Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia bergerak fluktuatif di tengah sikap pelaku pasar yang bersiap menghadapi gejolak lanjutan setelah Iran menegaskan akan tetap menutup Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (13/3/2026), harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Mei turun 0,4% menjadi US$100,09 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melemah 0,5% ke level US$95,27 per barel.
Harga minyak Brent berfluktuasi setelah melonjak 9,2% pada sesi sebelumnya. WTI juga bertahan di sekitar US$95 per barel setelah mengalami pergerakan harga yang sangat tajam sepanjang pekan ini.
Dalam komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan bahwa Republik Islam tersebut akan memastikan jalur vital bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam tetap tertutup.
Dalam upaya tambahan meredam lonjakan harga energi, Amerika Serikat memberikan keringanan sementara kedua untuk pembelian minyak dari Rusia. Kebijakan terbaru ini berlaku untuk minyak mentah yang telah dimuat ke kapal sebelum 12 Maret, dan cakupannya lebih luas dibandingkan kebijakan awal bulan ini yang hanya mengizinkan India meningkatkan pembelian.
Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa gangguan pasokan saat ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Peringatan itu disampaikan sehari setelah negara-negara anggota sepakat melakukan pelepasan cadangan minyak darurat dalam jumlah besar untuk meredam kenaikan harga.
Baca Juga
- Mojtaba Khamenei Tolak Buka Selat Hormuz, Siap Buka Medan Perang Baru
- Bahlil Lapor Prabowo soal Selat Hormuz, Cari Alternatif Minyak dari Nigeria-Australia
- Krisis Selat Hormuz, Purbaya Waspadai 3 Jalur Transmisi ke Ekonomi RI
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan sikap tegas terkait konflik yang tengah berlangsung di Iran, yang kini mendekati pekan ketiga. Pernyataan tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi pasar energi yang tengah diliputi ketidakpastian.
Hampir terhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit di antara Iran dan Semenanjung Arab, telah menghambat pengiriman minyak mentah, gas alam, serta produk energi seperti diesel ke berbagai negara. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi krisis inflasi yang mulai menekan sejumlah perekonomian.
Analis pasar senior di Sparta Commodities Philip Jones-Lux mengatakan, peristiwa ini merupakan gangguan pasokan minyak paling signifikan sejak krisis energi pada dekade 1970-an.
Menurutnya, pelepasan cadangan minyak oleh IEA dapat membantu menahan harga agar tidak melonjak ke level yang sangat tinggi, meskipun dampaknya kemungkinan hanya bersifat sementara.
Sementara itu, laporan The New York Times yang mengutip pejabat AS menyebutkan Iran telah mulai menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz. Langkah tersebut membuat pelayaran melalui jalur tersebut semakin berisiko. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lalu lintas kapal di kawasan itu menurun drastis.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mulai mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada akhir Maret. Namun, klaim sebelumnya di media sosial mengenai keberhasilan pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS kemudian ditarik kembali oleh Gedung Putih.
Presiden Foreign Policy Research Institute Aaron Stein menilai operasi pembersihan ranjau di tengah konflik aktif hampir tidak mungkin dilakukan tanpa risiko besar.
“Pembersihan ranjau saat pertempuran berlangsung tidak dapat dilakukan tanpa risiko. Angkatan Laut juga kemungkinan enggan memasuki selat tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, risiko yang dihadapi pelayaran internasional saat ini sangat tinggi dan opsi yang dimiliki AS belum tentu mampu mengatasinya.
Sepanjang pekan ini, harga WTI bergerak dalam rentang sekitar US$43—terlebar sejak masa awal pandemi ketika harga minyak sempat jatuh ke level negatif.
Sementara itu, Brent berfluktuasi dalam kisaran sekitar US$38, dengan volatilitas diperparah oleh arus dana dari pasar opsi hingga exchange traded funds (ETF).
Volatilitas tersebut diperkirakan masih berlanjut mengingat belum ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir. Dalam unggahan media sosial pada Kamis (12/3/2026), Trump menegaskan mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan menjadi ancaman bagi Timur Tengah jauh lebih penting baginya dibandingkan dampak kenaikan harga minyak.





