Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak dalam kondisi resesi seperti yang banyak disebut ekonom-ekonom. Menurutnya, ekonomi Indonesia pun jauh dari kata morat-marit.
Purbaya mengatakan ekonomi Indonesia berada dalam keadaan yang sangat baik. Mengacu pada data Purchasing Managers' Index (PMI) pada Februari 2026 di level 53,8, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
"Jadi betul-betul ada perbaikan yang kuat di sektor manufacture. Artinya sisi supply tumbuh dengan kuat. Jadi ini bukan data dari BPS tapi data dari pihak lain yang mengonfirmasi bahwa ekonomi kita memang sedang tumbuh," katanya dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Negara pada hari ini, Jumat (13/3/2026).
Data inflasi pada Februari 2026 juga terlihat tinggi, 4,64%. Padahal, menurutnya, jika menghilangkan data-data subsidi listrik pada Januari-Februari, sebetulnya inflasi hanya sekitar 2,59%.
"Jadi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat lagi, ekonominya enggak kepanasan. Jadi yang lain-lain enggak usah memperlambat pertumbuhan ekonomi," ujar Purbaya.
Baca Juga
- Airlangga: Defisit APBN Bisa Tembus di Atas 3%, Buka Opsi Terbitkan Perppu
- Bahaya Penghapusan Ambang Batas Defisit 3%: SBN Dijauhi Pasar, Rupiah Tertekan
- DPR Ingatkan Risiko Besar Jika Defisit APBN Diubah di Atas 3% PDB
Dia menyinggung banyak pihak ekonomi yang menyebut Indonesia di ambang resesi. Padahal, menurutnya, ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang aman.
"Ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi, tinggal hancurnya. Padahal kalau kita lihat dari tadi PMI naik ke level yang tinggi," ujarnya.
Menurutnya, di industri otomotif, penjualan mobil tumbuh 12,2% pada Februari 2025. Indeks keyakinan konsumen juga menurutnya berada di level 125,2.
"Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat-marit kata ekonom-ekonom di luar itu, Pak [Presiden RI Prabowo Subianto], di TikTok banyak yang ngomong gitu," ujarnya.
Di sisi lain, dia tak menampik bahwa saat ini dinamika global memang sedang gonjang-ganjing. Harga minyak melonjak imbas perang di Timur Tengah antara Iran vs AS-Israel. Selain itu, rupiah telah ambrol. Namun, menurutnya pemerintah telah menyiapkan deretan langkah antisipasi.





