Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menargetkan seluruh pengungsi korban bencana di Sumatera tidak lagi tinggal di tenda sebelum Lebaran 2026.
Hal itu disampaikan Tito saat penyerahan ambulans pada daerah terdampak bencana hidrometeorologi Sumatera di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Hadir dalam kesempatan itu Menkes Budi Gunadi Sadikin dan donatur.
Mengikuti arahan Menkes, Tito mengatakan keberadaan pengungsi di tenda tidak boleh berlangsung terlalu lama karena berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan maupun psikologis, terutama bagi anak-anak.
“Kami juga menarget sebelum Lebaran tidak ada lagi yang di tenda. Jangan terlalu lama di tenda karena tidak bagus untuk kesehatan mental, tidak bagus kesehatan fisik,” kata Tito yang juga Kasatgas penanganan pascabencana Sumatera ini.
Menurut dia, kondisi tinggal di tenda dalam waktu lama juga berisiko memicu penyakit kulit hingga penularan penyakit menular seperti campak pada anak-anak.
“Yang bahaya kalau anak-anak kena campak,” ujarnya.
Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, terjadi pada akhir November 2025. Bencana ini akibat badai Senyar yang diperparah oleh kerusakan alam ini berupa longsor, banjir, dan banjir bandang. Lebih seribu orang tewas dan sejumlah orang dinyatakan hilang.
Jumlah Pengungsi Terus TurunTito menjelaskan jumlah pengungsi korban bencana di Sumatera saat ini terus menurun seiring percepatan penanganan oleh pemerintah pusat dan daerah.
Pada awal bencana yaitu pada akhir November 2025, jumlah pengungsi sempat mencapai sekitar 12.000 orang. Namun jumlah tersebut kini telah turun drastis.
“Cepat sekali berkurang, dari 12.000 sekarang tinggal sekitar 1.600-an,” kata Tito.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk mempercepat pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak.
Ia menyebut saat ini hanya tersisa satu titik pengungsian yang masih menjadi perhatian pemerintah, yakni di wilayah Langkahan, Aceh Utara.
“Saya minta dalam waktu sekitar 10 hari hunian sementaranya sudah jadi,” ujarnya.
Menurut Tito, pemerintah saat ini terus memantau proses pemulihan di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, fasilitas kesehatan, akses jalan, hingga pemulihan ekonomi masyarakat.
Ia menyebut sebagian besar layanan dasar kini telah kembali berjalan normal, termasuk listrik, komunikasi, distribusi bahan bakar, serta aktivitas pasar.
“Kami melihat banyak indikator sudah mendekati normal, termasuk fasilitas kesehatan yang relatif cepat pulih,” kata Tito.





