FAJAR, JAKARTA – Keputusan Rismon Hasiholan Sianipar (RHS) untuk menempuh jalan damai melalui restorative justice (RJ) memicu reaksi keras. Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai tindakan tersebut memalukan. Berbanding terbalik dengan narasi keras yang selama ini dibangun Rismon di ruang publik.
Erizal menggunakan peribahasa “lagak sipulut ditenak berderai (berlagak kaya, namun tidak memiliki apa-apa)” untuk menggambarkan situasi Rismon yang tampak berani di luar namun rapuh di dalam.
“Memalukan. Ternyata ia tidak sekeras kata-katanya. Dulu sesumbar bersedia membusuk di penjara, kini justru mengajukan RJ,” ungkap Erizal pada Kamis (12/3/2026), seperti dilansir rmol.id.
Menurut Erizal, langkah Rismon ini secara otomatis memenangkan posisi mantan Presiden Joko Widodo tanpa harus terlibat konflik lebih jauh. Ia juga menyinggung perasaan para pendukung setia Jokowi, termasuk Andi Azwan, yang sejak awal meragukan tuduhan tersebut.
“Tak terbayang wajah Andi Azwan dan pendukung Jokowi lainnya. Jokowi kembali menang tanpa harus masuk ke gelanggang,” ujar Erizal.
Hingga saat ini, kasus tudingan ijazah palsu tersebut diketahui belum mencapai tahap P21. Berkas perkara sempat dikembalikan oleh jaksa kepada penyidik untuk pendalaman lebih lanjut sebelum permohonan damai ini muncul.
Dugaan Motif di Balik Pengajuan Damai
Muncul spekulasi mengenai alasan di balik berubahnya sikap Rismon secara mendadak. Erizal menyebut adanya kemungkinan kekhawatiran Rismon terhadap laporan balik terkait keaslian ijazah doktoral miliknya sendiri dari Yamaguchi, Jepang.
Muncul kecurigaan bahwa ijazah milik RHS sendiri bermasalah. Kritikus menilai fatal jika seseorang mempersoalkan ijazah orang lain sementara ijazah pribadinya diragukan.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, membenarkan adanya surat permohonan tersebut. Pihak kepolisian menyatakan bahwa Rismon bersama pengacaranya telah menyerahkan berkas fasilitasi restorative justice kepada penyidik sejak pekan lalu. (*)





