Ekspor RI ke Timur Tengah Diklaim Berjalan Normal

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kegiatan ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah masih berjalan normal meskipun terdapat kendala kenaikan biaya pengangkutan barang. Budi mengatakan informasi tersebut diperoleh dari pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI).

“Iya, mereka (eksportir) menyampaikan memang ada beberapa pengaruh, terutama untuk ekspor ke Timur Tengah,” kata Budi usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat, 13 Maret 2026.

Ia menjelaskan secara umum permintaan komoditas Indonesia dari negara-negara Timur Tengah masih relatif stabil. Namun demikian, menurut dia, kendala utama yang dihadapi eksportir saat ini adalah meningkatnya biaya logistik atau pengangkutan barang.

“Permintaan dari Timur Tengah sebenarnya tidak turun. Yang menjadi naik itu (biaya) angkutannya,” ujarnya.

Meski menghadapi kenaikan biaya transportasi, Budi mengatakan para eksportir Indonesia tetap melanjutkan aktivitas ekspor ke kawasan tersebut. Ia berharap kondisi logistik global dapat segera membaik sehingga aktivitas perdagangan dapat berjalan lebih lancar.

Baca Juga :

Pemerintah Gencarkan Gerakan Pasar Bersih Demi Tarik Minat Belanja Masyarakat
 


(Ilustrasi. Foto: Dok MI) Perdagangan RI di Timur Tengah kecil Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyatakan konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi aktivitas perdagangan global, meskipun dampaknya terhadap perdagangan Indonesia dinilai relatif kecil.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah mencapai sekitar USD9,06 miliar atau sekitar 3,5 persen dari total ekspor nasional. Negara tujuan utama ekspor Indonesia di kawasan tersebut antara lain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman.

Adapun komoditas yang diekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah antara lain minyak sawit dan turunannya, kendaraan dan bagiannya, logam mulia, serta berbagai produk kimia.

Sebelumnya, ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir meningkat menyusul konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut.

Salah satu jalur strategis yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, yang merupakan rute utama pengiriman minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Teluk menuju pasar global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mempengaruhi biaya logistik dan distribusi perdagangan internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BrahMos, Rudal Supersonik India-Rusia yang Dilirik Indonesia
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Plaza Indonesia (PLIN) Cetak Laba Rp639,34 Miliar di 2025, Tergerus 35,9%
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Putri Eugenie Mundur dari Organisasi Anti-Perbudakan karena Skandal Ayahnya
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
LPS Beberkan 2 Skema Implementasi Penjaminan Polis Asuransi
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
KTT D-8 di Jakarta Resmi Ditunda, Pemerintah Tunggu Perkembangan Konflik Timur Tengah
• 2 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.