Nilai Tukar Rupiah Melemah, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Serangan Netizen

eranasional.com
17 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik di tengah dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, termasuk konflik yang memanas di Timur Tengah, telah memicu tekanan terhadap banyak mata uang negara berkembang. Dalam situasi tersebut, pemerintah Indonesia berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak terdampak secara berlebihan oleh gejolak global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah sempat memancing berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk kritik tajam dari warganet di media sosial. Ia mengaku menjadi sasaran komentar pedas yang mempertanyakan kinerja pemerintah dalam menjaga stabilitas mata uang nasional.

Pengakuan tersebut disampaikan Purbaya saat konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 yang digelar di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, ia tidak hanya memaparkan kondisi ekonomi nasional, tetapi juga membagikan pengalaman pribadi terkait kritik yang diterimanya di dunia maya.

Menurut Purbaya, sejumlah pengguna media sosial bahkan melontarkan komentar yang cukup keras terhadap dirinya. Kritik tersebut muncul karena sebagian masyarakat menilai pelemahan rupiah sebagai indikator langsung kinerja pemerintah di bidang ekonomi.

Ia mencontohkan pengalaman yang dialaminya di platform media sosial TikTok, di mana beberapa pengguna internet menulis komentar bernada sinis yang mempertanyakan apa yang telah ia lakukan sebagai Menteri Keuangan.

“Di TikTok saya dimaki-maki orang. Katanya, ‘Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa saja, itu rupiah lihat,’” ujar Purbaya menirukan salah satu komentar warganet.

Meski menerima kritik tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak melihat kondisi nilai tukar rupiah secara terpisah dari situasi global yang sedang terjadi. Menurutnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang memang meningkat sejak konflik geopolitik kembali memanas di sejumlah kawasan dunia.

Purbaya menjelaskan bahwa gejolak geopolitik sering kali memicu pergerakan modal global menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat. Kondisi ini secara alami menyebabkan mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Namun ia menekankan bahwa jika dilihat secara komparatif, pelemahan rupiah masih tergolong moderat dibandingkan mata uang beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara.

“Kalau Anda lihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak perang itu, depresiasinya sekitar 0,3 persen. Itu masih relatif kecil dibandingkan negara lain,” kata Purbaya.

Ia kemudian memaparkan perbandingan dengan beberapa mata uang regional. Dalam periode yang sama, nilai tukar ringgit Malaysia tercatat mengalami pelemahan sekitar 0,5 persen. Sementara itu, mata uang Thailand bahkan mengalami depresiasi yang lebih dalam, yakni sekitar 1,6 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Perbandingan tersebut, menurut Purbaya, menunjukkan bahwa rupiah masih memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan pasar global.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya menilai kondisi ekonomi hanya dari level nilai tukar semata. Dalam analisis ekonomi, yang lebih penting adalah melihat seberapa besar perubahan nilai mata uang dibandingkan negara lain dalam periode yang sama.

Pendekatan komparatif ini dinilai lebih objektif untuk memahami dinamika ekonomi global yang kompleks.

“Bukan hanya melihat level nilai tukarnya saja, tetapi juga seberapa besar pelemahannya dibandingkan negara lain. Dari sisi itu, rupiah masih cukup baik,” ujarnya.

Lebih jauh, Purbaya menilai stabilitas rupiah saat ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih relatif kuat. Ia menyebut bahwa berbagai indikator makroekonomi menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang stabil meski menghadapi tekanan eksternal.

Salah satu faktor yang menjaga stabilitas tersebut adalah koordinasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral. Menurut Purbaya, sinergi antara kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah dan kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Koordinasi kebijakan ini mencakup berbagai langkah strategis, mulai dari pengelolaan anggaran negara, stabilisasi pasar keuangan, hingga pengaturan likuiditas di sektor perbankan.

Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia melalui kebijakan fiskal yang disiplin. Pengelolaan anggaran yang hati-hati dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan stabilitas pasar keuangan.

“Kita masih dianggap mampu menjaga kebijakan fiskal dan moneter dengan baik serta memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat,” kata Purbaya.

Ia menambahkan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi global yang sering kali berada di luar kendali pemerintah. Oleh karena itu, koordinasi antarnegara serta kerja sama internasional juga menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian global.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan ekonomi untuk menghadapi potensi gejolak global. Langkah tersebut mencakup penguatan cadangan devisa, diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi, serta penguatan sektor industri dalam negeri.

Purbaya berharap masyarakat dapat melihat kondisi ekonomi secara lebih komprehensif dan tidak mudah terpengaruh oleh persepsi yang berkembang di media sosial.

Menurutnya, kritik dari masyarakat merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun ia menilai penting bagi publik untuk memahami bahwa pergerakan ekonomi global memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.

“Kritik tentu boleh saja, tetapi kita juga harus melihat datanya secara menyeluruh,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas ekonomi nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kebijakan yang bertujuan mempertahankan kepercayaan pasar sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Dengan koordinasi kebijakan yang terus diperkuat, pemerintah berharap rupiah dapat tetap stabil dan perekonomian nasional mampu menghadapi berbagai tantangan global yang mungkin muncul di masa mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PM Malaysia Umumkan Tak Ada Open House Idul Fitri, Kunjungan LN Dipangkas
• 18 jam laludetik.com
thumb
Dinkes Jabar Waspadai Lonjakan Penyebaran Campak saat Mudik
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Telepon MBS, Minta Aksi Militer di Timur Tengah Dihentikan
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Kasus Kuota Haji 2023–2024, KPK Tahan Mantan Menag Yaqut
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Keringat di Balik Baju Lebaran: Perjuangan Porter Tanah Abang Banting Tulang hingga Kereta Terakhir
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.