Perang Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak, Pemerintahan Trump Dinilai Salah Perhitungan

mediaindonesia.com
22 jam lalu
Cover Berita

SAAT Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran pada 18 Februari, Menteri Energi AS Chris Wright menilai konflik tersebut tidak akan mengganggu pasokan minyak di Timur Tengah maupun memicu gejolak besar di pasar energi global.

Dalam sebuah wawancara, Wright mengatakan pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak konflik terhadap pasar minyak cenderung terbatas. Bahkan saat terjadi serangan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Juni lalu, menurutnya pasar tidak mengalami gangguan berarti.

"Harga minyak sempat naik lalu turun kembali," kata Wright dikutip NY Times, Kamis (12/3).

Baca juga : Donald Trump Beri Peringatan Keras ke Iran soal Ranjau di Selat Hormuz

Beberapa penasihat Trump juga memiliki pandangan serupa secara pribadi. Mereka menilai peringatan bahwa Iran dapat melancarkan perang ekonomi dengan menutup jalur pelayaran utama dunia sebagai kemungkinan yang kecil.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran tersebut terbukti tidak sepenuhnya tepat. Iran mengancam akan menyerang kapal tanker minyak komersial yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama kapal-kapal dari Teluk Persia.

Ancaman itu langsung berdampak pada aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Sejumlah pengiriman komersial terhenti, harga minyak melonjak, dan pemerintahan Trump harus mencari cara untuk meredam dampak ekonomi yang mulai dirasakan di dalam negeri, termasuk kenaikan harga bensin bagi warga Amerika.

Baca juga : AS Bantah Kawal Tanker di Selat Hormuz: Sempat Picu Gejolak Harga Minyak Dunia

Perkembangan ini dipandang sebagai contoh kekeliruan Washington dalam membaca respons Teheran. Pemerintah Iran sendiri memandang konflik tersebut sebagai ancaman yang menyangkut kelangsungan eksistensinya.

Respons Iran Lebih Agresif

Berbeda dengan konflik 12 hari yang terjadi pada Juni sebelumnya, Iran kali ini merespons dengan langkah yang lebih agresif. Teheran meluncurkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan militer AS, kota-kota di negara Arab kawasan Timur Tengah, serta pusat populasi di Israel.

Situasi tersebut memaksa pejabat Amerika Serikat melakukan penyesuaian rencana secara mendadak, mulai dari evakuasi cepat sejumlah kedutaan hingga menyusun kebijakan untuk meredam kenaikan harga bahan bakar.

Setelah pejabat pemerintahan Trump memberikan pengarahan tertutup kepada anggota parlemen, Senator Christopher S. Murphy dari Connecticut mengkritik kurangnya strategi yang jelas terkait situasi di Selat Hormuz.

Ia menulis di media sosial bahwa pemerintah tidak memiliki rencana yang memadai untuk menghadapi krisis tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman.

Di dalam pemerintahan sendiri, beberapa pejabat disebut mulai pesimis terhadap kurangnya strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik. Namun mereka berhati-hati menyampaikan pandangan tersebut secara langsung kepada presiden, yang berulang kali menyatakan bahwa operasi militer berjalan sukses.

Trump disebut menetapkan tujuan maksimalis, termasuk desakan agar Iran menunjuk pemimpin yang bersedia tunduk pada Amerika Serikat. 

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggambarkan tujuan yang lebih sempit dan taktis sebagai jalan keluar yang lebih realistis dalam jangka pendek. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan pemerintah memiliki rencana sebelum perang dimulai.

"Gangguan yang disengaja di pasar minyak oleh rezim Iran bersifat jangka pendek, dan diperlukan untuk keuntungan jangka panjang dalam membasmi teroris ini dan ancaman yang mereka timbulkan bagi Amerika dan dunia," ujarnya.

Pentagon Akui Respons Iran Tak Sepenuhnya Diprediksi

Menteri Pertahanan Hegseth mengakui respons keras Iran terhadap negara-negara tetangganya cukup mengejutkan bagi Pentagon. "Saya tidak bisa mengatakan kami mengantisipasi persis bagaimana mereka akan bereaksi, tetapi kami tahu itu adalah sebuah kemungkinan," kata Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon. 

"Saya pikir itu adalah demonstrasi keputusasaan rezim tersebut," sebutnya.

Trump sendiri menunjukkan frustrasi atas dampak perang terhadap pasokan energi. Dalam wawancara dengan Fox News, ia meminta kapal tanker minyak tetap berlayar melalui Selat Hormuz. Awak kapal tanker, menurutnya, harus menunjukkan keberanian.

Beberapa penasihat militer sebelumnya telah memperingatkan Iran kemungkinan akan merespons dengan kampanye agresif jika diserang. Namun sebagian penasihat lain meyakini bahwa pembunuhan sejumlah pemimpin senior Iran dapat membuka jalan bagi kepemimpinan yang lebih pragmatis.

Saat diberi pengarahan mengenai risiko kenaikan harga minyak akibat perang, Trump mengakui kemungkinan tersebut tetapi menilainya sebagai dampak jangka pendek. Ia kemudian meminta Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Keuangan Scott Bessent menyiapkan sejumlah opsi untuk mengatasi lonjakan harga energi.

Upaya Menjaga Jalur Pelayaran

Namun opsi-opsi tersebut tidak segera diumumkan secara terbuka. Di antaranya termasuk skema asuransi risiko politik yang didukung pemerintah AS serta kemungkinan pengawalan kapal oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

Lebih dari 48 jam setelah konflik dimulai, langkah-langkah tersebut belum sepenuhnya dijalankan.

Situasi pasar sempat terguncang ketika Wright menulis di media sosial bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker melalui Selat Hormuz. Unggahan itu sempat menenangkan pasar minyak dan mendorong kenaikan saham. Namun setelah postingan tersebut dihapus karena pemerintah menyatakan pengawalan belum dilakukan, pasar kembali bergejolak.

Menurut seorang pejabat AS, upaya melanjutkan pengiriman minyak juga diperumit oleh laporan intelijen bahwa Iran sedang bersiap menempatkan ranjau di selat tersebut. Militer AS kemudian melancarkan serangan terhadap 16 kapal Iran yang diduga sedang menyiapkan ranjau di sekitar Selat Hormuz.

Tekanan Politik dan Ekonomi

Kenaikan harga minyak global juga mulai menimbulkan kekhawatiran politik di Washington. Sejumlah anggota Partai Republik khawatir lonjakan harga energi dapat merusak agenda ekonomi mereka menjelang pemilihan paruh waktu.

Trump menyatakan produksi minyak dari Venezuela dapat membantu menstabilkan pasar jika terjadi gangguan pasokan akibat konflik Iran. Pemerintah AS juga mengumumkan pembangunan kilang baru di Texas yang diharapkan dapat meningkatkan pasokan minyak domestik.

Mencari Jalan Keluar

Para pejabat Gedung Putih sebelumnya meyakini jalur pelayaran tetap terbuka, meskipun pada tahun lalu Trump juga melancarkan kampanye militer terhadap kelompok Houthi movement di Yemen yang sempat mengganggu perdagangan di Laut Merah.

Sejak perang dengan Iran dimulai, pesan yang disampaikan Trump dinilai tidak selalu konsisten. Ia sempat mengatakan konflik bisa berlangsung lebih dari satu bulan, namun pada kesempatan lain menyebut operasi militer hampir sepenuhnya selesai.

Sementara itu Rubio menjelaskan tiga tujuan utama operasi militer Amerika Serikat. "Tujuan misi ini jelas," kata Rubio dalam sebuah acara Departemen Luar Negeri. 

"Tujuannya adalah untuk menghancurkan kemampuan rezim ini untuk meluncurkan rudal, baik dengan menghancurkan rudal maupun peluncurnya; menghancurkan pabrik-pabrik yang membuat rudal-rudal ini; dan menghancurkan angkatan laut mereka," tambahnya.

Mantan wakil penasihat keamanan nasional AS Matthew Pottinger menilai Trump masih mempertimbangkan kemungkinan memperpanjang konflik jika Iran tetap berusaha mengendalikan Selat Hormuz.

"Dalam konferensi persnya, saya dapat mendengar dia kembali pada alasan untuk berperang sedikit lebih lama mengingat rezim tersebut masih memberi sinyal bahwa mereka tidak akan gentar dan masih berusaha mengendalikan Selat Hormuz," katanya.

Biaya Perang Membengkak

Tekanan untuk menemukan jalan keluar semakin besar setelah biaya perang melonjak. Para pejabat Pentagon dalam pengarahan tertutup di Capitol Hill mengungkapkan militer AS telah menggunakan amunisi senilai sekitar US$5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama konflik. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan yang sebelumnya diungkapkan kepada publik.

Di sisi lain, pejabat Iran tetap menunjukkan sikap menantang dan menegaskan akan menggunakan pengaruhnya terhadap pasokan minyak global. "Selat Hormuz akan menjadi Selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua," kata Ali Larijani, pejabat keamanan nasional senior Iran, dalam unggahan media sosial.

"Atau akan menjadi Selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang," pungkasnya. (Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakar Eksaminasi Putusan Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak, Ini Kesimpulannya
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Kolaborasi Santuni Penghuni Panti Jompo
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BCA (BBCA) Tebar Dividen Tahun Buku 2025 Rp336 per Saham
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
DPR Setujui RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Jadi Usul Inisiatif
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
Selat Hormuz Memanas, Bahlil Lapor Prabowo untuk Siapkan Alternatif Pasokan Minyak
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.