JAKARTA, KOMPAS.TV - Bulan Ramadan memasuki fase paling istimewa, yakni sepuluh malam terakhir. Pada periode ini, umat Islam dianjurkan semakin meningkatkan ibadah karena Ramadan akan segera berakhir sekaligus menjadi waktu yang paling berpeluang menghadirkan lailatul qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Secara umum, Ramadan sering dipahami memiliki tiga fase utama. Sepuluh hari pertama dikenal sebagai fase rahmat atau kasih sayang Allah. Sepuluh hari kedua merupakan fase maghfirah, yakni ampunan dari Allah SWT. Sementara sepuluh hari terakhir dipandang sebagai fase pembebasan dari api neraka.
Mengutip NU Online, tidak heran jika periode terakhir Ramadan menjadi waktu yang sangat istimewa. Bahkan, Rasulullah SAW memberi teladan khusus bagaimana memaksimalkan ibadah pada malam-malam tersebut.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
ن رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر مالايجتهد فى غيره
Artinya:
“Bahwa Rasulullah saw meningkatkan kesungguhan (ibadahnya) di sepuluh terakhir (bulan Ramadan) yang tidak dilakukan pada hari-hari sebelumnya.” (HR Muslim)
Baca Juga: AS Klaim Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Terluka dan Kemungkinan Cacat Akibat Serangan
Mengacu pada penjelasan yang dilansir dari Nahdlatul Ulama melalui laman NU Online, ada sejumlah amalan yang dianjurkan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan.
1. Memperbanyak Qiyamul Lail
Salah satu amalan utama yang dianjurkan pada sepuluh malam terakhir adalah qiyamul lail atau menghidupkan malam dengan ibadah.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Kesungguhan ibadah ini bahkan lebih ditingkatkan dibanding hari-hari sebelumnya.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya:
“Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, ‘Pada 20 hari pertama bulan Ramadan, Nabi saw biasa mengombinasikan antara salat, puasa, dan tidur. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya.’” (HR Ahmad)
Ungkapan “mengencangkan sarung” dalam hadis tersebut merupakan kiasan yang menunjukkan bahwa Rasulullah semakin fokus beribadah dan mengurangi aktivitas lain.
2. Mengajak Keluarga Menghidupkan Malam
Rasulullah tidak hanya meningkatkan ibadah pribadi, tetapi juga mengajak keluarga untuk beribadah bersama.
Hal ini tercermin dalam hadis berikut:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya:
“Jika telah datang 10 hari terakhir bulan Ramadan, Nabi saw mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Tradisi ini menunjukkan bahwa ibadah Ramadan tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga bisa menjadi momentum spiritual bersama keluarga.
3. Memperbanyak I’tikaf
Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan tujuan beribadah. Selama i’tikaf, umat Islam dianjurkan memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa.
Hal ini sesuai dengan hadis berikut:
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- lailatul qadar
- amalan ramadan
- malam ramadan
- qiyamul lail
- doa ampunan
- ibadah malam





