REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Militer Iran mengumumkan gelombang serangan pesawat nirawak (drone) pada Kamis (12/3/2026) yang menargetkan situs-situs militer dan keamanan strategis Israel.
Al Mayadeen melaporkan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam bahwa Teheran mengonfirmasi drone tempur mereka berhasil menghantam menara pengawas di Pangkalan Udara Palmachim dekat Tel Aviv. Fasilitas ini merupakan instalasi vital yang digunakan Zionis untuk peluncuran satelit, pengujian rudal, serta markas bagi sistem pertahanan udara David’s Sling dan unit UAV Hermes 900.
Baca Juga
Lailatul Qadar dan Peak Performance Spiritual Manusia
Serangan Balasan Iran Picu Krisis Bersejarah Pasar Minyak Global
El Nino Mengintai, Balai Dalkarhut Giatkan Pencegahan Karhutla
Selain Palmachim, kekuatan udara Iran juga menyasar Pangkalan Udara Ovda, pusat pelatihan strategis Angkatan Udara Israel yang sebelumnya pernah menampung jet tempur F-22 milik Amerika Serikat (AS).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Serangan paling mencolok juga diarahkan ke markas besar Shin Bet yang selama ini dikenal sebagai badan keamanan internal Israel. Fasilitas tersebut berfungsi sebagai pusat kendali operasional yang bertanggung jawab atas intelijen domestik, perlindungan pejabat tinggi, dan keamanan infrastruktur kritis di seluruh wilayah pendudukan.
Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026). - (Reuters)
Sinergi Iran dan Hizbullah
Pada Rabu malam, IRGC mengumumkan peluncuran Gelombang ke-40 dari Operasi Janji Setia 4 (Operation True Promise 4). Operasi dengan sandi "Ya Amir al-Mu'minin" ini mencatat sejarah baru karena dilakukan melalui koordinasi langsung dengan perlawanan Islam di Lebanon, Hizbullah.
IRGC mengerahkan rudal-rudal balistik canggih seperti Qadr, Emad, Kheibar-Shekan, dan rudal hipersonik Fattah ke lebih dari 50 target di Tel Aviv, Al-Quds (Yerusalem), dan Haifa. Serangan ini juga menjangkau pangkalan militer AS di kawasan, termasuk Pangkalan Udara Al-Azraq dan Al-Kharj.