Ketika Perang Diperebutkan di Medan Algoritma

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran semakin meningkat dan belum ada tanda menuju ketenangan. Dunia digital pun langsung dipenuhi bermacam foto, video dan cerita. Video ledakan, rekaman drone, analisis strategi militer, dan kutipan pernyataan dari tokoh-tokoh politik dunia menyebar luas di berbagai digital platform.

Segera setelah serangan terjadi, gambar kehancuran tayang di ponsel jutaan orang di seluruh dunia. Ini menunjukkan perang tidak lagi hanya terjadi di medan tempur fisik. Perang kini juga terjadi di dunia algoritma.

Fenomena ini menunjukkan ada perubahan besar dalam cara konflik dibuat dan dikonsumsi di dunia. Dulu, cerita tentang perang dikuasai negara dan media besar. Sekarang, informasi tersebut ada di media sosial dalam waktu yang sangat cepat. Secara visual-pun kuat dan dramatis, sehingga dimanfaatkan banyak pihak untuk mendapatkan perhatian dunia.

Perang dalam Ekonomi Perhatian

Di sinilah perang mulai mengikuti logika ekonomi perhatian. Di dunia digital, perhatian dari banyak orang adalah sesuatu yang sangat penting dan banyak yang ingin mendapatkannya. Setiap media sosial dirancang khusus agar penggunanya berlama-lama melihat layar ponsel mereka.

Pada dasarnya, algoritma di baliknya mempunyai cara kerja sederhana, yaitu akan menampilkan dan menyarankan konten yang paling mungkin membuat orang merasakan keterikatan emosi yang kuat.

Persyaratan itu biasanya terpenuhi saat ada konflik bersenjata. Ledakan bom, bangunan kota yang hancur, pidato politik yang berapi-api, serta cerita tentang kesedihan dan penderitaan manusia sangat potensial untuk mendapatkan perhatian dari publik. Semua itu bisa menimbulkan perasaan yang kuat. Oleh karena itu, berita perang gampang sekali menyebar, bahkan lebih cepat dari tayangan analisis yang logis dan kontekstual.

Di titik inilah terdapat perubahan yang besar. Konflik bersenjata kini juga hadir di konten digital. Video perang akan cepat viral dan kadang lebih cepat dari video pendek potongan tayangan komedi. Foto-foto kota yang hancur menyebar dan menjadi bagian wajar dari berita di media sosial. Studi tentang politik global pun dipotong menjadi sebuah video pendek untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat global.

Situasi ini menunjukkan ada pertentangan menarik dalam cara kita berkomunikasi. Masyarakat di seluruh dunia sekarang memiliki akses informasi yang jauh lebih baik tentang konflik yang sedang memanas. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi masa lalu yang harus menanti informasi dari tayangan berita di televisi.

Kini, kita bisa melihat perkembangan perang hampir bersamaan dengan kejadiannya. Namun di sisi lain, algoritma sering kali membuat konflik yang kompleks menjadi terlihat sederhana dengan menyajikannya seperti rangkaian kejadian dramatis yang terpisah satu sama lain.

Dalam situasi konflik, masyarakat sering kali mengabaikan apa yang menjadi penyebab terjadinya perang tersebut. Latar belakang historis dan kerumitannya terabaikan begitu saja, padahal sering kali perang lahir dari sejarah yang panjang.

Bahkan, rumitnya kondisi geopolitik sering disederhanakan menjadi cerita yang dangkal. Cerita itu hanya fokus pada siapa yang mulai menyerang, siapa yang membalas, siapa yang jumawa, dan siapa yang hancur, hingga melupakan nuansa yang sebenarnya.

Algoritma dan Propaganda Baru

Di dunia konten digital, nuansa sering kali luput dari perhatian. Hal ini juga mengubah cara publik global memandang sebuah konflik. Masyarakat tidak lagi hanya menerima informasi soal perang. Kini, mereka aktif menyebarkan konten video dan informasi yang berkaitan dengan perang. Mereka juga bisa berkomentar atau mengkritik pernyataan politik dari para politisi, atau bahkan memperkuat cerita tertentu lewat media sosial.

Masyarakat tanpa sadar menjadi bagian penting dari komunikasi konflik. Ironisnya, ini membuat negara tidak lagi mempunyai kendali penuh atas cerita perang. Dulu, pemerintah membuat propaganda terpusat. Sekarang, propaganda digital muncul secara organik dari pengguna media sosial aktif yang secara sengaja ataupun tanpa sengaja menyebarkan konten tertentu.

Negara kini tidak lagi menjadi pengendali utama penyebaran narasi. Peran itu telah diambil alih oleh algoritma. Algoritma di banyak digital platform menentukan apa yang dilihat orang di seluruh dunia setiap hari. Algoritma bekerja untuk menyorot konten yang paling menarik perhatian dan mengabaikan konten yang memberikan pemahaman mendalam.

Saat ada konflik bersenjata, cara penyebaran informasi bisa jadi memperburuk kondisi perbedaan pandangan yang sudah ada. Materi yang hanya memihak satu sisi lebih mudah menyebar, bahkan materi ini mengalahkan informasi lain yang mencoba menjelaskan kerumitan situasi. Akibatnya, perang tidak hanya menimbulkan kerugian fisik di medan perang. Perang juga memecah belah cara orang memandang sesuatu di dunia informasi.

Pertarungan Persepsi Global

Dunia memiliki banyak cerita berbeda tentang kondisi konflik AS – Israel vs Iran ini. Ada kelompok orang melihat konflik ini sebagai cara menjaga kedamaian. Namun, kelompok lain menganggapnya sebagai perebutan kekuasaan antarnegara. Kedua pandangan ini ada di mana-mana, bahkan di ruang digital yang sama.

Tentu saja, konflik bersenjata berbeda dari perdebatan politik biasa. Perang memiliki dampak yang jauh lebih serius. Narasi yang disajikan dan diterima banyak orang dapat memengaruhi pandangan atau dukungan internasional, mengubah tingkat tekanan diplomatik pada sebuah negara, hingga membentuk legitimasi moral sebuah negara. Arena perhatian global kini menjadi medan persaingan baru.

Konstelasi konflik AS-Israel vs Iran secara gamblang mengilustrasikan sinergi antara peperangan fisik dan perang informasi. Setiap manuver militer yang dilancarkan dengan cepat memicu gelombang masif penyebaran konten digital yang bertujuan untuk menginterpretasikan dan memberikan makna pada kejadian tersebut.

Namun, di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat, penonton dunia tidak mempunyai kesulitan untuk memahami peristiwa yang terjadi. Kesulitan mereka justru terletak pada pemahaman mendalam tentang konflik tersebut dan bagaimana informasi tentang perang dibuat dan disebarkan.

Pada intinya, dalam lanskap global yang semakin didominasi oleh algoritma, penentuan kemenangan dalam peperangan bisa jadi tidak hanya bergantung pada penguasaan teritorial semata, tetapi juga secara signifikan dipengaruhi oleh kemampuan untuk meraih dan mempertahankan perhatian publik dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dirut Bulog: Stok Beras Capai 3,9 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah RI
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Penjelasan Taspen soal Kenaikan Gaji Pensiunan Maret 2026, Ini Fakta Sebenarnya
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Defisit Perdagangan AS Turun Tajam ke USD 54,5 Miliar pada Januari 2026
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Mewah-mewahan
• 3 jam laludetik.com
thumb
Bandar Narkoba Jaringan Ko Erwin di Bima Ditangkap
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.