Tanpa Disadari, Kalimat Ini Bikin Anak Enggan Curhat ke Orang Tua

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Banyak orang tua yang merasa sudah memberi ruang bagi anak untuk bercerita. Namun, pada kenyataannya, tidak semua anak merasa nyaman untuk curhat kepada orang tuanya. Bukan karena anak tidak ingin terbuka, tetapi sering kali karena respons yang mereka terima membuat mereka merasa tidak dipahami.

Tanpa disadari, kalimat yang terdengar sepele bisa membuat anak kapok bercerita. Jika hal ini terjadi berulang, anak bisa memilih memendam masalahnya sendiri daripada berbagi dengan orang tua, lho, Moms.

Kalimat yang Bisa Membuat Anak Enggan Curhat

Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana, M.Psi., Psikolog, cara orang tua merespons cerita anak sangat memengaruhi keterbukaan mereka.

“Jika respons yang diberikan seperti menghakimi, meremehkan, memberi ceramah panjang hingga bocor ke orang lain, ini yang membuat anak jadi enggan untuk bercerita,” jelas Vera pada kumparanMOM, Jumat (13/3).

Vera juga memberi contoh beberapa kalimat yang sering diucapkan orang tua, yang tanpa disadari justru bisa membuat anak merasa tidak nyaman, seperti:

“Kan ibu sudah bilang dari dulu!”

“Ah, cuma gitu aja kok sedih? Lebay!”

“Lihat tuh, temanmu aja bisa, masa kamu nggak?”

“Kemarin dia ngompol di sekolah. Udah besar, malah bikin malu aja.”
(Cerita anak dibocorkan ke orang rumah)

“Makanya, kalau orang tua nasihatin tuh didengerin.”
(Berakhir jadi ceramah panjang)

Kalimat seperti ini dapat membuat anak merasa dihakimi atau dipermalukan. Akibatnya, mereka bisa berpikir bahwa bercerita kepada orang tua justru akan membuat situasi terasa lebih tidak nyaman, Moms.

Cara Merespons Cerita Anak agar Mereka Lebih Terbuka

Tapi tenang, Moms. Vera juga membagikan beberapa tips agar anak merasa aman untuk berbagi cerita dengan orang tua, misalnya dengan memberikan respons yang lebih positif seperti berikut.

1. Beri empati sebelum memberi solusi

“Sepertinya ini berat buat kamu, ya. Ibu selalu dukung kamu. Kalau butuh solusi, ibu siap bantu.”

2. Validasi perasaan anak

“Pasti kamu sedih, ya. Ibu ngerti kok. Ceritain aja semuanya.”

3. Tetap hadir tanpa memaksa

“Kalau belum siap cerita sekarang nggak apa-apa. Ibu selalu ada kalau kamu butuh.”

4. Beri ruang anak mengelola emosi

“Nggak apa-apa, kamu tenangin diri dulu.”

5. Bangun hubungan hangat setiap hari

Berkomunikasi secara rutin juga penting untuk membangun bonding dengan anak, seperti:

“Karena keterbukaan anak tidak hanya muncul saat ada masalah. Justru hubungan yang hangat dalam keseharian, seperti ngobrol santai atau makan bersama,” jelas Vera.

Ketika hubungan terasa hangat dan penuh empati, anak pun akan lebih nyaman untuk terbuka dan menceritakan apa yang mereka rasakan kepada orang tua, Moms.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pundak Ringan Porter Tanah Abang Menjemput Berkah Ramadhan
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Akademisi: Pembatasan AI untuk pendidikan bukan solusi utama
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Indonesia Perlu Menarik Diri dari Board of Peace (BoP), Akademisi Unhas Jabarkan Alasannya
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sepekan Jelang Lebaran, Tol Cikampek Ramai Lancar
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Yulius Setiarto PDIP Desak Usut Tuntas dan Transparan Kasus Aktivis Kontras Disiram Air Keras
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.