Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami banyak perubahan, termasuk pada otak. Para ahli saraf di Spanyol menemukan adanya hubungan antara hormon kehamilan dan fluktuasi materi abu-abu di otak, Moms.
Temuan ini membantu menjelaskan lebih jauh tentang periode pascapersalinan serta bagaimana ikatan antara ibu dan bayi baru lahir terbentuk.
Dikutip dari New York Post, studi yang dilakukan bekerja sama dengan proyek BeMother menunjukkan, kehamilan kemungkinan menyebabkan penurunan sementara pada materi abu-abu di otak.
Materi abu-abu sendiri merupakan jaringan pada otak dan sumsum tulang belakang yang berperan penting dalam memproses informasi sensorik serta pengambilan keputusan. Selama kehamilan, jaringan ini berpotensi tertekan akibat peningkatan cairan yang mengalir ke otak.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para peneliti menemukan bahwa pemulihan fungsi otak setelah persalinan justru dapat berpengaruh pada kesehatan mental ibu dan membantu membentuk ikatan dengan bayi. Kok bisa?
Alasan Perubahan Struktur Otak Ibu Selama Kehamilan Tidak Perlu DikhawatirkanDalam penelitian tersebut, rata-rata wanita hamil kehilangan hampir 5 persen materi abu-abu otaknya. Penurunan ini memengaruhi sebagian besar wilayah otak, termasuk area yang berperan dalam kognisi sosial.
Susana Carmona, profesor di Institut Penelitian Kesehatan Gregorio Marañón di Madrid, sekaligus salah satu pemimpin studi tersebut, menggambarkan fenomena ini dengan metafora botani.
“Saya suka menggunakan metafora memangkas pohon. Beberapa cabang dipotong agar pohon tumbuh lebih efisien,” kata Carmona.
Meski sebagian materi abu-abu kembali pulih pada fase pascapersalinan —yang kini dikaitkan dengan terbentuknya ikatan ibu dan bayi yang lebih sehat— penelitian ini juga menunjukkan materi abu-abu tidak pernah sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum kehamilan.
Para penulis menggambarkan pengalaman ini pada ibu yang pertama kali hamil sebagai “penataan ulang arsitektur otak”. Perubahan ini dipicu oleh hormon kehamilan, khususnya dua jenis estrogen, yaitu estriol dan estrone sulfat.
Kedua hormon tersebut diketahui “meningkat tajam” selama kehamilan untuk membantu pembentukan plasenta, lalu “menurun drastis” setelah plasenta dikeluarkan saat persalinan.
Selain faktor lingkungan eksternal, perubahan otak yang dipengaruhi hormon tersebut juga memiliki peran besar dalam hubungan antara ibu dan bayi.
Penelitian ini menemukan tingkat pemulihan materi abu-abu yang lebih tinggi setelah persalinan berkaitan dengan berkurangnya “sikap bermusuhan terhadap bayi pada usia 6 bulan pascapersalinan”.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan struktur otak yang dialami oleh ibu hamil mungkin bersifat adaptif, memfasilitasi berbagai aspek perilaku ibu.
Alasan Ibu Rentan Mengalami Masalah Kesehatan Mental Setelah MelahirkanNah Moms, temuan ini juga dapat sekaligus menjelaskan mengapa masa kehamilan dan pascapersalinan sering dianggap sebagai periode berisiko tinggi terhadap gangguan kesehatan mental.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 10 persen wanita hamil dan 13 persen wanita pascapersalinan di seluruh dunia mengalami gangguan kesehatan mental, terutama depresi.
Dalam banyak kasus, masalah kesehatan mental pada ibu juga dipengaruhi faktor sosial. Beberapa di antaranya seperti kurangnya kebijakan cuti orang tua yang mendukung, layanan kesehatan ibu yang tidak memadai, stres kronis, hingga ketidakadilan dalam akses layanan kesehatan.
Namun, penelitian ini menegaskan bahwa faktor biologis juga memiliki peran penting.
Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan MRI dan sampel urine untuk menganalisis otak serta kadar hormon dari 179 perempuan sebelum, selama, dan setelah kehamilan.
Temuan dari pasangan-pasangan ini memungkinkan para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan neurologis merupakan hasil dari “proses biologis kehamilan, bukan pengalaman menjadi seorang ibu,” menurut siaran pers dari Universitat Autonoma de Barcelona.
Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan, temuan ini memberikan petunjuk penting tentang bagaimana cara merawat ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan dengan lebih baik.
“Secara bersama-sama, temuan-temuan ini membuka pintu untuk mengidentifikasi periode-periode spesifik selama kehamilan dan pascapersalinan ketika pengalaman dan intervensi dapat memberikan dampak terbesar pada kesehatan otak ibu dan kesejahteraan psikologis,” tulis para penulis.




