JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena "krisis ojol' alias sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) pada jam-jam sibuk, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa, ternyata berakar pada persoalan tarif yang dinilai tidak sepadan.
Yanto (42), seorang driver yang kerap mangkal di wilayah Palmerah, Jakarta Barat, membenarkan bahwa sejumlah pengemudi ojol memang sengaja mematikan aplikasi (off bid) pada jam-jam rawan kemacetan tersebut.
"Kalau jam pulang kantor di Jakarta, macetnya kan ampun-ampunan. Jarak yang biasanya ditempuh 15 menit, bisa jadi 40 menit, sejam. Nah, masalahnya argonya enggak naik, segitu-gitu aja. Waktu kita kebuang, bensin abis," ungkap Yanto saat ditemui Kompas.com di Palmerah, Kamis (12/3/2026).
Baca juga: Berdagang Pakaian dari Mobil, Aktivitas Pasar Tasik Curi Perhatian Turis Asing
Yanto menyebut, dirinya sering mematikan aplikasi dari pukul 16.00 hingga waktu Maghrib, terutama selama Ramadhan ini.
"Pendapatan harian malah cenderung turun karena kita milih off bid jelang buka (puasa), daripada kejebak macet di jalan," ucapnya.
Sebagai gantinya, ia akan memaksimalkan pekerjaannya saat siang dan malam hari hingga waktu sahur.
Waktu Jemput Tak TerbayarKeluhan serupa juga datang dari Fajri, seorang driver yang sudah mengaspal sejak 2020 di area Jakarta Barat.
Ia menyoroti kekurangan sistem tarif yang tidak memperhitungkan waktu dan jarak jemput di tengah kemacetan.
"Sementara kan kita yang dibayar ya itu cuma dari tempat si customer ke tujuannya. Dari pangkalan buat nyamperin dia ke tempat titik jemput, itu kan kena macet juga tapi enggak masuk argo tuh, enggak masuk hitungan," keluh Fajri.
Fajri juga menyoroti sistem alokasi orderan yang kerap melempar driver ke titik jemput yang jauh, padahal di dekat penumpang tersebut sebenarnya ada driver lain.
Baca juga: Mobil Berdebu Parkir Sembarangan di Jalan Tangerang, Pengendara Susah Putar Balik
Hal ini kerap berujung pada pembatalan oleh penumpang yang tidak sabar menunggu, yang ironisnya justru menurunkan performa akun sang driver.
"Saya pernah dapet jauh, saya mau jemput, saya bilang 'sabar ya ditunggu'. Terus malah di-cancel sama penumpang. Tetap saya yang turun ratingnya gitu," jelasnya.
Sistem ini pun dianggap aneh dan membuat beberapa rekan sesama driver mulai beralih menawarkan jasa ojek tanpa aplikasi di area perkantoran pada jam-jam sibuk.
Di sisi lain, potongan aplikasi yang mencapai 20 persen per perjalanan pun dirasa sangat mencekik.
"Jemputnya kena macet, nganternya kena macet, argonya Rp 15 ribu, kita dapatnya cuman Rp 10 ribu karena potongan gitu. Jadi ya berasa juga gitu, akhirnya kan malas kita jadinya," kata Fajri.





