Tak Cuma Pengobatan, Pasien Kanker Remaja-Dewasa Muda Perlu Didampingi Psikolog

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Merawat pasien kanker usia remaja dan dewasa muda membutuhkan lebih dari sekadar pertolongan medis. Perhatian terhadap kualitas hidup mereka pun menjadi sangat penting.

Menurut Poon Yi Ling Eileen, dokter onkologi di National Cancer Centre Singapore (NCCS) sekaligus pimpinan The Adolescents and Young Adults Oncology (AYAO) Programme, pasien remaja menghadapi banyak masalah yang kerap disepelekan. Misalnya, terkait stigma sosial, keluarga, finansial, pertemanan, hingga percintaan. Hal ini bisa membuat mereka punya tekanan psikis.

“Banyak dari mereka yang punya karakteristik biologis yang unik. Satu jenis kanker di kelompok usia (di bawah 16 tahun) ini bisa muncul dalam bentuk berbeda dan agresivitas yang berbeda,” jelas Eileen dalam acara SingHealth Peritoneal Surface Oncology Conference, Selasa (10/3/2026) di Singapura.

“Tak jarang, pasien tidak menyangka kanker terjadi pada mereka dan mungkin tidak menganggap gejalanya sebagai hal yang serius. ‘Oh, mungkin hanya tegang otot’ begitu,” kata dia.

Eileen sering menemukan pasien mencari keterangan dari dokter yang berbeda 3-4 kali sebelum didiagnosis kanker. Tak sedikit yang terdeteksi saat kanker sudah stadium lanjut.

Untuk itu, layanan konseling dengan pendekatan holistik perlu diberikan agar pasien punya kualitas hidup yang lebih baik selama perawatan. Melalui program AYAO, ia memfasilitasi pasien kanker berusia 16-45 tahun untuk konseling dan membantu membuat rencana perawatan lebih maksimal. Eileen dan tim juga berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan pelayanan kesehatan. Lembaga seperti ini sudah banyak ditemukan di negara barat.

“Di Asia, hal terkait kesehatan mental, seks, fertilitas, pekerjaan, merupakan isu relevan yang sering luput dari diagnosis dan tidak teratasi. Program kami, EMPOWER, mendukung dewasa muda dengan menyediakan layanan konseling sesuai usia, holistik, dan personal,” ujar Eileen.

“Bukan menggantikan perawatan utama dari kanker, melainkan berjalan beriringan, sehingga dokter kanker bisa fokus pada pengobatan, sementara kami fokus pada aspek hidup lainnya,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, banyak pasien yang denial dan marah ketika tahu dirinya mengalami kanker, dan itu wajar. Pertanyaan ‘Kenapa saya?’ sering muncul, terlebih saat tahu bahwa anggota keluarga lain sehat. Tak sedikit juga survivor yang panik ketika melihat gejala—mereka takut kanker kambuh lagi.

Ada juga yang memiliki masalah antara jadwal sekolah dengan jadwal perawatan. Pasien lain punya masalah soal caretaker dan anak yang ditinggalkan.

“Saya ada satu pasien kanker berusia 31 tahun yang sudah parah, punya anak usia 9 dan 7 tahun yang di-bully di sekolah. Untuk kasus ini, kami bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mereka. Kalau tidak ada jasa kami, anak-anak seperti mereka bisa terlupakan,” kata Eileen.

Dia berharap semakin banyak negara di Asia yang fokus pada pendekatan holistik seperti ini.

“Saya rasa selama ini kita terlalu fokus pada praktek dan perawatan yang mana memang dibutuhkan. Tapi dengan keberhasilan kita (di bidang kanker), kini saatnya memastikan pasien muda minim rasa sakit, minim post-traumatic stress disorder, punya kesehatan baik secara umum, bisa diterima di komunitas, dan mencapai potensi terbaiknya apa pun itu,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Tengah Ancaman WW3, Indonesia Harus Pimpin Dialog
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
PPLI & LAZNAS Al-Azhar Kritik Penggunaan Detergen dengan Busa Melimpah
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Fariz RM Umumkan Hijrah Total, Akui Sudah Setahun Tak Gunakan Ponsel
• 15 jam lalugrid.id
thumb
RI Siap Ekspor Beras ke Malaysia hingga Papua Nugini
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji
• 12 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.