Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan operasional layanan Transjabodetabek rute SH2 Blok M–Bandara Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (12/3).
Rute baru ini diharapkan menjadi alternatif transportasi publik menuju bandara sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
“Hari ini kita memulai sesuatu yang baru yang ditunggu oleh masyarakat, yaitu meresmikan layanan Transjabodetabek SH2 Blok M–Bandara Soekarno-Hatta. Trayek ini adalah trayek yang ditunggu oleh banyak orang,” kata Pramono di Terminal Blok M, Jakarta Selatan.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan tarif promo Rp 3.500 untuk rute tersebut selama tiga bulan pertama operasional. Kebijakan ini diberlakukan sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum, terutama menjelang arus mudik Idul Fitri.
“Seperti kita ketahui, tadi saya sudah menyampaikan untuk rute SH2 Blok M ini Pemerintah DKI Jakarta sudah memutuskan selama tiga bulan, terutama dalam rangka menyambut Idul Fitri, kami akan menetapkan tarifnya tetap Rp 3.500 selama tiga bulan ini,” ungkap Pramono.
Setelah itu, pihaknya akan mengevaluasi tarif yang nantinya diputuskan dalam rentang harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000.
“Setelah itu kami akan melakukan evaluasi, karena memang bebannya terlalu berat dan juga subsidinya terlalu besar. Kami akan menaikkan angkanya, rentangnya antara Rp 10.000 sampai dengan Rp 15.000. Kami akan putuskan setelah memberikan tiket ataupun rute dengan harga Rp 3.500 selama tiga bulan,” kata dia.
Menurut Pramono, keberadaan rute tersebut penting karena mayoritas penumpang bandara masih menggunakan kendaraan pribadi.
“Kita tahu bersama bahwa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ketika mereka akan bepergian menggunakan airport itu antara 70 sampai 80 persen menggunakan kendaraan pribadi. Dan dari data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, serta laporan dari lapangan, yang menggunakan transportasi atau menggunakan bandara kita itu kurang lebih 54,9 juta setiap tahunnya,” ungkap Pramono.
“Angkanya adalah angka signifikan, sehingga dengan demikian kalau 70 sampai 80 persen dari 54,9 juta itu menggunakan transportasi pribadi pasti berpotensi menambah beban atau kemacetan di lapangan,” lanjutnya.
Pramono juga membandingkan tarif Transjabodetabek dengan moda transportasi lain yang saat ini melayani rute menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Pada tahap awal, Pemprov DKI menyiapkan 14 unit bus untuk melayani rute tersebut. Bus beroperasi mulai pukul 05.00 WIB hingga 22.00 WIB dengan waktu tunggu sekitar 10–20 menit.
“Jumlah bus yang akan dioperasikan adalah 14 bus, dari pukul 05.00 sampai 22.00. Sehingga dengan demikian waktu tunggunya antara 10 sampai dengan 20 menit. Dan kami memperkirakan dengan jumlah armada 14 tadi kemungkinan akan dilayani antara 1.900 sampai dengan 2.000 penumpang,” kata dia.
Pramono menilai antusiasme masyarakat terhadap layanan Transjabodetabek cukup tinggi, sebagaimana terlihat pada rute lain yang sudah lebih dulu beroperasi.
“Seperti ketika kita menargetkan untuk Transjabodetabek Blok M–Bogor yang waktu itu rencananya 2.000, sekarang hari libur itu sudah 8.500 lebih. Bahkan rata-ratanya sudah di atas 7.000. Sehingga dengan demikian kemanfaatan Transjabodetabek bagi warga Jakarta dan sekitarnya memang cukup tinggi,” tutup dia.





