CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stabilitas nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia masih kuat di tengah ketidakpastian global. Kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik juga dinilai tetap terjaga.
Melansir Lembaga Kantor Berita Nasional, ANTARA, pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3). Ia menilai berbagai gejolak global memang kerap menimbulkan kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, namun dampaknya sejauh ini masih terbatas.
"Ada yang bilang rupiah hancur, tetapi kalau dilihat betul, itu setiap perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen. Jadi, sebetulnya bagus daya tahan kita," ujar Purbaya.
Selain nilai tukar, indikator lain yang mencerminkan kepercayaan investor adalah selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.
Menurut Purbaya, spread SBN terhadap US Treasury hanya mengalami kenaikan kecil. Pada Januari 2025, selisihnya tercatat sekitar 240 basis poin, sedangkan saat ini berada di kisaran 243 basis poin.
"Naiknya hanya terbatas hanya 3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik aja yang enggak percaya," katanya.
Ia menambahkan, aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih menunjukkan tren positif. Meski sempat mengalami fluktuasi, arus dana sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini tetap cenderung masuk.
Data pada Maret menunjukkan investor asing masih menempatkan dana di beberapa instrumen keuangan. Investasi pada saham dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing mencatat inflow sekitar Rp2,2 triliun.
Sementara itu, pada instrumen SBN tercatat arus keluar yang relatif kecil, sekitar Rp0,7 triliun.
"Jadi, setelah gonjang-ganjing di bulan Maret, sebetulnya masih masuk ke sini. Artinya mereka percaya betul bahwa pondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini, karena mereka taruh uang," jelas Purbaya.
Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kuat oleh investor global meskipun tekanan ekonomi dunia masih berlangsung.




