Harga minyak acuan dunia turun di bawah US$ 100 per barel pada Jumat pagi (13/3). Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) menerbitkan lisensi 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia dan produk turunannya yang saat ini tertahan di laut.
Minyak Brent turun 71 sen menjadi US$ 99,75 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 88 sen menjadi US$ 94,85 per barel. Kedua harga acuan tersebut telah melonjak lebih dari 9% pada Kamis dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022.
“Lisensi tersebut diterbitkan sebagai langkah untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang oleh perang di Iran,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dikutip dari Reuters, Jumat (13/3).
Kendati demikian, Analis di Haitong Futures, Yang An menyebut penerbitan lisensi ini tidak akan menyelesaikan masalah fundamental. Menurutnya hal terpenting yang dilakukan adalah memulihkan jalur Selat Hormuz agar bisa dilalui dengan normal.
Pengumuman lisensi ini diungkapkan sehari setelah Departemen Energi AS menyatakan negara akan melepaskan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis. Dilakukan dalam upaya untuk menekan harga minyak yang melonjak tajam akibat perang di Timur Tengah.
Rencana tersebut telah dikoordinasikan dengan Badan Energi Internasional (IEA). Mereka telah setuju untuk melepaskan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, termasuk di dalamnya dari AS.
“Ketenangan sementara oleh keputusan IEA ini bisa hancur oleh eskalasi yang berbahaya risiko di Timur Tengah, kata analis IG Tony Sycamore.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei mengatakan negaranya akan terus berjuang dan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup sebagai leverage terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak diserang oleh kapal-kapal Iran yang dilengkapi bahan peledak kemarin. Seorang pejabat Irak mengatakan kepada media negara bahwa pelabuhan minyak negara tersebut telah menghentikan operasinya sepenuhnya.
Oman juga memindahkan semua kapal dari terminal ekspor minyak utamanya di Mina Al Fahal, di luar Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Angkatan Laut AS bersama koalisi internasional, akan mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz ketika secara militer memungkinkan.
Arab Saudi dilaporkan membayar premi untuk mengalihkan rute tanker ke Laut Merah, menggunakan pipa minyak timur-baratnya untuk mengangkut minyak ke pasar global.
Sementara itu, Iran mengizinkan satu atau dua tanker per hari melewati selat, terutama ke Cina. “Untuk menjaga Cina tetap di pihaknya dan memastikan aliran dana tetap lancar,” kata Sycamore.




