jpnn.com - Momentum Hari Al-Quds Internasional tahun ini menjadi panggung kecaman keras terhadap meluasnya eskalasi militer di Timur Tengah. Dalam pernyataan resminya, elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti-Zionis (ANAZ) menegaskan bahwa Al-Quds bukan sekadar isu regional, melainkan kompas moral global yang menentukan batas antara kemanusiaan dan kebiadaban.
Hari Al-Quds Internasional diperingati setiap tahun sebagai bentuk dukungan global terhadap kemerdekaan dan perlawanan terhadap pendudukan di Palestina.
BACA JUGA: Politikus PDIP Tegaskan Prabowo Harus Minta Izin DPR sebelum Kirim TNI ke Gaza
ANAZ menuntut penghentian segera praktik pembersihan etnis (ethnic cleansing) di Jalur Gaza serta pencabutan blokade total yang telah menjadikan kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga sipil.
Poin paling tajam dalam pernyataan tahun ini adalah tudingan langsung terhadap peran Amerika Serikat. Washington dinilai bukan sekadar pendukung, melainkan otak di balik setiap tetes darah yang tumpah di kawasan tersebut.
BACA JUGA: Korupsi Kuota Haji Menjerat Gus Yaqut, KPK Sita Aset Lebih Rp 100 M
"Tanpa dukungan militer masif dan perlindungan politik dari Washington, rezim pendudukan tidak akan mampu melanjutkan kejahatan kemanusiaan ini. Amerika Serikat memikul tanggung jawab penuh atas krisis di Palestina, Iran, Lebanon, hingga Yaman," kata Juru Bicara cum Kepala Humas ANAZ Mukhlisin Turkan dalam siaran pers, dikutip Jumat (13/3/2026).
Menurut Mukhlisin, suasana duka dan amarah juga mewarnai peringatan Hari Al-Quds tahun ini menyusul gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, akibat agresi militer Amerika Serikat. Tindakan tersebut dinilai sebagai deklarasi perang terhadap seluruh umat Islam dan para pejuang kemerdekaan di seluruh dunia.
BACA JUGA: Korupsi Kuota Haji, KPK Ungkap Surat Fuad Hasan kepada Gus Yaqut
Meski kehilangan tokoh sentral, koalisi mengapresiasi konsistensi Republik Islam Iran yang sejak era Imam Khomeini terus menjaga api perjuangan Al-Quds sebagai pilar persatuan bagi kaum tertindas (Mustad’afin).
Menanggapi agresi militer yang kini merambah kedaulatan Lebanon dan Yaman, koalisi menyatakan solidaritas penuh bagi rakyat di kedua negara tersebut. Mereka menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon dan Yaman adalah serangan terhadap martabat seluruh umat Islam yang berdiri membela Palestina.
"Kami mengutuk eskalasi brutal ini. Upaya aneksasi di Tepi Barat dan penghapusan identitas Palestina di Al-Quds Timur adalah proyek ilegal yang harus dihentikan oleh komunitas internasional secara kolektif," ucapnya.
Koalisi juga mengajak masyarakat memperkuat tekanan ekonomi melalui gerakan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan entitas pendudukan. Serta, mengecam segala upaya normalisasi melalui forum-forum internasional seperti Board of Peace, yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai keadilan.
Berikut Pernyataan Siikap ANAZ di Hari Al-Quds 2026:
1. MENUNTUT penghentian segera pembersihan etnis (ethnic cleansing) di Gaza dan pencabutan segala bentuk blokade bantuan serta pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Dunia tidak boleh diam melihat kelaparan dan pembantaian yang dijadikan senjata perangoleh entitas pendudukan untuk membatai sipil.
2. MENOLAK KERAS rencana perluasan operasi militer di Jalur Gaza serta percepatan pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) Timur yang bertujuan untuk menghapus identitas Palestina secara permanen.
3. Kami menegaskan kembali bahwa segala bentuk upaya normalisasi dengan otoritas pendudukan, termasuk melalui forum-forum internasional yang mengabaikan hak kemerdekaan Palestina, termasuk Board of Peace, hal ini adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan.
4. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat solidaritas, baik melalui bantuan kemanusiaan, dukungan media digital, maupun gerakan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan entitas pendudukan sebagai bentuk tekanan ekonomi yang nyata.
5. Kami menyatakan solidaritas dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Republik Islam Iran yang secara konsisten menjaga api perjuangan Hari Al-Quds sejak dicetuskan oleh Imam Khomeini. Kami menganggap kekuatan solidaritas yang digalang oleh Iran adalah pilar penting bagi persatuan umat Islam dan kaum tertindas (Mustad’afin) di seluruh dunia.
6. MENGUTUK DENGAN SEKERAS-KERASNYA agresi pengecut dan biadab yang dilakukan oleh Amerika Serikat yang telah menyebabkan gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Tindakan ini bukan sekadar serangan terhadap satu tokoh atau satu negara, melainkan deklarasi perang terhadap seluruh umat Islam dan para pejuang kemerdekaan di seluruh dunia.
7. MENGUTUK KERAS eskalasi militer rezim Zionis dan sekutunya yang kini meluas secara brutal ke kedaulatan Lebanon dan Yaman. Kami menegaskan solidaritas penuh bagi rakyat Lebanon dan Yaman yang berdiri teguh sebagai benteng pembela Palestina; serangan terhadap mereka adalah serangan terhadap seluruh martabat umat Islam.
8. Kami menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah otak dan penyokong utama di balik setiap tetes darah yang tertumpah di Palestina, Iran, Lebanon, dan Yaman. Tanpa dukungan militer dan perlindungan politik dari Washington, israel tidak akan mampu melanjutkan kejahatan kemanusiaan ini.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam



