JAKARTA, KOMPAS - Google mengklaim agentic AI atau kecerdasan buatan lanjutan yang beroperasi secara otonom bakal menjadi babak selanjutnya yang dihadapi industri iklan. Sebab, inovasi agentic AI semakin canggih dan mampu berperan sebagai mitra personal yang membantu mengelola seluruh siklus kampanye iklan.
Vice President Global Ads Google, Dan Taylor, dalam sesi diskusi daring bersama wartawan se-Asia Pasifik, Kamis (12/3/2026), di Jakarta, menyampaikan hal itu. Meski masih berada pada tahap inovasi awal, Google melihat agentic AI berpotensi menjadi aset besar bagi pebisnis, pengiklan, ataupun konsumen. Agentic AI bisa membantu melahirkan inspirasi, mempersempit pilihan, dan mempermudah pengambilan keputusan.
Pada 2025, Google meluncurkan Ads Advisor dan Analytics Advisor, yaitu agentic AI yang disematkan dalam produk Google Ads (iklan Google) dan Google Analytics (alat yang memberikan wawasan mendalam (insight) tentang sumber pengunjung, konten populer, dan konversi untuk mengoptimalkan strategi pemasaran digital). Namun, dua agentic AI itu masih diperuntukkan bagi pengiklan berbahasa Inggris.
Didukung oleh Gemini (kecerdasan buatan generatif milik Google), kedua agentic AI itu berperan sebagai mitra personal yang membantu mengelola seluruh siklus kampanye iklan. Pengiklan juga dapat meminta keduanya untuk merekomendasikan langkah apa saja untuk mendongkrak performa iklan.
Masih terkait Gemini, Taylor menceritakan, dalam kurun 12 bulan, Google menghadirkan lonjakan inovasi yang berpuncak pada peluncuran Gemini 3, model kecerdasan buatan terbaru sekaligus paling canggih yang dikembangkan perusahaan tersebut. Kecepatan inovasi ini hasil tim riset di Google DeepMind.
Gemini kini menjadi fondasi bagi berbagai layanan Google, mulai dari Search, Maps, YouTube, serta solusi periklanan perusahaan. Dengan integrasi tersebut, dia mengklaim, teknologi AI generatif mereka itu kini telah menjangkau hampir setengah populasi dunia.
Taylor meyakini, Google Gemini akan mampu mendorong kreativitas pengiklan ke level lanjut. Saat ini, sudah banyak para pelaku pemasaran memanfaatkan berbagai alat berbasis AI untuk menghasilkan iklan yang menarik, kreatif berskala besar, dan berkreasi tanpa terkendala waktu ataupun anggaran iklan.
Gemini juga memungkinkan pengiklan untuk menyajikan iklan yang relevan secara personal yang memenuhi kebutuhan konsumen. Selama dua tahun terakhir, Google juga telah melakukan peningkatan pemahaman kueri berbasis Gemini dengan intensitas hampir satu peluncuran setiap bulannya.
”Sejumlah pengiklan menggunakan alat-alat AI untuk menghasilkan materi iklan yang menarik dalam skala yang sangat besar, yang mana itu semua adalah mustahil dari segi waktu dan anggaran beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2025, kami melihat peningkatan tiga kali lipat jumlah aset kreatif yang dihasilkan pengiklan menggunakan Gemini,” ucap dia.
Taylor lantas mencontohkan, merek furnitur Singapura yaitu Castlery bermitra dengan Google untuk menghasilkan materi kreatif iklan menggunakan rangkaian alat AI generatif terbaru Google, seperti VO, Imagine, dan NanoBanana Pro. Karena memanfaatkan alat tersebut, Castlery mampu mengurangi biaya produksi sebesar 60 persen.
Ketika ditanya Kompas mengenai seberapa efisien pemakaian alat-alat berbasis AI untuk produksi iklan, Taylor hanya menjelaskan bahwa Google pernah melakukan studi bersama Boston Consulting Group pada 2025.
Salah satu temuan penting yaitu pelaku pemasaran yang mengintegrasikan alat-alat berbasis AI ke dalam alur kerja bisa membukukan pertumbuhan pendapatan 60 persen lebih tinggi daripada pemasar yang tidak memanfaatkan AI.
Taylor menambahkan, dia percaya teknologi AI tidak akan menggantikan pemasar, tetapi pemasar yang mampu memanfaatkan AI secara efektif berpotensi menggantikan mereka yang tidak menggunakannya. AI memberi peluang bagi pemasar untuk memperluas kreativitas produksi iklan sehingga mereka dapat lebih fokus pada strategi periklanan.
Mengutip CNBC, pada Februari 2026, CEO Google Sundar Pichai juga mengungkapkan bahwa aplikasi Gemini kini memiliki lebih dari 750 juta pengguna aktif bulanan, meningkat dari 650 juta pada triwulan sebelumnya. Efisiensi operasional Gemini terus ditingkatkan.
Secara kinerja keuangan triwulan IV-2025, pendapatan Alphabet selaku induk Google tumbuh hampir 18 persen secara tahunan dan laba bersih mencapai 34,46 miliar dolar AS, naik hampir 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan iklan mencapai 82,28 miliar dolar AS (naik 13,5 persen), sedangkan iklan YouTube tumbuh hampir 9 persen menjadi 11,38 miliar dolar AS.
Ketua Badan Pengawas Periklanan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, Susilo Dwi Hatmanto, saat dihubungi terpisah, mengatakan, kehadiran AI dalam industri periklanan menjadi tantangan baru karena belum sepenuhnya diatur dalam regulasi yang ada.
Kitab Etika Pariwara Indonesia (EPI) terakhir diamandemen pada 2020 yang mana saat itu teknologi AI belum berkembang seperti sekarang. P3I berencana membahas kembali amandemen aturan tersebut bersama asosiasi lain di ekosistem industri periklanan.
Isu utama yang perlu diatur adalah etika dan hak kekayaan intelektual. AI berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, seperti penggunaan wajah yang menyerupai seseorang tanpa izin, serta kemiripan ide dan cerita iklan dengan karya yang sudah ada. Tanpa aturan yang jelas, pelaku industri bisa saja beralasan bahwa kemiripan tersebut merupakan hasil AI, bukan peniruan.
”Di sisi lain, kemajuan AI juga memunculkan kekhawatiran di kalangan agensi iklan beserta para pekerjanya. Sebab, beberapa proses produksi dapat dilakukan lebih murah dan cepat dengan teknologi tersebut,” kata Susilo.
Perusahaan raksasa teknologi lain, seperti, Meta, Tiktok, Snap dan Pinterest, diketahui sudah ikut berinvestasi lebih banyak dalam alat AI dan mesin pembelajaran. Tujuannya untuk menarik pengiklan di pasar iklan yang sangat kompetitif.
Meta secara khusus telah mengumumkan rencana mengotomasikan seluruh proses produksi dan distribusi konten iklan di platformnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan pada akhir 2026. Dengan strategi itu, pemilik merek cukup menyetor informasi produk beserta anggaran yang disediakan.
Ketua Ikatan Rumah Produksi Iklan Indonesia (IRPII) Ari Uno menceritakan, dalam satu dekade terakhir, industri rumah produksi (PH) iklan mengalami disrupsi teknologi yang cukup signifikan.
Dampak langsung teknologi AI terhadap PH iklan di Indonesia belum sepenuhnya terasa secara merata. Akan tetapi, tren global menunjukkan, adopsi AI dalam industri kreatif akan terus meningkat dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Oleh karena itu, penting bagi pelaku industri bersikap proaktif dengan cara lekas beradaptasi (Kompas.id, 13/6/2025).





