Musim Dingin di Gaza, Tambah Derita Anak-anak di Tengah Konflik

medcom.id
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Banjir hingga suhu dingin memperparah kondisi Gaza di tengah konflik. Anak-anak mulai kedinginan dan menimbulkan ragam penyakit di antara mereka.
 
Periode Januari hingga Maret ini suhu di Gaza terbilang dingin. Di siang hari suhu bisa mencapai 12 derajat celcius.
 
Bagi ratusan ribu anak yang mengungsi bersama keluarga mereka di penampungan darurat hal ini tentu membawa ancaman tersendiri di tengah hidup yang tidak pasti. Dengan sistem air bersih dan sanitasi yang hancur akibat konflik, hujan deras menyebabkan air yang tidak aman mengalir melalui wilayah padat penduduk.

Hal ini membuat tenda-tenda runtuh serta membasahi pakaian dan perlengkapan tidur. Kombinasi antara kepadatan penduduk dan sanitasi yang buruk menciptakan siklus berbahaya.
 
Mengutip laman unicef.org, seorang ibu di Gaza, Maysaa mengatakan jika anak-anaknya kini kedinginan. Bahkan hanya tersisa dua pakaian saja untuk bertahan di tengah cuaca dingin.
 
"Anak perempuan saya hanya punya dua pakaian. Keduanya basah, jadi sekarang dia memakai celana pendek di tengah cuaca dingin,” kata Maysaa dikutip dari unicef.org, Jumat 13 Maret 2026.
 
Di tengah rumahnya yang hancur, seorang anak, Mayar jika keluarganya sudah kehilangan rumah. Anak berusia 14 tahun itu mesti bertahan di antara puing-puing yang dibalut dingin.
 
"Pagi ini hujan masuk melalui celah-celah dan membasahi kasur serta pakaian kami. Sebelum perang, saya pergi ke sekolah dan pulang ke rumah menjalani kehidupan normal. Kami dulu menikmati hujan. Sekarang kami justru berusaha menghindarinya," kata Mayar.
 
Respon Bantuan UNICEF
 
UNICEF telah mengirim ribuan tenda keluarga. Termasuk juga ratusan ribu selimut dan pakaian musim dingin ke Gaza sebagai bagian dari respons menghadapi musim dingin.
 
Selain itu, bantuan tunai juga diberikan kepada keluarga rentan. Upaya lain termasuk memompa air banjir, memperkuat saluran drainase, serta membersihkan puing-puing yang menyumbat aliran air di lokasi pengungsian.
 
Namun bagi banyak keluarga di Gaza, kebutuhan masih sangat besar. Terlebih musim dingin belum benar-benar berakhir.
 
Bagi anak-anak yang tinggal di tenda-tenda rapuh, setiap awan gelap di langit bisa berarti satu malam lagi yang harus dilalui dalam dingin, basah, dan ketidakpastian. "Dulu musim dingin itu indah. Kami berkumpul bersama keluarga di malam hari dan punya minuman hangat di malam hari," tutup Baghdad.
  Baca juga:  Iklan Junk Food Membanjiri Generasi Muda, Pola Makan Anak Makin Tidak Sehat

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jasa Raharja Pastikan Layanan Publik Cepat saat Lebaran
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Bantah Ekonomi RI di Ambang Resesi: Jauh dari Kata Morat-Marit!
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
KPK: Ada Upaya Yaqut Sogok Pansus Haji USD 1 Juta Tapi Ditolak
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Wamenpar Serahkan Penghargaan Bali Raih Best Island RCA 2026
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Strategis untuk Industri Otomotif dan Transisi Energi
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.