BMKG: Waspada Potensi Kekeringan Ekstrem saat Musim Kemarau di Bali Mulai Juli

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat agar mewaspadai potensi kekeringan ekstrem saat musim kemarau di sejumlah wilayah di Bali.

Hal ini karena BMKG mendeteksi munculnya fenomena El Nino lemah sepanjang Juli, Agustus, September, hingga Oktober 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali Amidunin Al Roniri memprediksi sekitar 90 persen wilayah di Bali akan dilanda musim kemarau di bawah normal dampak fenomena El Nino.

Sifat di bawah normal adalah curah hujan selama periode kemarau lebih sedikit daripada rata-rata klimatologis, sehingga menyebabkan musim kemarau terasa lebih kering dari biasanya.

"Prediksi sifat musim kemarau tahun 2026 bersifat bawah normal terjadi sekitar 90 persen dan normal 10 persen," katanya saat jumpa pers secara virtual, Kamis, (12/3).

Sementara itu, Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali Trayi Budi Samantu memprediksi potensi titik rawan kekeringan ekstrem di wilayah Kabupaten Buleleng bagian utara, Buleleng bagian barat hingga timur, Kecamatan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Klungkung bagian selatan.

"Contohnya di wilayah Buleleng bagian timur, yaitu di wilayah Tejakula, Kubutambahan tahun lalu mengalami kekeringan sebab satu hingga dua bulan tidak mengalami hujan sehingga susah untuk mencari air di wilayah sana berturut-turut dan perlu bantuan pemerintah setempat," katanya.

Suhu udara maksimum sepanjang musim kemarau masih normal, yaitu berkisar 35 derajat Celsius. Cuaca panas dan gerah ini diprediksi tidak sepanas tahun 2023 dan 2024.

"Kami akan terus memantau perkembangan dan melakukan update setiap dasarian agar masyarakat dan pemerintah bisa mengetahui kondisi cuaca terkini," katanya.

Sedangkan daerah yang memasuki musim kemarau paling awal, yaitu pada Maret, adalah Pulau Nusa Penida, Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan, dan Karangasem bagian selatan.

Daerah yang memasuki musim kemarau pada April adalah sebagian besar Jembrana, Buleleng bagian barat, tengah, timur, dan utara, Karangasem bagian tengah, timur, dan selatan.

Kemudian Bangli bagian selatan, Klungkung bagian utara, Badung bagian selatan, Gianyar bagian selatan, Tabanan bagian selatan, Denpasar, Bangli bagian tengah, Tabanan bagian tengah, Gianyar bagian selatan, dan Badung bagian tengah.

Pada Mei, yaitu Jembrana bagian timur, Tabanan bagian barat, Tabanan bagian utara, Tabanan bagian tengah, Buleleng bagian tengah, selatan, dan tenggara, Badung bagian utara dan tengah, Bangli bagian utara, tengah, dan selatan, Karangasem bagian barat, dan Gianyar bagian tengah.

Selanjutnya, Buleleng bagian selatan, Tabanan bagian utara, Badung bagian utara, Gianyar bagian utara, dan Bangli bagian tengah.

"Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026," katanya.

BMKG mengimbau pemerintah daerah agar mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, memantau debit sungai dan cadangan sumber air secara berkala, menyusun strategi distribusi air irigasi yang efisien, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan menghadapi musim kemarau.

"Rekomendasi bagi masyarakat yang berada di titik rawan kekeringan agar bijak dan hemat dalam penggunaan air, menyediakan cadangan air bersih, meningkatkan kewaspadaan terhadap suhu panas serta potensi kekeringan," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Awas Perang Baru Dunia, Rudal Inggris Hantam Rusia
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Generasi Scroll: Ketika Layar Lebih Dekat daripada Realitas
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Zulfikar Hamonangan: Selama Bahan Baku Impor, Masalah Pupuk Tak Akan Selesai
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
KPK Tahan Eks Menag Terkait Kasus Kuota Haji
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Gus Alex Sempat Perintahkan Fee Dikembalikan Saat DPR Mau Bentuk Pansus Haji
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.