Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan Indonesia bakal menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia pada 2050.
Dalam jangka pendek, ia mengaku optimistis ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026. Ia menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, antara lain tercermin dari surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini.
"Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama," ujar Airlangga dalam Tokyo Conference 2026, dikutip dari Antara, Kamis, 12 Maret 2026.
Maka dari itu, Indonesia dinilai siap memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra di kawasan guna menjaga ketahanan ekonomi global.
Baca juga: Mau Genjot Industri Digital, RI Butuh Tambahan 150 Ribu Insinyur Asia punya potensi besar jadi kekuatan ekonomi utama dunia
Dalam paparannya, Airlangga menyampaikan negara-negara Asia sebenarnya memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud jika negara-negara di kawasan tetap berkomitmen pada kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.
Kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen dari PDB global pada 2050. Artinya, dalam kurang dari 25 tahun mendatang Asia akan memainkan peran yang semakin besar dalam perekonomian dunia.
"Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka 2050 dapat menjadi abad Asia," kata Airlangga.
Menurut proyeksinya, Tiongkok akan menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan nilai PDB hampir USD58 triliun pada 2050. Posisi berikutnya ditempati India dengan PDB sekitar USD44 triliun. Sementara itu, Indonesia diperkirakan berada di posisi ketiga dengan PDB sekitar USD10 triliun hingga USD11 triliun.
Adapun Jepang diprediksi memiliki PDB sekitar USD8 triliun sampai USD9 triliun, sedangkan Korea Selatan diperkirakan mencatatkan PDB sekitar USD3 triliun hingga USD4 triliun pada 2050.
"Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan," ungkap dia.
Airlangga juga menyoroti peran kawasan ASEAN yang diproyeksikan menjadi salah satu blok ekonomi utama dunia dalam 25 tahun mendatang. Saat ini, kawasan ASEAN memiliki PDB kolektif sekitar USD4,13 triliun.
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Hubungan antarnegara besar bersifat transaksional
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga turut menyinggung ketegangan geopolitik global yang dinilai meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia. Menurutnya, hubungan antarnegara besar saat ini semakin dipengaruhi kepentingan strategis dan politik yang bersifat transaksional.
Ia juga menilai tren proteksionisme meningkat dan berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap sistem multilateral. Misalnya, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) masih menghadapi tantangan dalam mencapai kemajuan pada isu perdagangan digital dan penguatan rantai pasok global.
Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menghadapi kesulitan dalam menjaga efektivitas multilateralisme akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan berbagai krisis global yang semakin kompleks.
Adapun situasi geopolitik di Timur Tengah turut memicu ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut berdampak pada fluktuasi harga energi dunia.
Berdasarkan data per 10 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat sekitar USD90,42 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga lebih dari USD100 akibat penutupan Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik di kawasan tersebut.




