DK PBB Memanas: AS-Barat Tekan Nuklir Iran

tvrinews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews - New York

Rusia dan China gagal memblokir pembahasan sanksi di tengah meningkatnya tensi militer antara Washington dan Teheran.

Eskalasi diplomatik di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa mencapai titik didih saat kekuatan global terlibat dalam perdebatan sengit mengenai program nuklir Iran. 

Dewan Keamanan PBB menjadi saksi benturan visi antara blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat melawan aliansi Rusia dan China terkait efektivitas sanksi internasional.

Kebuntuan Diplomatik di Dewan Keamanan

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Amerika Serikat bulan ini, upaya Moskow dan Beijing untuk menghentikan diskusi mengenai komite pengawas sanksi Iran menemui kegagalan. 

Melalui mekanisme pemungutan suara, mayoritas anggota dewan 11 negara memilih untuk melanjutkan pembahasan, sementara hanya dua negara yang mendukung penghentian dan dua lainnya menyatakan abstain.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menuding adanya upaya sistematis dari Rusia dan China untuk memberikan "payung perlindungan" bagi Teheran. 

Menurutnya, penghambatan kerja komite sanksi merupakan langkah mundur di tengah urgensi kepatuhan terhadap embargo senjata dan pembekuan aset keuangan Iran.

"Ketentuan PBB ini dirancang secara spesifik untuk memitigasi ancaman nyata dari program rudal dan nuklir Iran, serta dukungan mereka terhadap aktivitas terorisme," ujar Waltz dalam keterangannya yang dikutip dari Reuters, Jumat 13 Maret 2026.

Laporan IAEA dan Polemik Pengayaan Uranium

Ketegangan ini semakin diperuncing oleh laporan terbaru International Atomic Energy Agency (IAEA). 

Washington menyoroti kekhawatiran badan pengawas tersebut mengenai stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen level yang secara teknis mendekati standar senjata nuklir.

Prancis, sebagai salah satu kekuatan Eropa, memberikan peringatan keras. 

Perwakilan Paris menyatakan bahwa IAEA saat ini tidak lagi memiliki jaminan penuh mengenai sifat damai dari program nuklir Teheran. 

Mereka mengestimasi cadangan material nuklir yang dimiliki Iran saat ini secara teoritis cukup untuk memproduksi hingga sepuluh perangkat hulu ledak.

Respon Moskow, Beijing, dan Teheran

Di sisi lain, Rusia dan China menuduh Washington sedang membangun narasi kepanikan untuk melegitimasi aksi militer. 

Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzya, mengkritik apa yang ia sebut sebagai "histeria" Barat yang tidak memiliki dasar kuat dalam laporan resmi IAEA.

Senada dengan Moskow, perwakilan China, Fu Cong, menilai langkah militer Amerika Serikat justru menghancurkan ruang-ruang diplomasi yang sedang dibangun.

 Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, tetap pada posisi teguh bahwa aktivitas nuklir negaranya murni untuk keperluan sipil.

"Program nuklir Iran selalu dan akan tetap bersifat damai. 

Kami menolak segala bentuk pemaksaan sanksi kembali," tegas Iravani kepada awak media setelah persidangan.

Konteks Geopolitik

Ketegangan di New York ini terjadi hanya dua pekan setelah meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan tersebut. 

Meskipun Presiden Donald Trump mengklaim serangan terhadap fasilitas nuklir diperlukan untuk mencegah Iran memproduksi senjata dalam waktu dekat, sejumlah laporan intelijen internal Amerika Serikat dikabarkan masih meragukan urgensi klaim tersebut.

Pertemuan ini menandai fase baru dalam hubungan internasional, di mana transparansi nuklir dan kedaulatan militer menjadi garis batas yang semakin tipis di meja perundingan global.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Pakai SMS Blast untuk Informasikan Rekayasa Lalin ke Pemudik
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kakorlantas: Masih Ada Truk Over Dimensi Terdeteksi CCTV di Tol, Terancam Sanksi
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Hari Ini untuk Wilayah Jakarta dan Sekitarnya, Sabtu 14 Maret 2026
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kejati Banten Optimalkan Pembayaran Iuran
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Survei LPEM UI: Banyak Ekonom dan Praktisi Pesimistis Melihat Ekonomi Indonesia
• 6 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.