Emiten Grup Bakrie–Salim PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memulai babak baru dengan mengganti logo perusahaan hingga bicara soal pembagian dividen kepada pemegang saham.
Chief Corporate Affairs Officer Bumi Resources, Christopher K Fong mengatakan, logo baru tersebut mencerminkan transformasi perusahaan dari yang sebelumnya berfokus sebagai produsen batu bara menjadi perusahaan sumber daya alam yang lebih terdiversifikasi.
Ia mengatakan, BUMI kini tengah memperluas portofolio bisnisnya ke sejumlah mineral bernilai tinggi seperti emas, tembaga, dan bauksit. Emiten tambang itu juga mengembangkan kegiatan pengolahan hilir serta memperkuat inisiatif keberlanjutan jangka panjang.
Christopher menjelaskan, desain logo baru tersebut terinspirasi dari garis kontur topografi yang melambangkan keterkaitan perusahaan dengan alam hingga pengelolaan sumber daya. Sementara itu, garis hijau yang mengalir menggambarkan semangat pembaruan dan keberlanjutan. Adapun tipografi khusus mencerminkan inovasi dan ambisi global perusahaan.
“Identitas baru ini akan diterapkan secara bertahap di seluruh komunikasi korporat, lokasi operasional, platform digital, dan materi investor sepanjang 2026,” ucap Christopher di Jakarta, Kamis (12/3).
Terkait aksi korporasi terbaru, Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources, Renno Wicaksono mengatakan, perseroan pada akhir 2025 lalu telah merampungkan akuisisi aset di Queensland Utara, Australia, yakni Jubilee Metals Limited.
Menurutnya, fokus perusahaan saat ini adalah memastikan aset-aset tersebut dapat segera beroperasi secara optimal. BUMI kini menekankan terhadap sisi operasional perusahaan agar aset yang baru diakuisisi tersebut dapat mulai berproduksi dan mencapai target yang telah ditetapkan.
Terkait pembagian dividen kepada pemegang saham, Renno mengatakan pihaknya belum bisa mengumumkannya saat ini. “Kami sampaikan bahwa kami belum mengumumkan hal tersebut (dividen) saat ini belum ada keputusan ke arah sana,” kata Renno.
Adapun BUMI mencatatkan penurunan laba bersih 76,1% secara tahunan atau menjadi US$ 29,4 juta hingga kuartal III 2025. Padahal, pendapatan emiten pertambangan batu bara itu meningkat 11,9% secara tahunan menjadi US$1,03 miliar hingga September 2025.
Kendati demikian, perusahaan resmi menyelesaikan aksi korporasi kuasi reorganisasi pada Juni 2025 setelah mendapat restu OJK dan pemegang saham. Langkah ini bertujuan menghapus defisit saldo laba (akumulasi kerugian masa lalu) dengan menggunakan saldo agio saham.
Tujuannya adalah menyehatkan struktur modal, menghilangkan beban defisit, dan meningkatkan potensi pembagian dividen kedepannya.
Adapun berdasarkam laporan bulanan registrasi pemegang efek per 10 Maret 2026, pemegang saham BUMI tercatat mencapai 586.931 investor. Angka itu naik 36.125 dari bulan sebelumnya tercatat 550.806 invesor.




