Geliat Medco (MEDC) Tarik Kredit hingga Rp10,5 Triliun untuk Genjot Produksi Migas

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) sedang membidik rekor produksi minyak dan gas (migas) baru pada tahun buku 2026. Mengawali tahun ini, perseroan dengan agresif menarik fasilitas kredit dari bank-bank yang secara total mencapai sekitar Rp10,5 triliun.

Di sisi lain, seluruh indikasi cadangan migas Medco di akhir 2025 kompak meningkat, menjadikan perseroan punya 'alasan kuat' di balik triliunan utang yang ditarik.

Emiten migas besutan keluarga Panigoro ini sepanjang 2025 mencatat produksi minyak dan gas sebesar 156.000 barrel of oil equivalent (boepd). Khusus dalam kuartal IV/2025, produksi migas mencapai puncaknya di 178.000 boepd dan rata-rata 176.000 boepd selama kuartal tersebut.

Pada 2026, Medco Energi membidik produksi migas sebesar 165.000 sampai 170.000 boepd. Bila target ini berhasil dicapai, akan menjadi tingkat produksi tertinggi sepanjang sejarah perseroan beroperasi. Sebagai bahan bakar ekspansi mencapai rekor tersebut, perseroan tancap gas dengan menarik banyak fasilitas kredit sejak awal tahun.

Sampai awal Maret 2026, perseroan melaporkan ada tiga fasilitas kredit yang diambil. Pertama, pada 4 Februari 2026 Medco menandatangani perjanjian kredit dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan nilai pokok pinjaman Rp8 triliun. Fasilitas kredit yang akan dipakai untuk kebutuhan operasional umum perusahaan ini memiliki tenor hingga 84 bulan atau 7 tahun.

Kedua, pada 4 Februari 2026 Medco Energi juga menandatangani perjanjian kredit dengan PT Bank ICBC Indonesia dengan nilai pokok pinjaman sebesar Rp800 miliar. Fasilitas kredit ini ditujukan untuk membiayai kebutuhan belanja modal dan/atau pendanaan umum perusahaan dengan tenor 60 bulan atau 5 tahun.

Ketiga, pada 10 Maret 2026 perseroan juga menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) cabang Singapura dengan nilai pokok US$100 juta atau sekitar Rp1,69 triliun (kurs Rp16.912 per dolar AS). Jatuh tempo pinjaman ini selama 60 bulan atau 5 tahun, dan penggunaannya diperuntukkan pada kebutuhan operasional umum perusahaan (general corporate purpose).

"Kejadian yang akan menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan secara material," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (13/3/2026).

Baca Juga : Harga Minyak Fluktuatif di Level US$100 per Barel Imbas Penutupan Selat Hormuz

Menilik postur neraca keuangan Medco Energi dalam periode Januari-September 2025, sebesar 77% lebih liabilitas yang dibukukan perseroan terkonsentrasi di liabilitas jangka panjang. 

Rinciannya, liabilitas jangka panjang sebesar US$4,67 miliar atau meningkat 14,14% year on year (YoY) dan liabilitas jangka pendek mencapai US$1,46 miliar atau naik 1,71% YoY. Total liabilitas perseroan meningkat 11,08% YoY menjadi US$6,04 miliar.

Di sisi lain, ekuitas Medco Energi juga meningkat 6,18% YoY menjadi US$2,38 miliar. Berdasarkan postur neraca keuangan perseroan, terlihat bahwa Medco Energi bertumpu pada pendanaan utang untuk ekspansi bisnisnya. Debt to equity ratio (DER) Medco Energi dalam 9 bulan 2025 tercatat sebesar 2,53 kali, meningkat dari 2,42 kali pada periode yang sama 2024.

Roberto Lorato, CEO Medco Energi Internasional mengatakan bahwa pada 2026 pihaknya tetap fokus untuk menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan melalui pertumbuhan, keunggulan operasional, serta disiplin dalam pengelolaan moda.

Selain segmen migas, perseroan untuk tahun buku 2026 juga membidik target penjualan listrik sebesar 4.550 GWh dengan kontribusi energi terbarukan sebesar 24%. Pada 2025, melalui anak usahanya, Medco Power, perseroan mencatat penjualan listrik sebesar 4.371 GWh dengan bauran energi terbarukan sebesar 25%.

Di sektor migas, Roberto melaporkan bahwa seluruh indikasi cadangan migas perseroan juga menunjukkan peningkatan, yakni cadangan 2P (proved+probable reserves) yang mengukur cadangan migas yang kemungkinan besar dapat diproduksi secara ekonomis, indeks umur cadangan atau reserve life index (RLI) yang mengukur seberapa lama cadangan bisa diproduksi, serta sumber daya kontijensi 2C (contigent resources) yang mengukur potensi cadangan migas yang masih menunggu pengembangan.

Perinciannya, cadangan migas 2P pada akhir 2025 meningkat menjadi 564 juta barrel of oil equivalent (boe) dari 493 juta boe migas pada 2024. Sumber daya kontijensi 2C di akhir 2025 meningkat menjadi sekitar 1 miliar boe dari 896 juta boe pada 2024.

"Indeks umur cadangan 2P juga meningkat menjadi 11,4 tahun dibanding 2024 10,4 tahun," ujarnya.

Rekomendasi Saham MEDC

Tim Analis UBS Timotgy Handerson, Igor Putra, dan Ivan Reynaldo Sutheja dalam risetnya yang terbit 2 Maret 2026 memprediksi struktur keuangan Medco dalam jangka menengah panjang akan membaik. Dari rasio net debt to EBITDA, UBS memperkirakan di periode 2025 ini akan tetap di 2,6 kali.

Selanjutnya, rasio yang mengukur kemampuan perseroan melunasi seluruh utangnya menggunakan pendapatan operasional ini diperkirakan akan turun ke 2,2 kali pada 2026, hingga secara bertahap menjadi 1,9 kali pada 2027 dan 1,7 kali pada 2029. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa kemampuan Medco dalam menutup utang bersih dengan laba operasional menjadi semakin kuat.

Sementara itu, rasio net debt to total equity Medco juga diprediksi akan semakin mengecil, mengindikasikan kontribusi utang sebagai biaya ekspansi perseroan dibandingkan penggunaan modal dapat semakin dikurangi, yang artinya risiko gagal bayar juga semakin kecil.

UBS memperkirakan net debt to total equity Medco pada 2025 mulanya akan melonjak dari 1,37 kali menjadi 1,46 kali. Namun, rasio ini ditaksir akan mengecil menjadi 1,15 kali pada 2026, 0,86 kali pada 2027, sampai menjadi 0,55 kali pada 2029.

Untuk rekomendasi, UBS menaikkan target harga saham MEDC dari Rp2.000 menjadi Rp2.570 dengan rekomendasi yang dipertahankan beli.

"Kami menyoroti MEDC sebagai salah satu pihak yang berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga minyak, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik," tulis riset tersebut.

Melansir Bloomberg Terminal, 20 analis (100%) merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga Rp2.135, mencerminkan potensial return 23,4% dari harga penutupan pasar Kamis (13/3/2026) di Rp1.730.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menko Muhaimin Ajak Tokoh Lintas Agama Perkuat Kolaborasi Sosial di Bulan Ramadan
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Promo Belanja Ramadan 2026
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Phytomer Bawa Teknologi Laut untuk Perawatan Skin Barrier, Intip Yuk Beauty!
• 11 jam laluherstory.co.id
thumb
Pelatih Dewa United Jabarkan Bagaimana Bisa Kebobolan 2 Gol Lebih Dulu, Ini Yang Kemudian Dilakukan
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Pesan Prabowo soal Mudik Lebaran: Utamakan Keselamatan di Jalan
• 5 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.