Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 100 gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bisa rampung dalam 2 tahun mendatang. Hal ini seiring dengan transformasi kepada energi baru terbarukan (EBT).
Prabowo menilai, berbagai skenario dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian nasional memang harus disiapkan, yang sekaligus dapat mempercepat agenda transformasi termasuk mencapai swasembada energi.
"Menurut saya krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya. Dari dulu kita ingin swasembada pangan swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ. Tapi sekarang akan mempercepat," ungkapnya saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3).
Prabowo menuturkan, konflik global juga memaksa Indonesia mempercepat optimalisasi sumber daya yang melimpah di dalam negeri untuk kebutuhan energi. Misalnya kelapa sawit bisa menjadi campuran BBM solar dan tebu hingga singkong untuk campuran bensin.
Selanjutnya, Indonesia juga memiliki sumber daya panas bumi (geothermal) yang melimpah dan aliran sungai yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Sama halnya dengan sinar matahari.
"Kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya, yang kita rencananya kita akan melakukan 100 gigawatt yang kita targetkan harus selesai dalam 2 tahun yang akan datang ini. 100 Gigawatt itu adalah 100.000 Megawatt," tegas Prabowo.
Untuk membangun PLTS 100 GW itu, lanjut Prabowo, berarti membutuhkan lahan 100.000 hektare. Menurutnya, hal tersebut bukan masalah karena berdasarkan pemetaan Kementerian ATR/BPN, lahan yang tersedia di Jawa Barat saja mencapai 67.000 hektare.
"Jawa Barat saja kita punya 67.000 hektar lahan ya tentunya kita harus lihat nanti kegunaannya ya. Di Jawa saja, BUMN kita Perhutani punya 800.000 hektare yang bisa kita gunakan," jelasnya.
Selain EBT, Prabowo juga menginginkan akselerasi produksi gas bumi dari Blok Masela dan Blok Andaman yang akan segera berproduksi. Selain itu, dia juga menargetkan ada penemuan migas lain di wilayah Papua, serta pembangunan jaringan gas terintegrasi dari Aceh hingga ke Jawa.
"Ya sekarang krisisnya adalah tadi ya 12 bulan ini kita lihat, tapi saya kira kekuatan kita cukup besar," kata Prabowo.





