Jumlah pemudik di Jawa Tengah diprediksi mencapai 17,7 juta orang pada Lebaran Idul Fitri 2026. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengatakan jumlah ini mengalami kenaikan sekitar 30 persen dibandingkan tahun.
"Prediksi jumlah pemudik yang akan ke Jawa Tengah sekitar 17,7 juta orang. Naik sekitar 30% dari tahun sebelumnya yang hanya 13 juta orang," kata Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3).
Untuk kesiapan menyambut pemudik ke Jawa Tengah, pihaknya menyiapkan Posko Terpadu Provinsi Jawa Tengah yang akan beroperasi pada tanggal 13–30 Maret 2026 selama 24 jam dengan tiga pembagian sif.
Personel yang ada di posko terpadu terdiri dari pegawai sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Tengah, Polda Jateng, Basarnas, Jasa Marga, BMKG, dan lainnya.
"Jawa Tengah juga memiliki kelompok masyarakat sadar keselamatan. Jumlahnya lebih dari 350 orang. Kami aktifkan mereka menjadi ujung tombak di titik-titik yang jauh dari pantauan," ucapnya.
Sementara itu, untuk melakukan pemantauan arus lalu lintas, Dinas Perhubungan telah memasang 10 titik Closed-Circuit Television (CCTV) yang dapat dipantau 24 jam. CCTV juga dihubungkan dengan CCTV yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota.
"Pemudik bisa mengecek kondisi lalu lintas di kabupaten/kota tujuan sebelum mudik," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan keberadaan posko tersebut telah siap difungsikan. Posko tersebut nantinya untuk melayani pemudik maupun masyarakat yang ada di provinsi ini.
"Posko Terpadu termasuk Pos Pengamanan dan Pelayanan itu sejatinya dibuat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat," katanya.
Pos Terpadu tersebut memiliki peran sebagai pusat komando koordinasi seluruh posko di Jawa Tengah. Yakni mulai dari penanganan darurat di jalan seperti kemacetan, pemudik sakit, kendaraan mogok, kecelakaan, pengolahan dan validasi data untuk pengambilan keputusan cepat. Selain itu juga sebagai sumber informasi tepercaya bagi masyarakat.
Luthfi menambahkan, Pos Terpadu beserta pos-pos lainnya harus siaga dan memonitor wilayah selama 24 jam. Tidak hanya jalur mudik dan pergerakan orang atau barang, tetapi juga daerah-daerah tertentu yang memiliki potensi bencana seperti tanah longsor, tanah bergerak, dan banjir.
Luthfi juga meminta petugas di masing-masing pos-pos menjaga kesehatan. Hal ini bertujuan agar petugas dapat melayani masyarakat dengan baik.
"Sebelum memberikan jaminan keselamatan dan kenyamanan bagi pemudik, petugas yang di pos harus aman dan nyaman dulu," jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan evaluasi mudik 2025 lalu, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan pada pelayanan mudik tahun ini. Hal itu seperti penambahan kantong parkir dan toilet di rest area tol, penambahan Penerangan Jalan Umum (PJU), dan rambu portabel di jalur alternatif. Selain itu perlu perluasan dan sosialisasi aplikasi pemantau arus.
Terkait penerangan jalan umum, Luthfi mengingatkan kepada petugas yang berada di jalur selatan agar waspada. Sebab, di sana penerangan jalan masih minim sehingga diperlukan penambahan rambu penunjang.
Dia juga meminta pihak terkait memantau seluruh objek vital seperti tempat ibadah, pusat perbelanjaan, pasar, hingga destinasi wisata. Ia mengingatkan kepada seluruh petugas untuk memastikan tempat tersebut aman.





