Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada level Rp16.958 per dolar pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat, 13 Maret 2026. Pelemahan rupiah terjadi seiring tren melemahnya sejumlah mata uang Asia lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,38% dibandingkan penutupan sebelumnya. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,45% ke level 100,18.
Bersamaan dengan rupiah, beberapa mata uang regional juga mengalami pelemahan: yen Jepang melemah 0,04%, dolar Hong Kong turun 0,01%, dolar Singapura melemah 0,21%, dolar Taiwan turun 0,67%, dan won Korea Selatan melemah 0,68%.
Mata uang Asia Tenggara lainnya, seperti rupee India turun 0,28%, yuan China melemah 0,28%, ringgit Malaysia turun 0,29%, dan baht Thailand melemah 0,53%.
Pada perdagangan pagi hari, rupiah dibuka stabil di posisi Rp16.885 per dolar, sama dengan penutupan Kamis, 12 Maret 2026, yang mengalami pelemahan tipis 0,12%.
Indeks dolar AS tercatat melemah 0,05% ke 99,685 pada pukul 09.00 WIB, meskipun sehari sebelumnya DXY sempat ditutup menguat 0,51% ke level 99,739.
Penguatan dolar AS dipengaruhi oleh dinamika global dan ketidakpastian geopolitik, terutama terkait konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan pernyataan Iran yang menegaskan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz menambah tekanan terhadap pasar.
Selain itu, keputusan Amerika Serikat mengizinkan penjualan sebagian produk minyak Rusia yang sebelumnya disanksi turut menimbulkan sentimen hati-hati di pasar.
Kondisi ini membuat dolar AS tetap menjadi aset aman utama bagi investor, sehingga ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi terbatas.
Editor: Redaksi TVRINews





