Di tengah keriuhan Pusat Grosir Fashion Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat, Abdullah (45) menyeka peluh yang membanjiri dahinya. Napasnya tak beraturan.
Kamis (12/3/2026) siang itu, matahari sedang terik-teriknya. Namun, Abdullah tak mengeluh. Pundaknya baru saja menyelesaikan ritase kelima, mengangkut bal atau karung berisi pakaian dari lantai 4 menuju lobi barat.
Tumpukan baju, celana, hingga gamis yang ia panggul bukan sekadar barang dagangan. Bagi Abdullah, setiap bal pakaian yang ia angkut untuk dikirim ke Pekanbaru, Riau, itu adalah tiket untuk merayakan Lebaran yang lebih layak bersama keluarganya.
"Ramadhan tahun ini porter agak mendingan. Ramai," ujar pria asal Bogor, Jawa Barat, itu dengan senyum merekah.
Bagi kuli panggul atau porter di pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu, Ramadhan 2026 terasa lebih istimewa. Setelah bertahun-tahun terhimpit lesunya ekonomi setelah pandemi Covid-19, kini beban di pundak mereka jauh lebih ringan.
Bukan karena beban yang harus dipikul berkurang, tetapi karena harapan mereka kembali tumbuh. Abdullah bercerita, sejak awal tahun 2026, denyut nadi pasar itu kembali kencang. Jika dulu selepas pagebluk ia hanya kebagian lima pelanggan sehari, kini bisa melayani 10 hingga 15 orang dalam satu hari.
Lonjakan ini berdampak langsung pada kantongnya. Dalam sehari, Abdullah bisa mengantongi pendapatan antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Angka yang jauh melampaui masa-masa sulit tahun lalu.
"Hasil ini buat rezeki anak istri di rumah. Buat beli baju Lebaran. Kalau tahun lalu, ya sedapatnya saja," tutur Abdullah sambil tertawa pelan.
Abdullah tidak sendiri. Ia adalah bagian dari rombongan "pejuang subuh" asal Bogor. Setiap hari, ia berangkat bersama sekitar 10 rekan sejawat menggunakan kereta rel listrik (KRL) menuju Stasiun Tanah Abang.
Perjalanan mereka dimulai selepas Salat Subuh. Adapun jam pulang mereka tak menentu. Tergantung pada sisa tenaga dan banyaknya barang yang harus dipanggul. Saat pasar sedang banjir pesanan seperti sekarang, Abdullah sering kali baru kembali ke rumah pukul 22.00 WIB.
Hasil ini buat rezeki anak istri di rumah. Buat beli baju Lebaran. Kalau tahun lalu, ya sedapatnya saja
Optimisme serupa juga dirasakan Kaman (58). Sambil bersandar pada bal pakaian berukuran besar, kuli panggul ini mengatur napas di tengah hawa panas lobi pusat grosir.
"Ya lumayan, situasi sedikit lebih baik," tuturnya. Bagi Kaman, bisa pulang membawa ratusan ribu rupiah sehari sudah lebih dari cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Geliat ekonomi di Pasar Tanah Abang juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jakarta. Gubernur Jakarta Pramono Anung hadir membuka Jakarta Hijab Festival di Pasar Tanah Abang pada Kamis (12/3) sore.
Acara itu dirancang untuk mendorong kembali pertumbuhan UMKM di Tanah Abang. Sebab, pedagang curhat mengenai persaingan dengan platform jualan daring yang tidak terbebani pajak fisik seperti mereka.
Politisi PDI Perjuangan itu mengakui tantangan tersebut. Namun, ia melihat ada titik terang dalam pemulihan Pasar Tanah Abang.
"Tadi saya tanyakan, memang sebagian besar menyampaikan sudah mulai ada perbaikan, walaupun belum seperti yang diharapkan. Kenaikannya sekitar 20 sampai 30 persen," kata Pramono.
Pramono menambahkan, sejumlah pedagang pun mulai beradaptasi. Mereka tak lagi hanya mengandalkan toko fisik, tetapi juga merambah dunia digital, seperti berjualan di TikTok, untuk bertahan di tengah tantangan zaman.





