkan, tanpa ledakan hulu ledak sekalipun, hantaman fisik badan rudal sudah dapat menimbulkan kerusakan parah pada kapal,” tutur Fahmi.

Dalam konteks geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, Fahmi menilai sistem BrahMos akan paling efektif jika digunakan sebagai bagian dari pertahanan pesisir. Sistem peluncurnya yang bersifat mobile memungkinkan rudal digunakan di berbagai titik strategis. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam penempatan dan pengoperasian sistem senjata tersebut.

Menurut dia, peluncur rudal dapat dipasang pada kendaraan truk dan ditempatkan di wilayah yang mengawasi jalur pelayaran penting. Beberapa lokasi yang dinilai strategis antara lain Pulau Natuna serta sejumlah selat penting di Indonesia.

Baca JugaRudal KHAN Tidak Mengubah  Wajah Diplomasi Indonesia

Dengan pola penempatan tersebut, Indonesia dapat membangun kemampuan anti-access/area denial (A2/AD) yang kuat. Sistem ini memungkinkan Indonesia membatasi atau menghalangi pergerakan kapal lawan di kawasan strategis. Pendekatan ini sering digunakan negara maritim untuk memperkuat pertahanan wilayahnya.

Di sisi lain, tren pengadaan BrahMos di negara-negara Asia Tenggara merupakan bagian dari dinamika keamanan kawasan. Langkah Indonesia yang mengikuti Filipina dalam pembelian BrahMos tidak serta-merta memicu perlombaan senjata di kawasan.

Kehadiran sistem rudal tersebut, menurut Fahmi, justru dapat menciptakan keseimbangan kekuatan baru sekaligus memperkuat daya tangkal kawasan. Dengan kemampuan daya tangkal yang lebih kuat, potensi ancaman atau klaim wilayah dari pihak luar dapat ditekan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menapaki Tahun Pertama, Danantara Tegaskan Komitmen untuk Masa Depan Bangsa
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
ESDM Tinjau Kilang Balongan, Stok BBM dan LPG Dipastikan Aman
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gus Yaqut Datangi Kantor KPK untuk Kasus Haji, Siap Ditahan?
• 23 jam lalusuara.com
thumb
Penjelasan Annisa soal Karakter Umma yang Terinspirasi Selingkuhan Mantan Suami
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Hidayat Nur Wahid Minta Pemerintah Tidak Terburu-buru Batalkan Haji 2026
• 7 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.