Kelompok nelayan di Desa Soligi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara mulai merasakan perubahan dalam mengelola hasil tangkapan laut. Lewat program Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN), pengelolaan hasil tangkapan kini lebih terorganisir dan permintaan juga stabil.
Penggerak Kelompok SUTAN Ibrahim menceritakan, sebelum ada program SUTAN, nelayan di Desa Soligi menghadapi tantangan fluktuasi harga dan kondisi cuaca yang memengaruhi hasil tangkapan.
Harga ikan konsumsi di pasar lokal berkisar sekitar Rp30 ribu per kilogram untuk kerapu dan kakap, sementara tuna sekitar Rp22 ribu per kilogram. Di tengah kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, keberadaan SUTAN membantu nelayan mendapatkan akses pasar yang lebih pasti.
“Nelayan kini memiliki akses pasar yang lebih stabil melalui SUTAN. Hasil tangkapan kelompok bukan hanya untuk kebutuhan rumah, tetapi nelayan juga bisa menyalurkan lebih dari satu hingga dua ton ikan per bulan ke dapur-dapur katering Harita Nickel,” kata Ibrahim, Rabu (11/3/2026).
Program SUTAN merupakan bagian dari inisiatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang dijalankan oleh Harita Nickel di sekitar wilayah operasionalnya di Pulau Obi.
Mengutip laporan CSR perusahaan 2024, program ini bertujuan membantu nelayan mendapatkan nilai tambah dari hasil tangkapan mereka melalui dukungan fasilitas pengolahan ikan, cold storage, serta pelatihan pengelolaan usaha kelompok.
Menurut Ibrahim, fasilitas tersebut sangat membantu nelayan dalam menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus memberikan fleksibilitas dalam menentukan waktu penjualan.
“Dengan cold storage, kami tidak harus menjual semua ikan di hari yang sama. Kalau tangkapan banyak, bisa disimpan dulu. Kualitas kesegaran ikan jadi lebih lama, membuat harga jadi lebih kompetitif,” jelas Ibrahim.
Meningkatkan Nilai Tambah Hasil Tangkapan NelayanSaat ini, kelompok nelayan SUTAN di Desa Soligi terdiri dari 14 anggota aktif yang mengelola kegiatan penangkapan, pengolahan, hingga distribusi hasil tangkapan secara kolektif.
Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso, mengatakan program SUTAN dirancang untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan sekaligus memperkuat kapasitas ekonomi kelompok nelayan.
“Sepanjang 2024, kelompok nelayan SUTAN di Soligi menyalurkan total lebih dari 24 ton ikan ke kantin-kantin karyawan Harita Nickel dan menghasilkan omzet Rp784 juta. Skema ini memperkuat rantai pasok kebutuhan pangan karyawan sekaligus membuka akses pasar yang lebih terstruktur bagi nelayan,” kata Broto.
Selain dukungan infrastruktur, Harita Nickel juga memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, pendampingan manajemen usaha, serta bantuan alat tangkap dan pemasaran.
Pendekatan ini memungkinkan nelayan mengakses pasar secara langsung dan menjadi bagian dari rantai distribusi yang efisien.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan tata kelola keuangan dan administrasi kelompok.
Para nelayan dibimbing dalam perencanaan, pengelolaan, pencatatan, dan pelaporan keuangan agar kegiatan usaha dapat berjalan lebih transparan dan berkelanjutan
“Kami ingin memastikan para nelayan memiliki sistem pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan,” ujar Broto.
Sejalan dengan Pembangunan Nasional dan DaerahInisiatif seperti SUTAN sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sektor kelautan dan perikanan nasional. Dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, (13/2/2026), Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan pada 2026. Ini merupakan bagian dari target 5.000 desa nelayan hingga 2029.
Program tersebut mencakup pembangunan fasilitas pendukung seperti pabrik es, cold storage, dermaga, kapal, serta kendaraan operasional yang dikelola dalam skema koperasi.
Selain itu, program SUTAN juga sejalan dengan arah pembangunan yang tengah didorong oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Targetnya adalah meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor-sektor produktif seperti perikanan dan usaha mikro.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mendorong agar nelayan di daerah tersebut dapat naik kelas, salah satu upayanya adalah dengan memperluas akses permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi nelayan dan pelaku usaha pesisir.
Program SUTAN yang mengintegrasikan penguatan ekonomi, akses pasar, serta keberlanjutan lingkungan menunjukkan kolaborasi antara sektor industri dan masyarakat dapat menciptakan ekosistem ekonomi pesisir yang lebih tangguh.
Harita Nickel Jalankan Berbagai Program Sosial dan LingkunganSelain penguatan sektor perikanan, Harita Nickel bersama masyarakat pesisir Pulau Obi menjalankan berbagai program sosial dan lingkungan. Salah satunya melakukan rehabilitasi mangrove yang hingga tahun 2024 telah mencapai lebih dari 23 hektare.
Rehabilitasi mangrove dilakukan untuk menjaga ekosistem pesisir dari ancaman abrasi sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Dukungan sosial lainnya seperti layanan kesehatan melalui Puskesmas Pembantu (PUSTU) Soligi, termasuk penyediaan tenaga medis serta suplai obat secara rutin. Perusahaan juga membantu pembangunan berbagai infrastruktur pendukung aktivitas sosial masyarakat.




