JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, konflik global yang berkepanjangan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 130 dolar AS per barel.
Airlangga menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario pergerakan harga minyak, sebagai antisipasi jika ketegangan geopolitik berlangsung dalam jangka waktu lama.
“Kami membuat beberapa skenario jika konflik berlangsung lima bulan, enam bulan hingga sepuluh bulan. Dalam skenario tersebut harga minyak bisa naik hingga 107 dolar AS, bahkan dalam skenario sepuluh bulan bisa mencapai sekitar 130 dolar AS sebelum turun pada akhir tahun,” ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga: Purbaya: Harga Minyak di Atas 100 Dolar Tak Selalu Menekan Ekonomi RI
Dalam pemaparannya, Airlangga menerangkan dalam skenario konflik selama lima bulan, rata-rata harga minyak diperkirakan mencapai sekitar 90 dolar AS per barel.
Sementara pada skenario enam bulan, harga rata-rata minyak dapat meningkat hingga sekitar 97 dolar AS per barel.
Adapun dalam skenario konflik berkepanjangan hingga sepuluh bulan, rata-rata harga minyak berpotensi mencapai sekitar 115 dolar AS per barel.
Baca Juga: Bahlil: RI Buka Sumber Impor Minyak dari AS, Tantangannya Waktu Pengiriman 40 Hari
"Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) umumnya berada sekitar 3 dolar AS lebih rendah dibandingkan harga minyak acuan global Brent," ujarnya.
Ia menerangkan, lonjakan harga minyak pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah.
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- harga minyak dunia
- bbm
- defisit apbn
- pemotongan anggaran
- airlangga hartarto
- perang iran





