Tidak hanya roda empat atau lebih, penjualan motor domestik ternyata ikut tumbuh positif. Data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), selama Februari lalu distribusi dari pabrik ke diler catatkan angka 587.354 unit.
Hasil itu menguat 1,66 persen dibanding Januari yang peroleh 577.763 unit, juga sedikit di atas 1,05 persen bila disandingkan dengan Februari 2025 yang hasilnya 581.277 unit. Sementara akumulasi sepanjang tahun ini telah menembus 1.165.177 unit.
Meningkat 2,06 persen dibanding periode yang sama (Year-on-Year/YoY) yakni Januari-Februari 2025 sejumlah 1.141.578 unit. Meski kini asosiasi tak lagi merinci kategori sepeda motor yang masih jadi favorit, namun segmen skutik dinilai tetap digemari.
Laporan terakhir AISI, skutik berkontribusi sebesar 91,7 persen dari total penjualan sepanjang 2025. Sisanya berasal dari motor underbone sebesar 4,46 persen, motor sport 3,51 persen, sementara kontribusi sepeda motor listrik masih berada di bawah 1 persen.
Menurut Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala sepeda motor masih menjadi moda transportasi paling efisien dan efektif bagi masyarakat untuk menunjang aktivitas ekonomi maupun kebutuhan mobilitas harian.
“Rata-rata per bulan penjualan sepeda motor domestik berada di angka 535 ribu unit. Ini menggambarkan sepeda motor memang sangat dibutuhkan, baik untuk kegiatan ekonomi produktif maupun untuk kebutuhan leisure dan gaya hidup masyarakat,” ujar Sigit dalam keterangan resmi AISI.
Ia menambahkan, pada awal 2025 AISI memproyeksikan penjualan sepeda motor domestik berada di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit. Realisasi penjualan yang tercapai dinilai masih sejalan dengan proyeksi tersebut, meski pertumbuhannya tidak terlalu besar.
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim capaian positif itu merupakan salah satu buah dari aktivitas ekonomi nasional yang berbalik menguat pada awal bulan ke-4 2025 dan tren tersebut berlanjut hingga tahun ini.
"Belanja masyarakat jelang bulan Ramadan tercermin dari Mandiri Spending Index yang mencapai 360,7 pada bulan Februari. Ini didorong dari konsumsi consumer goods, pendidikan, dan mobilitas, jadi ini trennya naik terus dan berlanjut," kata Purbaya saat konferensi pers APBN KiTA Februari 2026, Rabu (11/3).
Lebih lanjut, Menkeu menambahkan faktor lainnya adalah indeks keyakinan konsumen bertahan tinggi di atas 100. Menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat tetap optimis.
"Anda lihat lagi, indikator daya beli yang membaik antara lain dari industri otomotif yang melanjutkan tren positif dengan penjualan mobil tumbuh 2 digit pada bulan Februari 2026. Sepeda motor tetap stabil 1 persen dan mobil tumbuhnya 12 persen," bebernya.
"Itu melanjutkan tren penguatan sejak November dan Desember tahun lalu. Kalau dilihat di tahun 2025 itu cenderung bahkan positif terus sampai dengan September, November tahun lalu. Sekarang tetap positif. Jadi memang ada perbaikan real yang nyata dari daya beli masyarakat," tandas Purbaya.





