Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026. Pelemahan terjadi sejak awal perdagangan pagi di tengah sentimen global yang masih berfluktuasi.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.893 per dolar AS. Posisi ini melemah tujuh poin atau sekitar 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.886 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS terpantau menguat sebesar 0,17 persen ke posisi 99,39.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Pelemahan terdalam terjadi pada peso Filipina yang turun 0,44 persen, diikuti ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,24 persen.
Selain itu, rupee India tercatat melemah 0,20 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,04 persen. Dolar Taiwan juga melemah 0,10 persen, sementara yuan China terkoreksi tipis sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat menguat 0,19 persen, sedangkan baht Thailand naik 0,09 persen. Sementara itu, won Korea Selatan terpantau stagnan terhadap dolar AS.
Sebelumnya pada perdagangan pagi, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS. Pada awal sesi perdagangan, rupiah sempat terdepresiasi 0,14 persen atau sekitar 23 poin ke posisi Rp16.886 per dolar AS, sementara indeks dolar AS naik tipis 0,05 persen ke level 98,87.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen global yang masih berfluktuasi, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Menurut dia, sentimen pasar mulai membaik dalam beberapa jam terakhir seiring indeks dolar AS yang kembali melemah sehingga mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Meski demikian, Lukman menilai pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen global. Pasalnya, tidak ada rilis data ekonomi domestik yang signifikan dalam waktu dekat.
Dari Amerika Serikat, pasar menantikan sejumlah data ekonomi penting, seperti revisi kedua Produk Domestik Bruto (PDB), data lowongan pekerjaan JOLTS, serta survei awal sentimen konsumen.
“Pergerakan rupiah ke depan masih berkisar di antara Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS,” ujar Lukman.
Editor: Redaksi TVRINews





