Juara Puisi Bercampur dengan Ilmu Filsafat Menyatu dalam Tubuh Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto

disway.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Muncul sebagai aktivis yang tak gentar menyuarakan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto, mau tidak mau profil dan background Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dikulik publik.

Sosoknya dikenal sebagai juara nasional puisi sewaktu ia belajar di PKBM Omah Dongeng Rakyat. 

Tak cukup sampai di situ, Tiyo lolos masuk UGM jalur UTBK dengan mengambil program studi (prodi) filsafat. 

Perjalanan hidup dan pendidikan Tiyo membuatnya menjadi sosok Tiyo yang saat ini dikenal sebagai aktivis pemberani dan vokal hingga berpikir kritis. 

BACA JUGA:Sudah Dihujani Teror Termasuk pada Ibunya, Ketua BEM Tiyo Ardianto Bilang Tak Berdampak Apa-Apa

Berbincang dalam podcast OWRITE dengan program Say It, Tiyo Ardianto ditanya mengapa sebagai jebolan juara puisi atau penyair kemudian belajar ilmu filsafat, bisa melahirkan sosok aktivis seperti Tiyo Ardianto. 

“Seorang presiden AS pernah berkata bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya,” katanya dalam kutipannya. 

Maka baginya, puisi bisa membuatnya memandang sesuatu dari sudut pandang berbeda. 

“Jadi puisi di sini bukan lagi sebuah benda menurut saya, tetapi cara kita memandang sesuatu, bahwa selalu akan ada keindahan yang kita usahakan, bahwa misalnya kita bicara soal orang baik tadi, orang baik di dunia ini kan seringnya, justru tidak mendapatkan apa-apa di dunia tapi tersisihkan, ketika kita melihat orang itu dalam kacamata bukan puisi mungkin kita akan sedih, mungkin kita akan memandang itu sebagai penindasan struktural tentu itu harus kita pikirkan. Tapi puisi membuat kita berpikir dengan cara yang lain. Bahwa orang baik itu tidak akan kalah,” jelasnya. 

BACA JUGA:Jebolan Juara Puisi Tingkat Nasional, Indahnya Karya Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ‘Sesudahnya, Jadilah Manusia’

Puisi mengajarkannya melihat sesuatu dengan cara yang lain. 

Dan ilmu filsafat yang menjadi prodinya, kata dia,  itu menjadi bekal untuk dirinya berpikir kritis.

“Puisi membuat saya melihat dari sudut berbeda, sementara filsafat membuat saya menunda kebenaran, membuat saya tidak puas pada kenyataan, sehingga terus menerus berpikir kritis, dua hal itu yang membuat hari ini menjadi terjadi,” jelasnya. . 

“Jadi puisi, filsafat, ketemu di dalam tubuh yang bernama Tiyo, yang hari ini menjadi ketua BEM, melihat berbagai persoalan, dan kemudian bersikap,” ucapnya. 

BACA JUGA:Siapa Ayah Ideologis Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diungkap, Bukan Ajak ke Warnet tapi Diskusi Filsafat

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Guru yang Tidak Bisa Membaca
• 17 jam laluerabaru.net
thumb
Tiba di Gedung KPK, Tersangka Yaqut Langsung Diperiksa Penyidik
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Waktu Buka Puasa Ramadhan 2026 di Jakarta Hari Ini 12 Maret
• 17 jam lalukompas.com
thumb
BPJPH Dorong Kolaborasi Internasional untuk Maksimalkan Potensi Industri Produk Halal Indonesia
• 16 jam lalupantau.com
thumb
KPK Ungkap Fee Atur Kuota Haji: Rp 84 Juta per Jemaah 2023, Rp 33 Juta di 2024
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.